PT Sumatraco Borong Garam Di Wilayah Pantura

berbagi di:
Manejer operasional PT Sumatraco Langgeng Makmur Wardoyo menyampaikan sambutan dalam acara pembelian garam perdana di wilayah Asu-asu, kemarin. Foto: Gusty Amsikan/VN

Manejer operasional PT Sumatraco Langgeng Makmur Wardoyo menyampaikan sambutan dalam acara pembelian garam perdana di wilayah Asu-asu, kemarin. Foto: Gusty Amsikan/VN

 

 

Pemerintah mengapresiasi kerja sama yang dilakukan PT Sumatraco Langgeng Makmur dengan para petani garam di wilayah Pantai Utara Kecamatan Biboki Moenleu, Kabupaten TTU, Nusa Tenggara Timur.

Kehadiran perusahaan garam tersebut sangat membantu masyarakat khususnya para petani garam memasarkan hasil panen garam mereka. Para petani akan didorong untuk terus belajar dan mengembangkan diri agar dapat menghasilkan garam dengan kualitas baik. Dengan demikian, harga pasaran garam di wilayah tersebut pun akan semakin meningkat.

Camat Biboki Moenleu Benyamin Lalian dalam sambutannya di lokasi tambak garam, Rabu (7/11) mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi langkah Yayasan Tapenmasu yang berkoordinasi dengan pihak perusahaan PT Sumatraco Langgeng Makmur untuk melakukan panen perdana dan membeli garam hasil olahan para petani di wilayah Kecamatan Biboki Moenleu. Hal tersebut sangat membantu para petani garam yang selama ini kewalahan memasarkan garam hasil olahan mereka dengan harga terjangkau. Dengan demikian, garaam tidak lagi menjadi komoditas yang dipandang sebelah mata, namun bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat.

Menurut Benyamin, pola pengolahan garam yang dilakukan para petani garam di wilayah tersebut masih sangat tradisional. Hal itu jelas mempengaruhi kualitas garam yang dihasilkan. Ia mengimbau masyarakat khususnya para sarjana agar berupaya mengelola potensi yang ada dan menjadikannya sebagai lahan pendapatan. Para sarjana jangan hanya bermimpi menjadi PNS, tetapi harus berani belajar untuk mengembangkan diri dan berani berwirausaha guna menghasilkan gaji bagi diri sendiri melalui produksi garam.

“Sekarang garam sudah menjadi salah satu komoditi yang diincar. Ini artinya, pola pembangunan dan proses dari waktu ke waktu juga berubah dan mental kita harus diperbaiki. Dari pada semua berlomba-lomba mengikuti seleksi CPNS dengan peluang lolos sangat minim, sebaiknya para sarjana memanfaatkan peluang dan potensi yang ada untuk menjadi lahan pendapatan,” pungkasnya.

Salah seorang petani garam, Yoseph mengatakan, produksi garam tahun ini tergolong meningkat dan persaingan terbilang banyak. Dengan adanya kerja sama yang ada saat ini melalui Yayasan Tapenmasu, Pemerintah Kabupaten TTU dan Pemerintah Provinsi NTT mudah-mudahan pihak perusahaan PT Sumatraco Langgeng Makmur dapat membeli dengan harga yang menguntungkan petani garam.

Direktur Yayasan Tapenmasu Gildus Bone mengaku pihaknya melalui koordinasi bersama Pemerintah Kabupaten TTU dan Provinsi NTT kemudian mengambil langkah koordinasi bersama pihak perusahaan untuk melakukan survei terhadap kelompok petani garam yang ada dibeberapa lokasi seperti, Oepuah dan Asu-asu, Kecamatan Biboki Moenleu.

Pihak PT Sumatraco Langgeng Makmur terlebih dahulu melakukan survei lalu ditindaklanjuti dengan melakukan uji laboratorium terhadap kadar garam yang ada. Namun, langkah tersebut semata untuk menjembatani petani dan perusahaan agar potensi garam yang telah diproduksi dapat segera dipasarkan agar menghindari kegagalan produksi yang mengakibatkan kerugian pada masyarakat.

Sementara itu, Manajer Operasional PT Sumatraco Langgeng Makmur cabang Kupang Wardoyo mengatakan, pihaknya membeli garam dari petani dengan harga Rp800 per kilogram. Jumlah tersebut sedikit lebih murah dibandingkan dengan arga pasaran di Pulau Jawa yang mencapai Rp1.200 per kilogram. Murahnya harga pasaran yang ditawarkan pihaknya disebabkan karena sejumlah faktor diantaranya ongkos angkut dan ongkos rapaksi. Selain itu, kualitas garam yang dihasilkan petani pun masih di bawah standar, sehingga pihaknya harus mengeluarkan biaya untuk memperbaiki kualitas garam yang ada.

Menurut Wardoyo, kerja sama jual beli garam dengan para petani garam di wilayah pantai utara tidak menggunakan limit waktu. Selama perusahaan membutuhkan pasokan garam, maka pihaknya akan tetap membeli garam hasil produksi petani. Pihaknya pun tidak menetapkan besaran jumlah produksi garam yang akan dibeli. Berapapun hasil produksi petani, pihaknya akan tetap membeli dari petani dengan harga pantas sesuai dengan kualitas yang ada.

Ia berharap para petani garam di Asu-asu, Oesoko dan wilayah sepanjang pantai utara harus terus belajar dan berupaya agar dapat menghasilkan garam dengan kualitas baik. Langkah studi banding dan pelatihan perlu ditempuh guna mendorong para petani garam memperbaiki kualitas hasil panen garam mereka. Semakin baik kualitas garam yang dihasilkan, harga jualnya pun akan semakin meningkat.

“Kita berharap warga mau belajar untuk membuat garam yang baik, sehingga kalau kualitasnya baik dan harganya juga baik. Saran saya warga didampingi oleh Yayasan Tapenmasu melakukan studi banding ke tempat lain yang produksi garamnya lebih baik. Karena faktanya garam yang dihasilkan para petani ini Nacl 87 dan kandungan mangannya tinggi. Kami mau membeli tanpa harus repot memperbaiki kualitas. Tapi saya tidak tega membiarkan warga seperti ini.

Petani garam perlu diberdayakan agar bisa memproduksi garam dengan kualitas baik. Kami berani memfasilitasi itu,” pungkasnya. (kon-01/R-4)