Ricky Ternyata Buronan Kasus Penganiayaan Berat

berbagi di:
foto-hal-07-metro-buron-150319

Tersangka kasus penganiyaan berat Ricky Indra Pance Ndaumanu (kanan) selama satu tahun menyandang status daftar pencarian orang (DPO) akhirnya menjalani pemeriksaan di Sat Reskrim Polres Kupang Kota, Kamis (14/3). Foto: Rafael L. Pura/VN

 
Rafael L. Pura

Pelaku pencurian ayam di Kelurahan Nunleu, Kecamatan Kota Raja, Nusa Tenggara Timur Ricky Ndaumanu yang dibekuk Kamis, (14/3) ternyata merupakan buron selama satu tahun dua bulan terkait kasus penganiayaan berat tahun 2018.

Kanit Pidum Ipda Yance Kadiaman Polres Kupang Kota mengatakan saat diperiksa lebih lanjut terkait kasus pencurian ayam, pelaku diketahui pernah membacok dua orang kakak beradik pada 27 Januari 2018 lalu, di Kelurahan Oebufu, Kupang. Selama pelarian, pelaku sering berpindah tempat. Mulai dari Sulamu, Malaka, Rote dan kembali ke Malaka.

Ia menjelaskan pelaku menebas Dupsen Sanu (35) dan Richard Sanu (25) yang juga adalah tetangga pelaku dengan sebilah parang yang biasa digunakan pelaku untuk memotong daging.

Saat itu, pelaku pulang dari pesta ulang tahun sahabatnya dalam keadaan mabuk berat. Tiba di rumah, pelaku mengambil parang lalu memukul dan mengancam korban saudara korban. Saudara korban yang ketakutan akhirnya lari dan memberitahu kepada kedua korban bahwa ia telah dipukul dan diancam pelaku. Kedua korban, kemudian mendatangi rumah pelaku, namun karena pelaku dalam keadaan mabuk dan disertai prasangka bahwa rombongan itu akan menyerangnya, pelaku kemudian secara membabi buta menyerang mereka.

Dengan parang di tangannya, Ricky menebas kedua korban. Akibatnya, keduanya mengalami luka berat. Duspen mengalami luka berat di kaki dan tangan, sementara Richard megalami luka di tangan.

“Duspen mengalami cacat tetap, setelah beberapa kali melakukan operasi di kakinya, akibat dari tebasan itu,” ujarnya.

Setelah beraksi, pelaku melarikan diri. Barang bukti berupa parang yang digunakan pelaku sudah dibuang. Atas perbuatannya, Ricky Nduamanu dijerat dengan pasal 351 ayat 2 KUHP jo pasal 64 KUHP, dengan ancaman hukuman penjara selama lima tahun. (bev/ol)