Trantib Oesapa Bantai Babi yang Berkeliaran

berbagi di:
Lurah Oesapa, Yohanes Keban

 

Lurah Oesapa, Yohanes Keban

 

 

Leksi Salukh

Tim Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) Kelurahan Oesapa, Kota KUpang, NTT menindak tegas menertibkan ternak peliharaan warga yang tidak dikandangkan. Dalam operasi penertiban baru-baru ini, Tim Trantib menangkap empat ekor babi yang berkeliaran bebas. Babi-babi itu langsung disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada warga.

Empat ekor babi yang dibantai oleh Trantib itu adalah milik Andreas Tabala, warga RT 33/RW 11 Kelurahan Oesapa. Tim yang tergabung dalam operasi penertiban tersebut terdiri dari Satpol PP, aparat Kelurahan Oesapa, dan sejumlah warga. Penertiban ternak sesuai kesepakatan bersama di kelurahan.

Saat dikonfirmasi VN, Jumat (29/12), Andreas mengatakan, babi peliharaannya ada 21 ekor, termasuk empat ekor yang sudah menjadi korban operasi penertiban itu.

Dia mengatakan, saat tim melakukan operasi, empat ekor babi miliknya itu berkeliaran bebas sehingga langsung ditangkap dan dipotong.

“Memang ada edaran yang disampaikan Ketua RT. Jadi sesuai kesepakatan bersama sebelumnya bahwa ternak yang kedapatan berkeliaran langsung ditangkap dan dipotong. Dagingnya dibagikan kepada masyarakat. Saat pulang dari pasar, saya diberitahu bahwa babi saya dipotong karena kedapatan berkeliaran. Saya langsung pergi cari tahu, tapi dagingnya sudah habis dibagikan,” tuturnya.

Dia juga mengakui sebelumnya Ketua RT/RW setempat sudah menginformasikan agar mengandangkan ternak babi. Dan, pihaknya pun mengandangkan 21 ekor babi miliknya. Namun dia mengaku tidak tahu mengapa saat operasi penertiban, ada empat ekor babi miliknya yang berkeliaran bebas.

“Iya babi-babi keluar dari kandang dan sudah dipotong. Dagingnya sudah dibagi-bagi. Saya tidak dapat. Padahal dalam kesepakatan itu jelas bahwa pemilik juga dapat dagingnya,” keluhnya.

Andreas mengaku kecewa karena babi yang dipeliharanya itu untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.

“Saya kecewa karena babi yang saya pelihara untuk biaya anak sekolah. Tapi sebagai masyarakat kecil tidak bisa berbuat banyak,” ungkapnya.

Dia berharap agar pemerintah kelurahan bisa berlaku adil kepada masyarakat, sehingga aturan untuk warga yang memiliki babi juga berlaku hal yang sama.

“Saya harap bisa lakukan penertiban secara adil. Jangan sampai hanya saya punya saja yang ditangkap dan dipotong,” katanya.

 

Sangat Mengganggu

Lurah Oesapa, Yohanes Keban yang dikonfirmasi, menjelaskan bahwa tim penertiban ternak bergerak sesuai kesepakatan bersama merespons keluhan masyarakat akan maraknya ternak babi berkeliaran di Oesapa.

“Kami lakukan atas keputusan dan kesepakatan bersama pemerintah kelurahan, Ketua RW, Ketua RT, Ketua LPM, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda, karena keberadaan babi yang berkeliaran di Oesapa sudah sangat mengganggu,” katanya.

Dia mengatakan kesepakatan bersama tersebut sudah sejak awal Desember dan kesepakatan tersebut telah disosialisasikan kepada masyarakat melalui para ketua RT dan ketua RW, pengurus LPM, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan unsur lainnya.

“Tidak ada keputusan sepihak. Ini atas kesepakatan bersama. Terkait warga yang klaim itu babi miliknya, itu tidak disertakan bukti atau tanda kepemilikan seperti potong telinga atau tanda lain,” katanya.

Menjawab keluhan Andreas selaku pemilik babi yang tidak kebagian daging, Lurah Yohanes mengatakan, daging sudah disisakan untuk pemilik. Namun, saat disuruh mengambil, yang bersangkutan enggan mengambilnya.

“Saat ke kantor lurah saya persilakan ambil, tapi malah tidak mau ambil setelah ditanya tentang bukti kepemilikan. Jadi babi yang ditangkap itu tidak ada tanda kepemilikan, dan itu dianggap liar,” katanya.

Dia membantah informasi bahwa tim menangkap babi di kandang. “Siapa yang bilang tangkap babi dikandang? Bagaimana mungkin pergi tangkap di kandang, itu termasuk curi,” tegasnya.

Dia menjelaskan, sesuai Perda Kota Kupang Nomor 10 Tahun 2003 tentang Pengaturan Penertiban dan Izin Pemeliharaan Ternak, mengatur jelas bahwa warga yang memelihara ternak harus mengandangkan. Kenyataannya tidak demikian, sehingga perlu langkah penertiban.

Selama ini, lanjutnya, masyarakat mengeluhkan soal babi yang berkeliaran bebas di pasar, masuk kios, bahkan masuk lingkungan masjid maupun kawasan gereja dan halaman warga. Selain membuang kotoran, babi juga merusak tanaman di pekarangan warga.

“Pol PP kita hadirkan karena fungsinya mengamankan Perda. Dan operasi penertiban ternak ini sesuai kesepakatan bersama semua elemen, jadi bukan sepihak,” tegasnya.

Kasat Pol PP Kota Kupang, Thomas Dagang dikonfirmasi mengaku kehadiran Sat Pol PP atas koordinasi dari pihak Kelurahan Oesapa. “Nanti tanyakan ke pihak kelurahan, karena mereka mengundang, terkait Perda Ternak mengatur perlu ada izin dan harus dikandangkan bukan melepas ternak bebas berkeliaran,” tandasnya. (lys/H-2)