VBL: Tidak Boleh Ada Ego Sektoral Bangun Pariwisata NTT

berbagi di:
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) saat memberikan arahan dalam dialog strategis pembangunan NTT Tahun 2018-2023 bersama DPRD NTT dan pimpinan OPD lingkup Provinsi NTT di Aston Hotel Kupang, Rabu (10/10).

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) saat memberikan arahan dalam dialog strategis pembangunan NTT Tahun 2018-2023 bersama DPRD NTT dan pimpinan OPD lingkup Provinsi NTT di Aston Hotel Kupang, Rabu (10/10).

 

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) menegaskan pentingnya menghindari ego sektoral untuk membangun pariwisata NTT.

“Semua sektor yang disebutkan itu akan dipasok ke pariwisata yang akan kita bangun lima tahun ke depan. Karena itu saya peringatkan semua OPD di Pemprov NTT untuk tidak bekerja dalam ego sektoral. Jadi kalau ke depan, ada orang perikanan atau pertanian katakan itu urusan pariwisata, atau pertanian, maka orang itu tidak paham pembangunan pariwisata,” tegas VBL dalam dialog strategis pembangunan NTT Tahun 2018-2023 bersama DPRD NTT dan pimpinan OPD lingkup Provinsi NTT di Aston Hotel Kupang, Rabu (10/10).

Ia mengatakan, di masa kepemimpinannya pariwisata akan menjadi penggerak pembangunan. Pariwisata memiliki rantai pasok pendukung yakni sektor pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan. Sehingga ego sektoral tidak akan memuluskan tujuan tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTT Marius Ardu Jelamu mengatakan untuk memajukan pariwisata NTT diperlukan event berskala besar di kabupaten/kota.

“Pengalaman dan data menunjukkan begitu ada event besar itu, kunjungan wisatawan meningkat karena para wisatawan itu memiliki banyak aktivitas seperti mengunjungi lokasi wisata dan sekaligus menikmati event yang digelar. Hal itulah yang membuat banyak wisatawan lama tinggal di suatu daerah yang memiliki event dan sekaligus destinasi wisata,” jelasnya.

Ia menghimbau pemkab/pemkot meningkatkan kualitas koreografinya dengan menggandeng para koreografer nasional berpengalaman untuk mendukung event budaya daerah.

Dinas Pariwisata Provinsi dan Kabupaten/Kota bisa berkolaborasi untuk memodifikasi atau memoles tarian-tarian tradisional agar lebih menarik tanpa menghilangkan esensinya. Dengan bantuan koreografi berpengalaman dan profesional, event-event lokal bisa mengkolaborasi musik moderen dengan musik tradisional untuk menyajikan pertunjukan yang lebih menarik.

Ia menambahkan, perlu ada pra event sebelum festival utama unruk memberi manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat setempat seperti yang telah dilaksana di Kabupaten Lembata (Festival Tiga Gunung), Kabupaten Belu (Festival Fulan Fehan), di Labuan Bajo (Komodo) dan Festival Kebangsaan di Ende.

Selain dampak ekonomi, Marius menambahkan, event wisata juga menjadi moment persaudaraan yang mempertemukan wisatawan dari luar negeri dengan masyarakat setempat. Nilai sosial budaya dari event-event yang ada, bahkan tak bisa diukur dengan uang.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Malaka Rofinus Bau mengatakan, kendala yang dihadapi dalam mengembangkan pariwisata di Malaka yakni masih terbatasnya SDM, kurangnya saluran informasi, belum terintegrasinya leading sector, serta kurangnya anggaran. Pihaknya akan terus berupaya mempromosikan pariwisata Malaka melalui event wisata yang dipromosikan melalui media cetak dan elektronik. (mg-19/kon-04/R-4)