Yapenkris Nehemia Buka-Bukaan

berbagi di:
Pihak Sinode GMIT menggelar rapat bersama Yanpenkris Nehemia, kemarin. Hadir Kepala SMK Kristen 2 Kupang, Ketua BPP Sinode GMIT Pdt Ellisa Maplani, dan Sekretaris Yapenkris Nehemia Benyamin Keo.

Ket Foto : Pihak Sinode GMIT menggelar rapat bersama Yanpenkris Nehemia, kemarin. Hadir Kepala SMK Kristen 2 Kupang, Ketua BPP Sinode GMIT Pdt Ellisa Maplani, dan Sekretaris Yapenkris Nehemia Benyamin Keo.

 

Setelah mendapat penolakan dari berbagai kalangan termasuk Sinode GMIT, pihak Yayasan Pendidikan Kristen (Yapenkris) Nehemia yang mengelola SMK 2 Kristen Kupang, akhirnya buka-bukaan. Di hadapan pengurus MS GMIT, para guru, komite sekolah, dan para orangtua murid SMK Kristen 2, Rabu (30/8) kemarin, Yayasan Nehemia menceritakan alasan-alasan mereka mengusulkan penutupan sekolah tersebut kepada Pemprov dan Dinas Pendidikan NTT.
Turut hadir Kepala SMK Kristen 2 Kupang, Sartje A Bolla, Ketua BPP Sinode GMIT Pdt Ellisa Maplani, dan puluhan orangtua siswa.

“Total siswa di sekolah hanya 45 orang. Sebagian besar menunggak uang sekolah (SPP: sumbangan penyelenggaraan pendidikan). Akibatnya, gaji guru pun tak bisa dibayar,” ungkap Sekretaris Yapenkris Nehemia Benyamin Keo.

Dia menjelaskan, jumlah siswa tidak memadai. Tiap tahun jumlah pelajar terus menurun drastis dan tidak sesuai standar pendidikan nasional. Saat ini, total pelajar hanya 45 orang. Selain itu, tidak ada lagi sumber dana untuk membayar gaji guru selama ini. Sementara itu, sebagian pelajar menunggak SPP.

“Kami harus akui usulan menutup sekolah ini atas dasar kondisi sudah tidak memungkinkan lagi, terlebih sumber dana untuk bayar gaji guru-guru tidak ada,” katanya.

Dengan mempertahankan SMK Kristen 2, katanya, maka harus dipikirkan mengenai sumber dana untuk membayar gaji guru-guru, agar mereka bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Tak kalah pentingnya sosialisasi kepada masyarakat, terlebih warga GMIT untuk menyekolahkan anak-anaknya pada SMK Kristen 2.

Sosialisasi harus dilaksanakan bersama, baik Yapenkris, sekolah maupun para pendeta GMIT melalui mimbar gereja. Selain itu, kata dia, orangtua pun harus melaksanakan kewajiban membayar uang SPP, yang selama ini menjadi satu-satunya sumber dana untuk membayar gaji guru.

“Siswa sedikit tetapi banyak yang menunggak SPP sehingga kita tidak bisa bayar honor guru. Dana BOS dari pemerintah memang ada, namun tak bisa dipakai untuk membayar gaji guru,” katanya.

Benyamin juga menegaskan bahwa untuk mempertahankan sekolah Kristen, maka keputusan bersama Sidang Sinode GMIT untuk menyetor dana 2 persen dari tiap mata jemaat, harus dipatuhi.

Gereja tak Merespons

Selama ini, katanya, Yapenkris Nehemia telah menyurati gereja-gereja GMIT untuk meminta bantuan, namun tak ada yang merespons. Bahkan, Yapenkris Nehemia pun pernah mengajukan pinjaman dana ke Sinode GMIT untuk membayar gaji guru, namun tidak direspons juga.

“Kami sudah tempuh berbagai cara, tapi sampai sejauh ini tidak direspons. Kecuali pemerintah yang membantu melalui dana BOS, perbaiki gedung dan bantuan dari BPR TLM melalui beasiswa,” katanya.

Ditegaskannya pula bahwa ada desas-desus selama ini bahwa gedung sekolah sudah disewakan, namun itu tidaklah benar. Soal dugaan penyimpangan pengelolaan dana oleh Yapenkris, ia juga membantahnya dengan tegas. “Kecurigaan di luar ada, tapi sampai sejauh ini belum ada seperti itu. Silakan tanyakan langsung di Yapenkris, tapi saya bilang itu tidak benar,” katanya.

Silakan Diganti

Menanggapi komentar dan kritikan yang menghendaki pergantian pengurus Yapenkris Nehemia, Benyamin mempersilakan untuk diganti dengan pengurus yang baru.

“Silakan anak-anak muda mau masuk. karena kami ingin istrahat. Kalau ada perubahan untuk yang baik, kami sangat bersyukur dan kami siap tinggalkan, bahkan kami akan buat syukuran karena lepas dari pengurusan Yapenkris, karena sudah bisa bebas,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Sebelumnya, Ketua MS GMIT Pdt Dr Mery Kolimon mengadakan rapat bersama pengurus Yapenkris Nehemia, dihadiri Ketua Badan Pendidikan GMIT serta unsur-unsur terkait pada Selasa (29/8). Rapat dilaksanakan sejak pagi hingga sore, di mana telah diputuskan untuk tidak menutup SMK Kristen 2 Kupang.

Alasannya, tindakan Yapenkris Nehemia menyurati Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT tentang rencana menutup SMK Kristen 2 Kupang bertentangan dengan Keputusan Sidang Sinode XXXIII di Rote Ndao 2015 lalu. Sekolah kejuruan itu tidak akan ditutup dan GMIT akan meninjau kembali keputusan Yapenkris Nehemia.