Petani Garam Kesulitan Modal

berbagi di:
Jumrah, petani garam saat berada di pondok masak garam tradisional miliknya di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, kemarin. Foto: Yunus Atabara/VN

Jumrah, petani garam saat berada di pondok masak garam tradisional miliknya di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, kemarin. Foto: Yunus Atabara/VN

 

Yunus Atabara

Petani garam tradisional di Kabupaten Sikka, seperti di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura dan di Kampung Garam Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok mengaku kesulitan modal untuk kelangsungan dan pengembangan usaha mereka.

Keluhan tersebut diungkapkan petani garam di Nangahale dan Kampung Garam kepada VN, Minggu (18/11).

Mereka berharap intervensi pemerintah dalam hal bantuan modal, teknologi pengolahan garam dan juga kepastian akses pasar agar usaha mereka bisa lebih berkembang.

Jumrah (37), petani garam asal RT 06/RW 03 Blok D, Desa Nangahale, saat ditemui VN, kemarin, sedang memasak garam di pondok miliknya. Dia menuturkan bahwa petani garam tradisional di wilayah itu kesulitan memperoleh bahan baku. Selain sulitnya memperoleh bahan baku seperti garam kasar, memasuki musim hujan saat ini harga kayu api dan tempurung kelapa semakin mahal.

“Kalau musim hujan kayu api atau tempurung kelapa satu pick up bisa mencapai Rp 300 ribu. Garam kasar juga yang biasa kami beli dengan harga Rp 115 ribu per karung, naik menjadi Rp 175 sampai Rp 200 ribu per karung,” keluh Jumrah yang dibenarkan Jainudin (40), suaminya, yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan.

Kendati demikian, lanjut Jumrah, tidak membuat dirinya bersama puluhan petani garam lainnya patah semangat. Memasak garam secara tradisional dilakoninya tetap berjalan sekalipun untungnya sangat sedikit. Selain untuk mempertahankan agar asap tetap mengepul di dapur, juga untuk membiayai pendidikan anak-anak.

Jumrah menjelaskan, garam kasar yang dibelinya dari Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut kemudian dicampur air laut lalu dimasak kembali untuk diolah menjadi garam halus. Setelah menjadi garam halus, barulah dijual di Pasar Boru atau di Pasar Geliting seharga Rp 300 ribu per karung.

Jainudin menambahkan harga kayu api atau tempurung kelapa pada musim panas berkisar antara Rp 150 ribu hingga Rp 175 ribu untuk satu kendaraan pick up. Sedangkan pada saat musim hujan harga kayu api dan tempurung kelapa mulai naik dari Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu per satu pick up

Jumrah menuturkan bahwa aktivitas memasak garam sudah dilakoninya sejak 1993 silam, bersama 36 kepala keluarga petani garam lainnya. Namun mereka hanya memiliki sembilan pondok tempat masak garam yang digunakan secara bergantian sesuai kesepakatan di antara sesama petani garam.

Hal yang sama untuk petani garam di Kampung Garam yang tidak pernah mendapat perhatian pemerintah dalam mengembangkan produksi garam. Petani garam di wilayah itu mengeruk tanah endapan air laut kemudian disaring dengan air lalu dimasak menjadi garam.

“Setiap hari kami keruk tanah di parit lalu campur air laut disaring baru dimasak jadi garam. Kami lakukan seperti itu sudah puluhan tahun. Kami tinggal di tempat ini dan bertahan hidup hanya karena masak garam,” kisah Maria Gonda (60), salah satu petani garam.

Jumrah dan petani garam lainnya di Nangahale dan Kampung Garam mengharapkan pemerintah membantu sarana teknologi pengolahan garam demi peningkatan produksi, serta akses pemasaran yang pasti demi peningkatan ekonomi petani garam.
Belum Terdata
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi UKM Kabupaten Sikka, Lukman yang dihubungi VN, kemarin, mengaku masih banyak petani garam yang belum terdata. Selain karena keberadaan mereka terpencar, juga petani garam belum membentuk kelompok.

“Mereka belum terdata karena belum membentuk kelompok. Kalau sudah bentuk kelompok mereka bisa ajukan di desa untuk selanjutnya disampaikan ke dinas untuk dilakukan intervensi bantuan. Sekarang bantuan apapun harus melalui kelompok, tidak bisa per orang lagi,” kata Lukman.

Secara terpisah Wakil Ketua DPRD Sikka, Donatus David meminta pemerintah proaktif mendata segala potensi daerah, termasuk petani garam tradisional di Nangahale dan Kampung Garam. Dengan demikian bisa mendapatkan perhatian serius pemerintah.

“Pemerintah harusnya proaktif dan peka melihat potensi seperti orang masak garam untuk didata agar mendapat perhatian. Daripada kita datangkan garam dari luar, kenapa mereka tidak diberdayakan,” kata Donatus David. (nus/S-1)