RSUD Umbu Rara Meha Bangun Kerja Sama Telemedicine

berbagi di:
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (kiri membelakangi lensa), Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora, Ketua DPRD Sumba Timur Palulu P Ndima, Plt Kadis Kesehatan NTT Dominggus Minggu Mere, dan Kadis Kesehatan Sumba Timur Chrisnawan Try Haryantana, dan dr Lely Harakay (kanan), dalam teleconference dengan pihak RSUP dr Kariadi dan Fakultas Kedokteran Undip, Semarang. Foto: Frangky Johannis/VN

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (kiri membelakangi lensa), Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora, Ketua DPRD Sumba Timur Palulu P Ndima, Plt Kadis Kesehatan NTT Dominggus Minggu Mere, dan Kadis Kesehatan Sumba Timur Chrisnawan Try Haryantana, dan dr Lely Harakay (kanan), dalam teleconference dengan pihak RSUP dr Kariadi dan Fakultas Kedokteran Undip, Semarang. Foto: Frangky Johannis/VN

 

 

Frangky Johannis

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Umbu Rara Meha, Waingapu, Kabupaten Sumba Timur kembali membuat terobosan dengan melakukan sistem telemedicine dalam mengatasi kekurangan dokter spesialis di rumah sakit milik Pemkab Sumba Timur tersebut.

Hal tersebut disampaikan Direktur RSUD Umbu Rara Meha dr Lely Harakay dalam lauching Program Home Care dan Pendaftaran Online berbasis aplikasi Whatsapp, di halaman depan rumah sakit tersebut, Rabu (12/9).

Lely menjelaskan ide ini lahir karena keterbatasan dana pemerintah daerah dalam membayar seluruh sub spesialis yang dibutuhkan rumah sakit membuat ide telemedicine dengan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi dan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip), Semarang.

Telemedicine, kata Lely, merupakan metode telekomunikasi untuk memberikan informasi dan pelayanan medis jarak-jauh. Tidak perlu menghadirkan sub spesialis ke Sumba, tetapi cukup menghadirkan otaknya, sedangkan yang bekerja adalah tenaga dokter yang ada di rumah sakit setempat.

“Dengan Telemedicine, kita menghadirkan otak sub spesialis secara virtual, kami di sini yang bekerja dengan menggunakan teknologi satelit dan memakai peralatan video conference untuk melaksanakan operasi dan konsultasi. Jadi masyarakat (pasien) kita di sini tidak perlu ke luar daerah untuk mendapat pengobatan,” kata dia.

Lely mengakui salah satu kendala yakni belum adanya payung hukum untuk Telemedicine, namum bisa dengan Peraturan Menteri Kesehatan. Sehingga, ia memutuskan melakukan kerjasama dengan RSUP dr Kariadi dan Fakultas Kedokteran Undip, Semarang.

Saat itu, Lely sempat melakukan teleconference dengan pihak RSUP dr Kariadi dan Fakultas Kedokteran Undip, Semarang disaksikan langsung Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat, Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora, Ketua DPRD Sumba Timur Palulu P Ndima, Plt Kadis Kesehatan NTT Dominggus Minggu Mere, dan Kadis Kesehatan Sumba Timur Chrisnawan Try Haryantana, yang dipandu dr Lely Harakay.

Direktur RSUP dr Kariadi, Semarang dr Agus Suryanto mengatakan pihaknya mendukung RSUD Umbu Rara Meha dalam rangka pelaksanaan telemedicine untuk mengatasi kekurangan sub spesialis. Namun, dukungan itu baru sebatas konsultasi medis karena belum ada dasar hukum.

“Kecepatan teknologi berlangsung sangat cepat, sementara hukumnya sulit untuk mengikuti kecepatan teknologi. Tetapi konsultasi antar rumah sakit dan konsultasi antar spesialis bukan sesuatu yang sulit untuk dilaksanakan karena sudah ada Permenkes walaupun baru sebatas teleradiologi,” katanya.

Menurutnya, langkah yang dilakukan RSUD Umbu Rara Meha ini merupakan hal baru yang dilaksanakan di Indonesia, sehingga perlu didiskusikan lagi.

“Kami usulkan dibentuk tim kecil untuk membahas ini terlebih dahulu untuk melihat kondisi RSUD Umbu Rara Meha, sehingga kerja sama yang akan dibangun bisa berjalan dengan baik,” kata Suryanto.

41715300_10156653233356575_6878209589888679936_n

Menanggapi hal ini, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat mengaku senang bisa berdiskusi dengan pihak RSUP dr Kariadi dan Fakultas Kedokteran Undip, Semarang.

Menurutnya, teknologi di bidang kedokteran yang begitu maju, sangat diharapkan masyarakat Indonesia, khususnya yang ada di kepulauan seperti NTT dapat terbantu dengan teknologi telemedicine.

“Saya menyadari betul bahwa produk hukumnya belum mampu untuk menampung kejadian atau perilaku hukum yang akan dilakukan, sehingga Pemerintah Provinsi NTT akan berusaha sekeras mungkin untuk mewujudkan hal tersebut untuk membantu masyarakat NTT,” ujarnya.

Menurut Gubernur, ke depan perlu dijelaskan tindakan-tindakan apa yang perlu dilakukan dalam telemedicine ini secara spesifik dalam kerjasama nantinya.
Sebagai gubernur, ia setuju ada tim perumus kecil untuk segera membuat norma-norma yang dibutuhkan agar ke depan dapat dibicarakan dengan Menteri Kesehatan dan Presiden untuk membangun kesehatan di NTT atau provinsi kepulauan lainnya di Indonesia.

“Kami sangat berterima kasih untuk seluruh pemikiran, terobosan-terobosan yang hari ini dilakukan. Secara pribadi dan Pemerintahan Provinsi NTT saya mengapresiasi hal ini,” pungkasnya.

Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora mengatakan, Pemerintah Sumba Timur sangat mengharapkan dukungan yang lebih luas dari RSUP dr Kariadi dan Fakultas Kedokteran Undip, Semarang dalam kaitannya dengan telemedicine yang akan sangat membantu bagi daerah-daerah yang terpencil.

“Kami juga sangat berterima kasih Bapak Gubernur NTT merespons ini dengan positif dan kami setuju dibentuk tim bersama untuk mengkaji telemedicine ini karena sangat bermanfaat bagi kami yang terkendala dengan anggaran untuk pembiayaan fasilitas kesehatan yang memadai untuk masyarakat,” kata Gidion. (bev/ol)