Tinju Indonesia Samai Prestasi AG Hiroshima

berbagi di:
Huswatun Hasanah (biru) menerima pukulan stright dari petinju Thailand Sudaporn Seesondee. Sejak tinju putri kali pertama digelar pada Asian Games 2010 Guangzou, China, Huswatun Hasanah adalah petinju pertama Indonesia yang mampu meraih medali. Foto: Bola.com

Huswatun Hasanah (biru) menerima pukulan stright dari petinju Thailand Sudaporn Seesondee. Sejak tinju putri pertama kali digelar pada Asian Games 2010 Guangzou, China, Huswatun Hasanah adalah petinju pertama Indonesia yang mampu meraih medali. Foto: Bola.com

 
Tim Tinju Indonesia di arena ring tinju Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, akhirnya hanya menyamai pencapaian prestasi dua medali perunggu di Asian Games (AG) yang digelar di Kota Hiroshima, Jepang pada tahun 1998.

Di AG Hiroshima, dua medali perunggu dihasilkan lewat kepalan tangan petinju kebanggaan NTT saat itu, Hermensen Ballo yang bertarung di kelas Layang 48 kg dan petinju Bali Nemo Bahari di kelas Terbang 51 kg. (lihat Grafis)
Sedangkan di AG kali ini, petinju putri Indonesia Huswatun Hasanah yang bertanding di kelas Ringan 60 kg dan petinju putra Sunan Agung Amoragam (Bantam 56 kg) harus puas dengan medali perunggu setelah kalah dari lawan-lawannya pada partai semifinal di Jakarta International Expo, Jumat (31/8).

Sunan Agung kalah di tangan petinju asal Uzbekistan Mirazizbek Mirzakhalilov. Ia harus mengakui keunggulan Mirzakhalilov (yang adalah teman sparing saat try out di Ukraina dua bulan lalu) dengan perolehan skor telak 0-5.

Pertandingan tersebut dinilai oleh lima juri yang berasal dari Jepang, Aljazair, Tunisia, Korea, dan Turki. Sunan mendapat nilai 28 dari Jepang, 27 dari Aljazair, 26 dari Tunisia, 26 dari Korea dan 27 dari Turki. Dengan urutan yang sama, Mirzakhalilov mendapat nilai 29, 30, 30, 30, 29.

Sementara Huswatun Hasanah takluk di tangan petinju Thailand Sudaporn Seesondee juga dengan nilai 0-5. Meski demikian, Huswatun mencatatkan sejarah baru karena untuk kali pertama tinju putri mendulang medali di kancah Asian Games.

Tinju putri kali pertama digelar pada Asian Games 2010. Selama ini belum pernah ada petinju Indonesia yang meraih medali. Setelah delapan tahun, penantian Indonesia akhirnya terbayar.
Sepanjang sejarah Asian Games, tinju Indonesia telah mengoleksi tiga emas, delapan perak, dan 13 perunggu. Namun, semua medali tersebut datang dari tinju putra.

Setelah pertandingan, Sunan mengaku kurang pengalaman. “Pertandingan tadi adalah pertarungan yang sangat keras. Saya baru kali ini bertemu dengan lawan-lawan yang keras, yang telah mengalahkan juara-juara dunia dan saya merasa beruntung, walaupun kalah, itu jadi pengalaman buat saya,” kata Sunan.

“Mungkin saya kurang jam terbang, jadi ini pengalaman untuk mengantisipasi jarak pukul. Saya baru ketemu lawan seperti itu, daya juangnya sangat tinggi,” lanjutnya.

Pelatih kepala tim tinju Indonesia Adi Suwandana, mengakui penampilan kedua petinju menurun jika dibandingkan saat berlaga di perempat final.

“Semua kembali kepada rutinitas karena kita kurang jam terbang, kurangnya jam bertanding, kurangnya try out untuk menghadapi petinju-petinju yang memiliki kemampuan lebih dari kita,” kata Adi.