Satgas Gagalkan 343 Calon TKI Nonprosedural

berbagi di:
Bareskrim Polri mengungkap sindikat internasional perdagangan orang jaringan Malaysia dan Maroko. Tampak beberapa pelaku dari delapan pelaku yang berhasil dibekuk saat rilis kasus perdagangan orang di kantor Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (13/9). Foto: metrotvnews.com

Bareskrim Polri mengungkap sindikat internasional perdagangan orang jaringan Malaysia dan Maroko. Tampak beberapa pelaku dari delapan pelaku yang berhasil dibekuk saat rilis kasus perdagangan orang di kantor Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (13/9). Foto: metrotvnews.com

 

 

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTT mencegah keberangkatan sebanyak 343 calon tenaga kerja dari daerah ini yang hendak keluar negeri selama periode Januari-September 2018. Para calon tenaga kerja itu ditahan karena tidak tidak prosedural.

“Untuk tahun 2018 ini, sudah 343 calon TKI yang dicegah keluar negeri oleh Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Perdagangan Manusia, termasuk tiga calon TKI yang diamankan pada Kamis (13/9),” kata Kepala Bidang Pengawasan Dinas Nakertrans Provinsi NTT Thomas Suban Hoda kepada wartawan di Kupang, Jumat (14/9).

Satgas Pemberantasan Perdagangan Manusia dibentuk Pemerintah Provinsi NTT sebagai bagian dari upaya mencegah pengiriman TKI secara tidak prosedural keluar daerah sejak lembaga tersebut beroperasi pada 1 Juli 2016.

Sejak beroperasi, kata Suban Hoda, Satgas Pemberantasan Perdagangan Manusia telah mencegah keberangkatan lebih dari 1.500 calon TKI asal daerah itu keluar negeri tanpa dilengkapi dokumen resmi keimigrasian seperti paspor dan visa.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTT Bruno Kupok pada kesempatan sebelumnya, mengakui kinerja satgas mungkin belum optimal, akan tetapi sudah berhasil mencegah lebih dari 1.500 calon TKI nonprosedural yang hendak mencari kerja di luar negeri.

Ia mengatakan calon TKI ilegal yang dicegah itu hanya mereka yang hendak ke luar negeri melalui dua pintu, yakni Bandara El Tari Kupang dan Pelabuhan Tenau Kupang.
Daerah lain yang juga menjadi kantong-kantong TKI ilegal, seperti Pulau Flores dan Sumba, padahal sudah ada penerbangan atau pelayaran kapal langsung dari Flores maupun Sumba ke Pulau Jawa dan Kalimantan.

Dalam hubungan dengan hal itu, dia meminta pemerintah kabupaten untuk berinisiatif membentuk satgas di daerah masing-masing untuk bersama-sama mencegah pengiriman TKI secara ilegal keluar negeri.

Paling tidak, kata dia, di setiap bandar udara dan pelabuhan laut ada satgas yang ditempatkan untuk melakukan pemeriksaan terhadap warga yang hendak mencari kerja ke luar negeri, tanpa melalui prosedur resmi.

“Satgas ini baru ada di Kupang. Kita harapkan kabupaten juga membentuk satgas di pintu-pintu keluar karena masalah TKI ini menjadi persoalan bersama,” katanya.

Dia mengakui memang para calon TKI selalu memberi alasan keluar untuk mengunjungi keluarga di tanah rantau, tetapi satgas memahami bahwa hal itu hanya modus belaka dari para calon TKI asal Nusa Tenggara Timur.
Semua calon TKI yang dicegah keluar negeri dikirim kembali ke daerah asal, setelah pembinaan berkaitan dengan persyaratan dan prosedur bekerja ke luar NTT.

 

Amankan Tiga Orang
Satgas penanganan TKI Bandara El Tari Kupang NTT, Kamis (13/9), menggagalkan keberangkatan tiga calon tenaga kerja Indonesia asal daerah ini yang hendak diberangkatkan menuju Banjarmasin, Kalsel secara tidak prosedural.

“Petugas juga berhasil mencekal Gito Purnama, pria asal Palangkaraya yang berdomisili di Jalan Antang Kalang III No.29 RT.003/RW.014 Desa Langkai, Kecamatan Pahangdut, Kota Palangkaraya-Provinsi Kalimantan Tengah sebagai perekrut calon TKI,” kata Suban Hoda.

“Kami baru selesai melakukan pembinaan terhadap calon TKI yang diamankan di Bandara El Tari Kupang,” katanya dan menambahkan rencananya, calon tenaga kerja tersebut akan berangkat menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan dengan menggunakan pesawat Lion Air JT 0695.

Ketiga calon TKI itu adalah Yunus Kaesmetan. Pria kelahiran Manufui, Kabupaten Timor Tengah Utara itu saat ini berdomisili di Oelfatun, Kecamatan Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang; Semri Edison Tabais, asal Desa Oelfatu, Kecamatan Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang.

Dan yang ketiga adalah Yarit Yerobiam Kononi, berdomisili di Oelfatu, Desa Oelfatu, Kecamatan Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang.

Thomas Suban mengatakan, pihaknya berencana menyerahkan calon TKI bersama perekrut ke Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mendalami kemungkian adanya indikasi unsur perdagangan orang (trafficking). (mi/C-1)