Wagub JNS: Jangan Berkecil Hati Meski Belajar di Bawah Pohon

berbagi di:
Wagub NTT Josef Nae Soi foto bersama para siswa dan guru SMAn 3 Amarasi Timur kemarin. Wagub didampingi Kadis Pendidikan Johanna E Lisapaly, Kadis Sosial Welem Foni, dan Kadis Ketahanan Pangan dr Niken Mitak.

Wagub NTT Josef Nae Soi foto bersama para siswa dan guru SMAn 3 Amarasi Timur kemarin. Wagub didampingi Kadis Pendidikan Johanna E Lisapaly, Kadis Sosial Welem Foni, dan Kadis Ketahanan Pangan dr Niken Mitak.

Stef Kosat

SMAN 3 Amarasi Kabupaten Kupang ambruk deterjang puting beliung , 10 September 2018 lalu. Mendengar berita ini, Wagub NTT Josef Nae Soi (JNS) langsung mengunjungi sekolah tersebut Kamis (13/9).

JNS salut dengan semangat para guru dan siswa yang tetap semangat melaksanakan kegiatan belajar meski hanya di bawah pohon.

Ia mengaku dunia pendidikan tak terpisahkan dari hidupnya.

“Saya seorang guru. Saya 46 tahun jadi guru di universitas. Saya sangat mencintai sekolah dan pendidikan. Karena itu, setelah membaca berita tentang sekolah ini tadi pagi, saya langsung ke sini,” katanya.

Ia mengajak para guru dan siswa agar tidak putus asa.

“Sekolah roboh, semangat belajar dan mengajar tidak boleh roboh. Kreativitas tidak boleh kendur. Bapak Pendidikan Dunia yakni Aristoteles itu mengajar muridnya di bawah pohon. Sekolah yang didirikannya bernama Academico. Murid-muridnya seperti Plato begitu tersohor dan berpengaruh besar bagi perkembangan pemikiran dewasa ini,” tuturnya.

Dia meminta para siswa dan guru untuk tidak putus asa dan terus belajar dengan semangat. Ia juga mengapresiasi para guru yang tetap setia mengajar dalam keterbatasan.

“Para guru, jasamu sangat luar biasa. Jasamu tak terkira. Jasamu dalam mengantarkan generasi muda di sini pasti akan mendapatkan pahala dari Tuhan,” kata JNS.

 

Bangunan Darurat
Wagub JNS memberikan bantuan pribadi berupa dana Rp 10 juta untuk membangun bangunan darurat untuk KBM.

“Bantuan ini tidak seberapa, tapi mudah-mudahan membantu untuk buat bangunan darurat supaya anak-anak tidak lagi sekolah di bawah pohon. Bantuan ini semata karena saya adalah seorang guru serta cinta akan sekolah dan pendidikan. Untuk gedung permanennya, menjadi tugas dan perhatian dari Ibu Kadis Pendidikan NTT,” katanya.

Sementara, Kepala SMAN 3 Amarasi Timur Dina A Sakbana mengatakan, sekolah didirikan tahun 2014. Bangunan berdinding bebak dan beratap daun gewang. Ada satu bangunan permanen, tapi untuk kantor, yang dibangun dengan dana sumbangan dari Kementerian Pendidikan pada 2015 lalu.

“Pada hari Minggu (9/9) pukul empat sore, empat ruangan kelas roboh rata tanah diterpa angin puting beliung. Syukurlah kejadian ini terjadi pada hari libur sehingga tidak ada korban jiwa. Selama tiga hari ini proses KBM berjalan seperti biasa walau di bawah pohon. Kami tetap menjalankan kewajiban upacara bendera setiap pagi,” jelasnya.

Dina menjelaskan, ada 78 pelajar di sekolah itu. Mereka diajar oleh 11 orang guru, tiga guru PNS dan delapan guru honorer.

“Kami sudah sepakat dengan kepala desa, warga, dan komite serta orangtua untuk membangun kembali gedung kelas sederhana secara gotong-royong selama satu minggu ke depan. Kami juga sampaikan terima kasih kepada Bapak Wagub yang sudah datang melihat kami dan memberikan bantuan,” kata Dina.

“Terima kasih atas kunjungan perdananya Bapak Wagub,” tambah Camat Amarasi Timur Yakob Banesi atas kepedulian Wagub JNS.

Kadis Pendidikan NTT Johanna E Lisapaly berjanji akan mendata keadaan sarana dan prasarana sekolah yang jadi kewenangan pemerintah provinsi.

“Kita tentu optimis dengan komitmen kuat dari Gubernur dan Wakil Gubernur baru, kita akan mendapatkan bantuan pusat yang lebih banyak untuk memperbaiki sarana dan prasana sekolah-sekolah di NTT,” kata Johanna.

Dia meminta Kepala SMAN 3 Amarasi Timur agar segera mengantarkan proposal kepada Dinas Pendidikan NTT untuk kepentingan pembangunan gedung sekolah yang roboh.

SMAN 3 Amarasi memiliki enam rombongan belajar dengan jumlah siswa sebanyak 78 orang, terdiri dari dua jurusan yakni IPS dan IPA. Selain itu, ruangan permanen di sekolah itu hanya ada dua satu untuk perpustakaan dan ruang guru. Ruangan permanen ditempati oleh pelajar Kelas XII sedangkan kelas X dan XI sementara belajar di bawah pohon karena ruangan mereka ambruk diterpa angin puting beliung pada Minggu (9/9). (mg-19/S-1)