Warga Laindeha Ditantang Kembangkan Pertanian

berbagi di:
upati Sumba Timur Gidion Mbilijora (membelakangi lensa) menerima kunci sumur bor dan dokumen aset dari Pengawas Air Tanah dan Air Baku BSW-NT II Wilayah III Sumba Wilhelmus Mir (ketiga dari kanan), saat penyerahan di kantor UPT Translok Lainbaru, Desa Laindeha, Selasa (10/10) petang. Foto: Frangky Johannis/VN

Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora (membelakangi lensa) menerima kunci sumur bor dan dokumen aset dari Pengawas Air Tanah dan Air Baku BSW-NT II Wilayah III Sumba Wilhelmus Mir (ketiga dari kanan), saat penyerahan di kantor UPT Translok Lainbaru, Desa Laindeha, Selasa (10/10) petang.  Foto: Frangky Johannis/VN

 

Frangky Johannis

Warga Kampung Bank NTT dan masyarakat Desa Laindeha, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur ditantang untuk bisa mengembangkan pertanian lahan kering di wilayah tersebut.

Menurut Ketua DPRD Palulu P Ndima, lahan di wilayah Desa Laindeha sangat potensial untuk dikembangkan tanaman umur pendek maupun umur panjang. Sehingga, dengan adanya bantuan satu unit traktor dari CSR Bank NTT dan satu unit sumur bor dari Balai Sungai Wilayah Wilayah Nusa Tenggara II (BSW-NT II), masyarakat harus mengolah lahan tidur yang selama ini tidak dikelola karena ketiadaan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta air.

Ia berharap ke depan Laindeha menjadi salah satu sentra produksi hortikultura yang memasok kebutuhan Kabupaten Sumba Timur dan bisa pula dijual ke seluruh daratan Sumba, bahkan ke luar pulau.

“Masyarakat harus membuktikan bahwa bantuan ini bisa meningkatkan perluasan areal pertanian. Soal bantuan sumur bor, saya sudah komunikasikan dengan pihak BSW-NT II untuk pengadaan tambahan dua titik di sini tahun depan.
Mudah-mudahan bisa dibantu, asalkan warga memanfaatkan dan merawat yang sudah ada ini secara sebaik-baiknya,” kata Palulu.

Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora mengatakan, baru-baru ini dirinya bertemu salah seorang pengusaha buah dari Malang, Jawa Timur. Pengusaha tersebut sangat memuji mangga arum manis asal Waingapu dan Sumba Timur pada umumnya sangat manis.

Ia berharap warga di sini bisa mengembangkan mangga arum manis yang menurut pengusaha tersebut bisa tembus ke pasaran luar negeri, seperti Philipina dan Singapura.

Pengawas Air Tanah dan Air Baku BSW-NT II Wilayah III Sumba Wilhelmus Mir berharap masyarakat Desa Laindeha dapat memanfaatkan sekaligus memelihara sarana air bersih ini sebaik-baiknya.

Ia mengingatkan masyarakat untuk menjadikan bak-bak penampung air di wilayah masing-masing sebagai tempat untuk berbagi kasih, bukan tempat untuk berbagi gosip. Sebab, kalau untuk berbagi gosip, maka akan timbul permasalahan yang bisa meretakkan persaudaraan dan kebersamaan yang telah terjalin baik.

Adrianus, kontraktor pelaksana pembangunan sumur bor tersebut menjelaskan, aset sumur bor yang diserahkan kepada kelompok pemakai air, yakni satu unit rumah panel berukuran 8×15 meter lengkap dengan menara air (reservoar) berdaya tampung 15.000 liter, satu unit modul berserta pompa tenaga surya, tujuh unit bak penampung (hidran umum) berukuran 2.250 liter yang ditempatkan pada tujuh titik, serta jaringan pipa sepanjang.

“Kami juga berharap seluruh aset yang diserahkan ini dijaga dengan baik agar kebutuhan air bersih masyarakat di sini terpenuhi,” katanya.

Kepala Desa Laindeha Joni Marambatana mengaku, selama ini lahan pertanian di Laibaru sangat bagus, namun karena terkendala ketiadaan alat pengolahan lahan (traktor) dan kekurangan air, sehingga lahan tidak bisa
dimanfaatkan secara maksimal.

Menurutnya, selama ini warga menggunakan air dari dua mata air, yakni Lainpati dan Laindeha. Namun, karena debit airnya tidak mencukupi apalagi pada musim kemarau panjang, debit air menurun dratis. Namun dengan bantuan sumur bor yang ada saat ini dan akan ditambah lagi sesuai janji Ketua DPRD, maka pihaknya sangat yakin masyarakat akan giat mengolah lahan tidur yang ada. (bev/ol)