Proyek Rehab Stadion Oepoi mulai Dikebut

berbagi di:
Para pekerja sedang memotong pipa dan melubanginya dengan bor untuk dipasang pada lapangan Stadion Oepoi. Gambar diabadikan, kemarin. Foto: Ryan Tapehen/VN

Para pekerja sedang memotong pipa dan melubanginya dengan bor untuk dipasang pada lapangan Stadion Oepoi. Gambar diabadikan, kemarin. Foto: Ryan Tapehen/VN
Ryan Tapahen

Setelah terhenti selama berbulan-bulan akibat ketiadaan material, proyek rehab lapangan Stadion Oepoi mulai dikebut oleh kontraktor. Proyek bernilai kontrak Rp 6,3 miliar lebih itu fisiknya baru 32 persen sementara batas akhir masa kerja sesuai addendum yakni 20 Februari 2018.

Pantauan VN di lokasi proyek, Rabu (31/1) kemarin, tampak sejumlah pekerja sudah mulai bekerja memasang pipa PVC ukuran 6 dim. Pipa tersebut sudah dipasang sekitar 100 batang pada saluran dan dibungkus dengan ijuk yang nantinya akan ditimbun dengan kerikil.

Kontraktor Felix Alberto Dhini yang saat itu ada di lapangan memantau pekerjaan tersebut, mengatakan, material pipa yang dipesan dari Jawa sudah diturunkan sebagian sejak Selasa (30/1).

“Sisanya akan tiba lagi pada sore ini (kemarin) sehingga jumlah pipa yang kurang sekitar 400 batang sudah ada dan tinggal pemasangan,” katanya.

Dia menjelaskan pipa-pipa tersebut sebelum dipasang harus dibor terlebih dahulu untuk sistem peresapan air di lapangan agar lapangan tidak becek jika hujan.

Felix juga mengatakan bahwa pihaknya sudah mendapatkan dana dari donatur yang bersedia membantu pekerjaan ini. Guna memperlancar pekerjaan tersebut, pihaknya pun menambah lagi 10 orang tenaga kerja agar bisa mengejar waktu penyelesaian proyek yang tinggal 20 hari saja.

Pemasangan pipa, jelasnya, juga dikerjakan secara borongan dengan menghitung satu batang pipa dibayar Rp 100 ribu.

Menurut dia, proyek tersebut sebenarnya tidak terbelangkalai dalam waktu cukup lama seperti ini. Namun karena sistem kerjanya sudah salah sejak awal.

Dia menjelaskan, dengan sistem kerja borongan dimana para pekerja dibayar Rp 100 ribu untuk tiap pipa yang dipasang, maka dia optimis bisa mengejar waktu yang ada. Pekerjaan pun dengan sistem lembur sampai pukul 22.00 Wita
malam.

“Pipa kemarin sore turun lansung mereka bor sampai jam 10 tadi malam (kemarin),” jelasnya.

Dia bahkan menargetkan, dalam waktu dua minggu, pekerjaan bisa dituntaskannya.

Sementara rumput, lanjutnya, sudah dikirim dari Jawa via Ende dan diperkirakan akan tiba di Kupang, pekan depan. Setelah tiba, pekerja akan langsung menanam pada lapangan.
Terkendala Gaji
Mengenai tunggakan gaji pekerja yang belum dibayar, dia mengaku masih terkendala administrasi. Sebab, dia mengambil alih proyek tersebut dari kontraktor sebelumnya yang meminjam bendera perusahaannya.

“Data pekerja belum lengkap catatannya, namun akan tetap dibayarkan setelah administrasi beres,” pungkasnya.

Haris Sofyan, salah satu pekerja, mengatakan, dia dan kawan-kawannya belum menerima gaji selama tiga bulan yang tertunggak sejak November 2017. Gaji mereka selama tiga bulan itu, kata dia, merupakan kewajiban dan tanggung jawab dari Guido, kontraktor yang sebelumnya mengerjakan proyek tersebut namun akhirnya mangkrak.

“Kita baru dikasih uang satu juta (rupiah) saja. Anggap saja itu uang makan,” katanya.

Dengan sistem borong saat ini, kata dia, selain lebih cepat proses kerjanya, juga lebih menguntungkan pekerja. “Jadi kalau borong kita kerja mulai enam pagi bisa sampai jam 10 malam. Kalau harian kita masuk kerja jam delapan pagi dan pulang sore,” katanya.

Dengan sistem borongan, lanjutnya, maka per item dibayar sendiri-sendiri. Pemasangan pipa dibayar tersendiri, demikian pun pemasangan kerikil, tanah dan penanaman rumput. (mg-14/D-1)