13 Jam Bangkai Paus belum Bisa Dikubur

berbagi di:
PROSES PENGUBURAN: Excavator menarik ekor paus namun tidak bergerak.

Dua unit excavator tak kuat menarik bangkai ikan paus yang beratnya sekitar 100 ton. Dua kali pula bangkai ikan tak bisa ditusuk. Besi runcing yang dipasang pada excavator, bengkok, tak bisa menembus kulit paus biru itu.

Yappy Manuleus

HINGGA pukul 01.17 Wita, Kamis (23/7) dini hari tadi, bangkai ikan paus biru (Blue Whale) yang terdampar di Pantai Nunhila, Kota Kupang pada Selasa (21/7) petang lalu, belum bisa dikuburkan di pantai Dusun 04, Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang.
Tim Gabungan yang terdiri dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTT, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, PLTU PP Air China, Polsek Kupang Barat, Fak Kedokteran Undana dan tokoh masyarakat, belum mampu memindahkan paus ke dalam lubang.
Wartawan VN, Yappy Manuleus yang berada di lokasi sejak siang hari melaporkan, proses penguburan di pesisir kompleks Proyek PLTU Timor 1 tersebut, berjalan cukup alot. Padahal sejak ditarik dari Pantai Uitao, Pulau Semau, sudah memakan waktu lebih dari 13 jam.
Sisaksikan VN, dua speedboat dan satu unit kapal perikanan menarik bangkai ikan paus itu dari pantai Nunhila menuju Pantai Uitau di Pulau Semau sekitar pukul 12.00 Wita, Rabu (22/7) kemarin. Selanjutnya pada sekitar pukul 13.08 Wita, bangkai paus ditarik menuju Pantai Tablolong, tepatnya di pantai Air China yang masuk dalam wilayah Dusun 04-Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang.
Butuh waktu sekitar lima jam menarik bangkai mamalia laut itu. Sebab, bangkai baru bisa ditarik merapat di sekitar dermaga PLTU Air China Tablolong pada pukul 17.20 Wita. Namun, saat itu, air laut sedang pasang surut sehingga bangkai paus tak bisa ditarik ke pantai.
Tim lantas melakukan penggalian lubang sekitar 90 meter dari bibir pantai dengan ukuran lebar 5 meter panjang 30 meter dan kedalaman 4 meter. Dasar lubang dibentang terpal biru.
Hari sudah mulai malam, namun bangkai salah satu ‘raksasa laut’ itu belum juga ditarik ke darat. Sebab masih menunggu air pasang. Saat yang ditunggu pun tiba di mana pasang naik mulai terjadi sekitar pukul 19.22 Wita.
Dua excavator milik PLTU mulai dioperasikan untuk menarik bangkai paus. Namun, kondisi air laut yang belum mencapai pasang maksimal menyebabkan paus dengan bobot sekitar 100 ton itu tak bergeming.
Tim yang mulai kelelahan sejak siang, harus sabar menanti air pasang mencapai titik maksimal. Sekitar pukul 21.45 Wita, saat pasang naik mencapai titik maksimal, bangkai ikan kembali ditarik exavator dibantu Tim Gabungan dan warga sekitar. Terlihat Kapolsek Kupang Barat Ipda Sadikin bersama anggotanya mengawasi ratusan warga yang ikut menyaksikan proses penguburan tersebut.
Pukul 22.35 Wita, bangkai ikan baru bisa ditarik naik ke darat, tergolek di pasir pantai. Namun, kondisi pantai menyulitkan proses evakuasi dari bibir pantai menuju lubang.
Akhirnya Kepala BKKPN Kupang Ikram Sangadji, Kepala BBKSDA NTT Timbul Batubara, dan Kacab DKP Wilayah Kerja Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Sabu Raijua dan Rote Ndao, Fransesco Meo memutuskan untuk menggali lubang baru yang lebih dekat ke pantai yakni sekitar 50 meter dari bibir pantai dengan ukuran 5×30 meter dengan kedalaman empat meter.
Disepakati juga bangkai ikan yang sudah mengembung itu ditikam antara pukul 00.00 Wita atau 00.30 Wita di saat air pasang mencapai ketinggian maksimal.
Menurut Ikram Sangadji dan Timbul Batubara, penikaman bertujuan mengeluarkan gas metan serta bangkai ikan yang mengembung bisa mengempis agar bisa masuk ke dalam lubang. Dua exavator pun bergerak menuju lubang untuk persiapan penguburan. Satu exavator berfungsi menikam bangkai ikan, dan yang satunya bertugas menarik bangkai untuk masuk ke dalam lubang. Keduanya juga memperkirakan paus yang mati terdampar ini berusia sekitar 80 hingga 90 tahun.
Sekitar pukul 00.30 Wita, bangkai ikan pun ditusuk menggunakan pipa tajam yang dipasang pada ujung exavator, tetapi pipa patah. Gagal menembus daging bangkai paus yang tebal.
Kepada VN, Kepala Seksi Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan pada Kacab DKP Wilayah Kerja Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Sabu Raijua dan Rote Ndao, Yoyos Thelik mengatakan bahwa penikaman dilakukan saat pasang naik maksimal agar darah, isi perut dan semua kotoran akan terbawa ke laut, lalu terurai dan menjali makanan ikan. Sebaliknya, jika ditusuk saat pasang naik belum maksimal, maka saat air pasang, jusrtru kotoran akan terangkut ke pantai dan mencemari lingkungan pantai.
Hingga pukul 00.57 Wita, ekor ikan diikat dengan tali dan ditarik dua exavator, namun bangkai ikan bergeserpun tidak. Bangkai ikan kembali ditikam menggunakan pipa runcing namun gagal. Pipa bengkok, tak bisa menembus kulit dan daging ikan paus itu.
Tali nilon ukuran besar yang dipergunakan untuk menarik bangkai paus, putus. Empat unit truk milik PLTU setia menyalakan lamput sorot untuk menerangi proses evakuasi. Hingga pukul 01.17 Wita, bangkai paus belum bisa juga ditarik mendekat ke lubang kubur. (mg-25/E-1/yan/ol)