Rumput Laut NTT Belum Dikelola Maksimal

berbagi di:
Petani rumput laut Kabupaten Kupang menjemur hasil panen sebelum dipasarkan, 2017 lalu.

Petani rumput laut Kabupaten Kupang menjemur hasil panen sebelum dipasarkan, 2017 lalu.

 

Potensi rumput laut di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mencapai 51 ribu hektare, kini baru dikelola 15 persen.

“Kita baru bisa mengelola 15 persen, terutama jenis rumput laut euchema cottoni dan gracilaria,” ungkap Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTT, Ganef Wurgiyanto di Kupang, Rabu (7/3).

Ia mengatakan, budi daya rumput laut yang ada menyebar di berbagai daerah seperti Kabupaten Kupang, Sabu Raijua, Rote Ndao, Alor, Lembata, selain di sejumlah daerah di Pulau Flores seperti Kabupaten Flores Timur, Sikka, Manggarai Barat maupun di Kabupaten Sumba Timur, Pulau Sumba.

Namun, lanjut Ganef, ada beberapa daerah yang hasil budi daya rumput lautnya belum menonjol seperti Kabupaten Belu, Malaka, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, dan Kota Kupang.
Potensi rumput laut di setiap daerah se-NTT cukup memadai, namun tingkat pemanfaatannya belum merata.

Ia menyebut, salah satu daerah yang cukup potensial yaitu Kabupaten Kupang yang memiliki produksi pada 2016 mencapai 860.379 ton dengan nilai lebih dari Rp 4,3 miliar.

Menurutnya, rumput laut merupakan salah satu produk unggulan kelautan, untuk itu pihaknya terus mendorong dan berupaya memfasilitasi minat masyarakat untuk mulai berproduksi. “Kami berharap upaya yang sama juga dilakukan pemerintah masing-masing kabupaten/kota agar dari waktu ke waktu semakin banyak masyarakat melirik budid aya rumput laut,” katanya.

Rumput laut merupakan sektor yang menjanjikan untuk menambah pendapatan dan kesejahteraannya para petani nelayan di NTT.

Ia menambahkan, potensi alam dan kondisi cuaca di provinsi dengan luas wilayah laut mencapai 200.000 kilometer persegi itu sangat mendukung untuk aktivitas budi daya rumput laut.
Kondisi NTT dengan curah hujan yang hanya tiga sampai empat bulan, panas matahari yang terik, serta kondisi pesisir pantai yang banyak berkarang dan laut tenang, cocok untuk menghasilkan rumput laut dengan kualitas terbaik.

Sebelumnya, Dosen Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan Undana, Chaterina A Paulus mengatakan,
ada sembilan daerah di Provinsi NTT yang berpotensi untuk mengembangkan atau membudidayakan rumput laut.

Selain Kabupaten Kupang dan Sumba Timur, ada tujuh kabupaten yang juga memiliki potensi pengembangan rumput laut yakni Kabupaten Sabu Raijua, Rote Ndao, Alor, Lembata, Flores Timur, Sikka, dan Kabupaten Manggarai Barat. (mi/E-1)