13 Sapi Mati Tersambar Petir

berbagi di:
foto-hal-01-sapi-mati

Inilah 13 ekor sapi yang mati tersengat petir di waktu hujan, Kamis (5/12) petang. Tampak perut sapi-sapi membengkak. Bangkai sapi sudah diangkut keenam pemiliknya. Foto: MI

 

 

Warga Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, NTT Kamis (5/12) petang dibuat terkejut lantaran 13 ekor sapi milik empat orang peternak terbujur kaku dan mati terkena sambaran petir saat hujan deras mengguyur wilayah Kota Kupang dan sekitarnya.
Ke 13 ekor sapi itu adalah milik beberapa warga yaitu Junus Mimfini, Daud Tosi, Yakob Apaut, Bincar Susang, Lukas Saketu, dan Ance Apaut.

Peristiwa yang baru pertama terjadi tersebut cukup menggemparkan warga sekitar yang kemudian ramai-ramai mendatangi lokasi kejadian setelah hujan reda sekitar pukul 15.00 Wita.

Daud Tosi, saksi mata yang juga pemilik sapi yang mati kepada wartawan di lokasi kejadian mengakui saat kejadian ia berada di dekat lokasi kejadian. Saat itu dia sedang mencari sapinya yang lepas di daerah sekitar lokasi kejadian.

Ia menyaksikan sapi-sapi berlari berhamburan saat terkena petir. “Saya melihat belasan ekor sapi di padang berhamburan (saat petir menghujam) lalu terkapar satu demi satu,” tukasnya.

Ia lalu mendekati lokasi kejadian melihat 13 ekor sapi mati di sekitar lokasi kejadian. Ia kemudian pulang ke rumah dan langsung menyampaikan peristiwa tersebut kepada masyarakat dan pemilik sapi untuk datang ke lokasi kejadian guna melihat langsung.

Yakob membenarkan sapinya yang mati diakibatkan terkena petir saat hujan. Ia dan lima orang warga lain selaku pemilik sapi menerima atas peristiwa yang dialami.

Yakon mengatakan, ia kemudian menyampaikan kepada sesama pemilik sapi untuk menghubungi para pedagang dan pembeli hewan untuk dibeli karena cuaca sudah gelap dan hari menjelang malam sehingga perut sapi sudah mulai membengkak.

Pihak kepolisian dari Polsek Kupang Barat Polres Kupang kemudian membantu masyarakat mengevakuasi belasan sapi yang mati terkena petir. “Kita sudah data para korban dan para korban pun iklas menerima peristiwa alam ini,” tandas Kapolsek Kupang Barat Ipda Sadikin.

Camat Kupang Barat Yusak Ulin kepada Media Indonesia, Kamis petang menjelaskan bahwa para peternak menemukan 13 ekor sapi dalam keadaan mati di padang setelah sebelumnya turun hujan deras disertai angin kencang dan petir.

“Saat kejadian, di lokasi terdapat puluhan sapi sedang merumput. Tetapi saat diperiksa, tidak ditemukan tanda-tanda badan sapi terbakar atau berwarna hitam,” ujarnya.

Informasi lain yang dihimpun wartawan menyebutkan peristiwa itu terjadi begitu cepat dan sapi-sapi yang disambar petir berada pada satu lokasi yaitu sebuah padang di Dusun V Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat. Sapi-sapi tersebut sedang digembala oleh pemiliknya di lahan terbuka.

Saat hujan turun, para pengembala berlindung di pondok yang tak jauh dari areal pengembalaan. Tak lama kemudian terdengar guntur kilat bersahutan. Tak berselang lama sapi-sapi terlihat roboh ke tanah.

Setelah hujan berhenti, pengembala mengecek keberadaan sapi-sapi namun ternyata sudah terbujur kaku di tengah padang.
Beberapa saat kemudian petugas dari Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi NTT juga sudah diturunkan ke lokasi kejadian guna melakukan investigasi penyebab kematian sapi-sapi tersebut.

Sebelumnya, petir juga menyambar Dona Riki Nenoliu (22), pemuda Desa Mio, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS pada Selasa (2/12/209) siang. Ia disambar petir saat sedang menerima panggilan telepon di bawah pohon asam.

Riki tersungkur ke tanah dan celana jeans yang digunakan Riki robek di bagian kiri dan pangkal paha kanan terbakar akibat sambaran petir. Pada bagian dada kiri dan kanan terdapat lebam bergaris-garis, paha kiri dan kanan terdapat luka bakar, terdapat juga lebam di bagian punggung.  (MI)