Tiga Bocah Penambang Tewas Tertimbun Longsor di Sikka

berbagi di:
Tim Basarnas Sikka dibantu anggota TNI dan masyarakat mengangkat jenazah tiga orang bocah yang tertimbun longsor di Desa Hale, Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, kemarin. Foto: Yunus Atabara/VN

Tim Basarnas Sikka dibantu anggota TNI dan masyarakat mengangkat jenazah tiga orang bocah yang tertimbun longsor di Desa Hale, Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, kemarin. Foto: Yunus Atabara/VN

 

Yunus Atabara

Empat warga RT/02 RW/01 Desa Hale, Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur tertimbun tanah longsor saat menambang pasir di lahan milik warga setempat, Januarius Joni (45), tidak jauh dari pemukiman warga. Tiga penambang pasir yang masih bocah, meninggal dunia dan satu orang lainnya dilarikan ke Puskesmas Mapitara dalam kondisi kritis.

Informasi yang dihimpun VN, Senin (7/1), menyebutkan, empat warga Desa Hale tersebut hendak menambang material pasir dan batu untuk dijual. Sekitar pukul 07.00 Wita tiba-tiba terjadi longsor dan menimbun empat orang penambang itu. Warga setempat langsung menggali mencari korban. Tiga ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia dan satu orang lainnya dalam kondisi kritis.

Tiga orang yang meninggal itu adalah Silferius Silik (10), Petrus Afriandi (11) dan Emanuel Jefrianto (8) meninggal dunia. Sedangkan Marselinus Moa (20) dilarikan ke Puskesmas Mapitara dalam kondisi kritis.

Kepala Desa Hale, Polikarpus Nong langsung melaporkan peristiwa tersebut kepada Polsek Bola dan Basarnas Maumere. Selain itu Polikarpus langsung menghubungi BPBD Sikka dan Camat Maiptara melalui telpon genggamnya untuk meminta bantuan.

Yudha Kusuma dari Basarnas Maumere, kepada VN mengatakan, setelah mendapat laporan Basarnas langsung memberangkatkan Tim Rescue sebanyak lima personel menuju lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi.

Alfons Nong (34) salah satu warga Hale yang diwawancari VN, mengatakan, pada saat kejadi tanah longsor tiga korban yang rata-rata masih anak-anak tersebut sedang menggali dan memuat pasir ke atas sebuah mobil pick-up yang dikemudikan Marselinus Moa (20).

“Waktu kejadian tiga anak itu ada dalam lubang sementara mengisi pasir di karung untuk dimuat di pick-up. Sedangkan sopirnya (Marselinus Moa) ada di pick-up. Tiba-tiba tanah longsor dan menimbun tiga korban dalam lubang galian, sedangkan sopir tertimpa batu dari longsoran,” kata Alfons yang dibenarkan warga lainnya.

Lebih jauh Alfons menuturkan bahwa korban Petrus Afriandi (11) dan Emanuel Jefrianto (8) adalah kakak adik kandung. Kedua anak itu menggali pasir dengan imbalan Rp 2 ribu per karung.

“Mereka gali pasir satu karung mereka dapat Rp 2 ribu. Bapaknya sakit sakit dan mamanya petani. Waktu kejadian itu, mamanya tidak berada di rumah karena sedang berada di kebun,” kata Alfons.

Sedangkan satu orang korban lainnya, Silferius Silik (10), masih ada hubungan keluarga dengan dua korban lainnya.

Pantauan VN, korban terakhir yang berhasil dievakuasi sekitar pukul 17.00 wita. Lubang galian yang cukup dalam menyulitkan warga dan tim mengevakuasi korban. Evakuasi dilakukan secara manual dengan menggali material longsoran yang menimbun lokasi penambangan pasir. (nus/R-2)