Wali Kota Kupang Diperiksa Terkait Kasus Menghina Wartawan

berbagi di:
jefri-rk

 

Mutiara Malahere

Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore memenuhi panggilan penyidik Polres Kupang Kota untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi terlapor dalam kasus dugaan penghinaan dan ancaman terhadap wartawan Harian Umum Victory News Leksi Salukh.

Pantauan VN, Rabu (4/4) di Mapolres Kupang Kota, Wali Kota Jefri diperiksa oleh Bripka Yanto Banoet di ruangan Bagian Pelayanan Masyarakat (Bayanmas) Satuan Sabhara Polres Kupang Kota.

Jefri menjalani pemeriksaan didampingi tim kuasa hukum antara lain Novan Manafe, Niko Ke Lomi, Kris Matutina, dan Alan Modjo. Pemeriksaan berlangsung sejak pukul 09.30 – 10.30 Wita.

Usai memberikan keterangan kepada penyidik, Jefri langsung bergegas meninggalkan Mapolres Kupang Kota. Wartawan yang hendak mewawancarainya pun tidak dilayani dengan alasan hendak menerima tamu dari Jakarta.

Penasehat hukum Wali Kota Jefri, Novan Manafe kepada VN mengatakan, kliennya memenuhi panggilan penyidik untuk memberikan klarifikasi atas laporan Leksi Salukh terkait adanya dugaan penghinaan yang dilakukan oleh Wali Kota.

“Kami mendampingi Wali Kota untuk datang memberikan keterangan kepada penyidik terkait penghinaan ringan ini, dan Wali Kota Kupang juga sebagai warga negara yang baik dan taat hukum telah memenuhi undangan penyidik dan memberikan keterangan terkait kejadian itu,” jelas Novan.

Terkait adanya kata-kata hinaan dan ancaman yang dilontarkan Wali Kota Jefri kepada Leksi Salukh, Novan mengatakan bahwa dalam pemeriksaan kemarin, Wali Kota Jefri mengaku tidak mengingatnya lagi. Sebab, saat itu dirinya sibuk menerima banyak panggilan melalui telepon selularnya.

“Pada hari kejadian itu, Pak Wali Kota sementara sibuk menerima banyak panggilan telepon, dan pada saat itu, wartawan Leksi meneleponnya lalu terjadi percakapan itu. Namun kami juga belum mengetahui persis bentuk percakapan yang berujung pada makian seperti yang dilaporkan oleh wartawan Leksi,” ungkap Novan.

Pihaknya berharap agar proses hukum bisa segera tuntas sehingga dapat memberikan jalan terbaik bagi kedua belah pihak.

“Masalah ini sebenarnya sangat sepele, dan pemicunya kurangnya komunikasi antara wartawan dengan Pak Wali, sehingga kami harap kejadian ini dapat menjadi evaluasi agar ke depannya terjalin komunikasi yang baik antara Pak Wali dengan VN,” ucap Novan.

Sementara itu, Wali kota Jefri saat diwawancara di sela-sela kegiatan di Transmart Kupang, kemarin, mengatakan, ia siap jika ada yang memediasi penyelesaian kasus tersebut dengan Leksi Salukh.

“Saya siap saja jika dimediasi. Itu kan masalah dengan adi-adi dorang saja,” katanya. Dia juga mengaku sudah memenuhi panggilan penyidik untuk memberikan keterangan.
Keterangan Ahli Bahasa

Wakapolres Kupang Kota Kompol Edward Jacky Umbu Kaledi yang dikonfirmasi VN mengatakan penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap Wali Kota Kupang terkait kasus dugaan penghinaan ringan yang dilaporkan oleh wartawan VN, Leksi Salukh.

“Langkah selanjutnya penyidik akan mengambil keterangan saksi ahli bahasa dan ahli hukum terkait bahasa dan penghinaan sesuai dengan keterangan dan bukti awal dalam laporan dari wartawan VN itu,” jelasnya.

Kapolres Kupang Kota AKBP Anthon Christian Nugroho membenarkan pemeriksaan terhadap Wali Kota Jefri, kemarin.

“Ya, Wali Kota diperiksa terkait laporan wartawan,” ucap Anthon.

Menurutnya, Wali Kota sangat koperatif dengan proses pemeriksaan.

“Pak Wali Kota sangat kooperatif dalam kasus ini,” ucap Anthon.

Sebelumnya diberitakan, wartawan Victory News, Leksi Salukh melaporkan Wali Kota Jefri ke Polda NTT dan Polres Kupang Kota, Sabtu (24/3) pagi. Leksi mengadukan Jefri karena tidak terima dirinya dimaki dan diancam.

Menurut Leksi, Jefri tidak terima dengan berita yang ditulisnya yang berjudul “Jefri Enggan Jelaskan Kepergiannya ke AS” yang dimuat Victory News.

Setelah berita tersebut terbit pada Jumat lalu, Leksi kembali mencoba meminta Wali Kota Jefri menjelaskan tentang hasil kunjungannya ke Amerika Serikat. Jefri kemudian membalas pesan singkat yang dikirim Leksi, sekaligus mengirim foto koran dan menanyakan alasan Leksi menulis berita dengan judul yang dianggap menyudutkannya.

Tak berselang lama, Wali Kota Jefri menelepon Leksi lalu melontaskan kata-kata hinaan, makian dan ancaman. Leksi merekam semua pembicaraan itu dan menjadikannya sebagai barang bukti. “Yang membuat saya tidak nyaman itu, dia sebut saya … monyet dan anjing…’, serta mengancam saya. Saya pun dengan tenang menjelaskan maksud saya konfirmasi, tapi beliau terus memaki saya. Saat itu saya berada di dalam ruang redaksi sehingga didengar oleh rekan saya yang lain,” ujar Leksi. (tia/wan/C-1)