13 Negara Tolak Resolusi PBB soal Kecaman Hukuman Mati bagi LGBT

berbagi di:
Gay rainbow flags at Montreal gay pride parade with blurred spectators in the background

Ilustrasi LGBT

 

Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar pemungutan suara terkait resolusi untuk mengecam hukuman mati bagi kelompok lesbian, gay dan transgander (LGBT).

Ada 47 negara anggota yang ikut serta dalam pemunguntan suara tersebut. Sebanyak 27 menyatakan dukungannya.

Negara tersebut adalah Kongo, Pantai Gading, Ghana, Rwanda, Afrika Selatan, Togo, Kirgizstan, Mongolia, Albania, Kroasia, Georgia, Hungaria, Latvia, Slovenia, Bolivia, Brasil, Ekuador, El Salvador, Panama, Paraguay,
Venezuela, Belgia, Jerman, Belanda, Portugal, Swiss dan Inggris Raya.

Sementara yang menentang kecaman PBB sebanyak 13 negara, mereka adalah China, Irak, AS, Arab Saudi, Botswana, Burundi, Mesir, Ethiopia, Bangladesh, India, Jepang, Qatar dan Uni Emirat Arab.

Indonesia pun sebagai anggota Dewan HAM turut ikut serta dalam pemungutan suara. Delegasi RI bersama enam negara lain memilih abstain.

Dengan 27 mendukung, 13 menolak dan 7 abstain, PBB akhirnya mengesahkan resolusi mengecam keras penerapan eksekusi mati sebagai sanksi atas beberapa perbuatan seperti kemurtadan, penghujatan, perzinahan dan hubungan seks sesama jenis.

Pada pemungutan suara tersebut sikap AS yang menentang kecaman PBB menjadi sorotan tajam. Dalam pernyataan sikapnya Negeri Paman Sam menyebut, eksekusi bukan berarti pelanggaran HAM.

Kelompok pendukung LGBT AS menyebut kebijakan AS di PBB lebih dari pada sebuah penghinaan. Kecaman serupa pun disampaikan mantan Penasihat Keamanan Presiden Barack Obama, Sussan Rice.

“AS memalukan, saya sempat bangga dapat membawa perjuangan AS ke PBB untuk melindungi LGBT, itu terjadi saat AS berdiri untuk HAM setiap orang,” sebut Rice dalam twitternya seperti dikutip dari The Intercept, Rabu (4/10).

 

Sumber: Kumparan