Rekonstruksi Penganiayaan Sadis di Liliba, Korban Ditikam dan Ditinggalkan dalam Kondisi Sekarat

berbagi di:
Salah satu tersangka memeragakan saat ia memukul korban dalam rekonstruksi kasus penganiayaan yang menewaskan David Bay di Liliba, Rabu (5/12).

Salah satu tersangka memeragakan saat ia memukul korban dalam rekonstruksi kasus penganiayaan yang menewaskan David Bay di Liliba, Rabu (5/12).

 

Mutiara Malahere

Sebagai bagian dari proses perampungan berkas berita acara pemeriksaan (BAP) para tersangka dalam kasus penganiayaan sadis di Liliba yang menewaskan David Bay (35), penyidik Satreskrim Polres Kupang Kota menggelar reka ulang (rekonstruksi) kasus tersebut, Rabu (6/12). Rekonstruksi menampilkan 20 adegan di antaranya korban ditikam dengan pisau sebanyak tiga kali oleh tersangka lalu ditinggalkan begitu saja dalam kondisi sekarat.

Pantauan VN, rekonstruksi yang dilakukan di lokasi kejadian, yakni di RT 06/RW 03 Kelurahan Liliba-Kecamatan Oebobo, Kota Kupangg, NTT itu dikawal ketat aparat dan disaksikan ratusan warga setempat.

Empat tersangka, yakni Novi Kase alias NK dan pacarnya, Mardan Ndun (MN) serta dua tersangka lainnya yang juga kawan mereka, yakni ARB dan RAN. Ikut pula saksi Rizal dan Polce.

Dalam rekonstruksi tersebut terlihat awalnya NK menemui korban di depan kampus Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) dan pertemuan itu berlanjut di depan pabrik tahu. Setelah itu, tiga tersangka lainnya datang dan menganiaya korban dan meninggalkannya dalam kondisi sekarat.

Pada adegan ke-17, tersangka RAN menggunakan pisau menikam korban sebanyak tiga kali. Sebelumnya, korban hendak melarikan diri karena dianiaya.

Saat korban tak berdaya, jatuh berlumuran darah, keempat tersangka langsung meninggalkan korban di lokasi kejadian. Warga setempat kemudian menemukan korban dalam kondisi bersimbah darah dengan posisi terlungkup di dekat rumpun bambu di belakang pabrik tahu. Korban mengalami luka pada wajah, perut dan bagian belakang, serta luka tikam di paha kanan.

Jalannya rekonstruksi dipantau langsung oleh Kabagops Polres Kupang Kota AKP Ongkowijono T Atmodjo didampingi Kasat Sabhara AKP Mei Charles Sitepu, dan Kanit I Reskrim Ipda Yance Y Kadiaman. Puluhan personel Satreskrim, Intelkam maupun Sabhara dikerahkan untuk menjaga keamanan selama rekonstruksi.

Kanit Pidum Satreskrim Ipda Yance Kadiaman mengatakan pihaknya menggelar rekonstruksi untuk memberikan gambaran sekaligus mencocokkan hasil penyidikan sesuai Laporan Polisi Nomor: LP-B/1021/XI/2017/SPK Res Kupang Kota tanggal 23 November 2017 terkait dugaan tindak pidana secara bersama–sama di muka umum melakukan kekerasan terhadap orang yang mengakibatkan matinya orang.

“Kami mencocokkan keterangan dari para tersangka dan barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian, sehingga kami pun dapat memperjelas keterangan dan bukti yang sesuai dengan fakta hukum sehingga semuanya menjadi jelas,” jelas Yance.

Keempat tersangka dijerat dengan ancaman pidana pasal 170 Ayat (2) juncto Pasal 56 Ke-2 KUHP dengan ancaman hukumannya lebih dari 10 tahun penjara.

Simeon, warga setempat yang menyaksikan jalannya rekonstruksi tersebut, mengaku prihatin dengan kasus tersebut. “Mengapa anak-anak muda sekarang begitu gampangnya menganiaya orang lain. Tidak adakah sedikit kasih dalam hati mereka? Semoga melalui proses hukum ini mereka bertobat,” ujarnya.

Martha Tefbana, warga lainnya menambahkan, kasus ini merupakan salah satu dampak buruk dari kemajuan teknologi komunikasi. “Kalau tidak salah ini terjadi karena kirim SMS yang bukan-bukan to? Kalau pake HP tapi tidak ada iman, maka begini sudah akibatnya,” ucapnya.

Untuk diketahui, kasus ini bermotif cemburu. Novi Kase dan korban berbalas SMS dimana korban mengajak Novi melakukan hubungan intim. SMS di HP Novi kemudian dibaca oleh Mardan Ndun yang adalah pacar Novi. Mardan cemburu dan meminta Novi bertemu korban. Saat itulah Mardan datang bersama kedua tersangka lainnya untuk menganiaya korban. (tia/D-1)