Prabowo dan SBY Terbentur Masa Lalu

berbagi di:
SBY dan Prabowo

 

PENELITI Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Sirajuddin Abbas menilai pertemuan antara Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/7), merupakan agenda penjajakan menuju 2019.

Kedua tokoh belum berpikir untuk langsung berkoalisi guna menghadapi rezim Joko Widodo yang saat ini sedang berkuasa. Apalagi, masih ada ganjalan di masa lalu antara SBY dan Prabowo.

“Anda perlu perhatikan soal hubungan masa lalu antara SBY dan Prabowo. Sulit mencari informasi yang menunjukkan hubungan mereka berdua positif. SBY itu salah satu jenderal yang merekomendasikan Prabowo supaya dipecat,” ujar Abbas di Jakarta, kemarin.

Pada Pilpres 2014, surat pemecatan Prabowo oleh Dewan Kehormatan Perwira (DKP) saat menjabat Pangkostrad itu sempat ramai di media sosial. SBY dalam surat itu menjadi salah satu yang ikut membubuhkan tanda tangan.

“Jika Gerindra ingin koalisi dengan Demokrat, calonnya bukan Prabowo. Kecuali SBY sudah tidak konsisten dalam posisinya semula. Saya masih percaya posisi itu. Oleh karena itu, pertemuan di Cikeas adalah pertemuan membangun basis untuk kerja sama,” imbuhnya.

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan membenarkan Demokrat dan Gerindra sedang membangun kebersamaan. Kalau bicara koalisi, kata dia, hal itu masih jauh karena pemilu baru akan diselenggarakan pada 2019. “Pak SBY dan Pak Prabowo hanya silaturahim,” tukas Zulkifli belum lama ini.

Sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid menegaskan pertemuan antara SBY dan Prabowo diharapkan dapat melibatkan banyak pihak baik di dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan.

Ia menambahkan tidak menutup kemungkinan diplomasi nasi goreng tersebut akan mengerucut pada terbentuknya koalisi yang diikuti Partai Demokrat, Gerindra, PKS, dan Partai Amanat Nasional (PAN).

“Yang penting memaknai pertemuan yang kemarin yaitu konstruktif berpolitik itu bukan kubu-kubuan atau menghadirkan kecemasan, tapi menghadirkan harapan sesuatu yang lebih baik,” katanya. (Nov/Ant/P-5)

 

 

Sumber: Media Indonesia