Piala Gubernur NTT Cup Banjir Kritik

berbagi di:
Petrus Abanat

Petrus Abanat.

 

 

Pelaksanaan turnamen sepakbola Liga3 Gubernur NTT Cup 2018 yang terkesan dikebut di akhir masa jabatan Gubernur Frans Lebu Raya mendapat kritikan dari berbagai pihak. Kompetisi ini dinilai tanpa persiapan matang dan terkesan sekadar menghabiskan anggaran sehingga tujuan utama untuk mencari bibit pemain sepakbola handal terabaikan.

Petrus Abanat, mantan Kapten Tim PSKK menilai Asosiasi Sepak Bola Provinsi (Asprov) tidak serius menggelar turnamen bergensi tingkat provinsi ini. Salah satu indikasi ketidakseriusan itu adalah penyiapan lapangan pertandingan.

“Kompetisi ini adalah gengsi gubernur, level provinsi dan bukan level kampung. Semuanya dipersiapkan dengan baik, yang representatif untuk turnamen seperti ini,” ucapnya kepada VN, Rabu (11/7) malam.

Dia menilai para pengurus Asprov NTT yang menggelar turnamen ini terlalu memaksakan diri. “Apa yang mau dicapai dalam kompetisi di lapangan yang seperti itu? Tim-tim yang datang dari daerah itu datang dengan dana besar, tetapi kondisinya seperti ini,” ujarnya.

Ia menyayangkan tim-tim yang ikut serta dalam turnamen ini mau saja bermain di lapangan yang kurang representaif. Padahal kualitas turnamen sepakbola ditentukan kesiapan antara lain lapangan pertandingan yang baik. Sebab, kualitas pertandingan sangat ditentukan oleh kondisi lapangan.
Habiskan Anggaran
Penilaian senada disampaikan aktivis PIAR NTT, Paul SinlaEloE, kemarin. Menurut dia, program kegiatan, bahkan proyek-proyek di akhir masa jabatan kepala daerah cenderung tidak menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, dan terkesan sekadar menghabiskan anggaran.

“Biasanya itu menghabiskan anggaran pada aktivitas atau kegiatan yang tidak bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Sebab, pemerintah di akhir masa jabatan tidak lagi terlalu peduli dengan persoalan masyarakat,” tegas Paul.

Fenomena menghabiskan anggaran di penghujung masa tugas, kata dia, tak hanya terjadi di NTT, tapi pada hampir seluruh daerah di Indonesia. Karena itu, kepekaan DPRD Provinsi NTT untuk melihat fenomena ini sangat dibutuhkan.

“Banyak anggaran di akhir masa jabatan yang dipakai untuk kepentingan yang tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat. Untuk itu kawan-kawan DPRD supaya lebih fokus melihat fenomena ini. Kegiatan atau program di akhir masa jabatan mungkin saja penting dan berguna tetapi pelaksanaannya cenderung asal-asalan sehingga dana habis tanpa bekas,” katanya.

Dia menilai, DPRD NTT terkesan sudah tidak peduli lagi dengan berbagai persoalan yang menyentuh langsung masyarakat NTT. Persoalan pendidikan, dan kesehatan terabaikan.

“Itukan persoalan-persoalan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Sonde ada sekolah, tapi bangun pagar kantor gubernur. Sementara begitu banyak anak sekolah yang tidak tertampung di sekolah negeri,” kata Paul.

Kritikan terhadap pelaksanaan Liga3 Gubernur Cup 2018 juga disampaikan pengamat kebijakan publik dari Undana, Lasarus Jehamat. Menurut dia, turnamen ini dikebut ada nuansa politik dimana Gubernur ingin menarik simpati masyarakat.

“Bagi saya Gubernur sedang menarik simpati masyarakat di akhir masa jabatannya karena mau ikut caleg pusat (DPR RI). Maka kegiatan seperti ini kental bernuansa politik,” ujarnya.
Pererat Persaudaraan

Sementara itu, Ketua Harian Asprov PSSI NTT Stef Bria Seran yang dikonfirmasi media ini usai pertandingan Persemal (Malaka) vs Perseftim (Flores Timur), kemarin, menegaskan yang utama dalam turnamen ini adalah mempertemukan anak-anak NTT sebagai saudara.

“Jadi hasil itu nomor 2, sedangakan yang nomor 1 adalah mempertemukan anak-anak NTT bahwa mereka bersaudara,” kata Stef yang juga adalah Bupati Malaka itu.

Dia mengatakan pertandingan sepakbola seperti Piala Gubernur (Liga 3) ini menjadi media untuk menghibur rakyat.
Soal lapangan pertandingan dia mengatakan bahwa lapangan yang dimiliki oleh TNI AU adalah yang terbaik saat ini sehingga diselenggarakan di tempat tersebut.

“Kalau kita harus menunggu sampai lapangan memadai baru adakan sebuah turnamen itu tidak akan pernah terlaksana. Karena itu, kita semua harus memahami bahwa kompetisi sepakbola Liga 3 Gubernur Cup 2018 adalah pembinaan serta untuk memberi hiburan pada masyarakat dan mempererat persaudaraan di antara para pemain,” katanya.

Sementara pelatih Persemal Malaka Folgentius Bere Fahik mengatakan, ia mempersiapkan para pemainya untuk menghadapi kompetisi tersebut selama satu bulan. Ia menolak berkomentar doal kondisi lapangan. Alasannya, sebagai pelatih ia berkonsentrasi melatih para pemain.

“Supaya dalam kondisi lapangan seperti apa pun mereka siap bermain. Jadi untuk lapangan, saya tidak dalam kapasitas untuk menilai,” ujarnya. Meski demikian, dia mengatakan bahwa Malaka memiliki lapangan yang jauh lebih baik. (pol/mg-19/C-1)