Petugas Rutan dan Lapas Wajib Jaga Integritas

berbagi di:
Kepala Kantor Wilayah Hukum dan HAM Provinsi NTT Asep Syarifuddin berpose bersama pimpinan dan staf Rutan Klas IIB Soe dalam kunjungannya ke Soe, Rabu (13/2).Foto: Mutiara Malahere/VN

Kepala Kantor Wilayah Hukum dan HAM Provinsi NTT Asep Syarifuddin berpose bersama pimpinan dan staf Rutan Klas IIB Soe dalam kunjungannya ke Soe, Rabu (13/2).Foto: Mutiara Malahere/VN

 

 

Mutiara Malahere

Kepala Kantor Wilayah Hukum dan HAM Provinsi NTT, Asep Syarifuddin menegaskan, petugas Rutan dan Lapas wajib membina dan memberi rasa aman kepada warga binaannya. Semua harus memiliki intergritas,
Integritas sangat penting dalam membentuk moral dan karakter petugas lapas untuk menjadi pribadi yang berkarakter, bertanggungjawab, serta loyal.

Asep mengungkapkan bahwa kondisi di Rutan Soe sangat berbeda dengan situasi rutan di sejumlah kota besar lainnya di Indonesia dan telah banyak petugas yang rela menukar integritasnya demi rupiah yang menggiurkan.

“Kami menyayangkan petugas rutan dan lapas yang rela menukar integritasnya demi menjadi pesuruh dari warga binaan untuk mendapatkan imbalan materi yang menggiurkan, sehingga telah banyak yang dipecat serta berurusan dengan hukum,” ungkap Asep dalam kunjungannya ke Rutan Klas IIB Soe, Rabu (13/2).
.
Asep meminta semua petugas rutan dan lapas Soe agar profesional dalam melakukan pembinaan terhadap semua warga binaan dengan berbagai latar belakang.

“Setiap petugas telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan khusus untuk membina dan mengamankan warga binaan dalam berbagai kondisi, sesuai dengan prosedur dan aturannya, serta menggunakan hati nurani dalam menangani setiap warga binaan dan membimbingnya agar menjadi pribadi yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat,” pinta Arif.

Kepala Rutan Soe, Lukas Frans mengatakan bahwa dalam tahun 2019 ini, telah ada penambahan 18 orang ASN bertugas sebagai Sipir.

“Dari 18 orang Sipir berstatus ASN, terdiri dari tiga orang sipir wanita yang kami tempatkan pada blok tahanan wanita, sedangkan 15 sipir pria bertugas menjaga semua blok tahanan di Rutan Soe,” jelas Lukas.

Ia juga meminta pemerintah pusat membangun tembok lapis pada bagian dalam Rutan yang selama ini dibiarkan terbuka sehingga pengamanan dalam komplek Rutan akan lebih terjamin.

“Selama ini semua petugas piket wajib berjaga selama 24 jam, terlebih pada malam hingga pagi hari, dengan mengoptimalkan alat komunikasi handphone sehingga tidak ada yang tidur, dan saya juga ikut memantau aktivitas petugas piket yang sedang melakukan patroli,” tambah Lukas.

Rutan juga membutuhkan dokter khusus untuk menangani kondisi warga binaan saat sakit.(bev/R-1)