142 Kasus Kebakaran di Kupang

berbagi di:
20180908-ilustrasi-kebakaran_20180908_131449

 

 

Putra Bali Mula

Kasus kebakaran di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur4 hingga pertengahan tahun ini mencapai 142 kasus dengan presentasi jumlah kebakaran lahan kosong sebesar 75 persen.

Jumlah ini naik setiap tahun yakni dari 89 kasus di tahun 2017 menjadi 130 kasus di tahun 2018. Sementara baru memasuki pertengahan tahun 2019 kasus kebakaran tercatat sudah mencapai 142 kasus yang didominasi kebakaran lahan kering sebanyak 75 persen.

Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Kota Kupang, Halen Riwoe di ruang kerjanya, kemarin, menhekaskan, untuk kasus kebakaran lahan diakibatkan oleh berbagai faktor seperti api dari puntung rokok, maupun kesengajaan masyarakat yang membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar.

“Ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat soal membersihkan lahan kering dengan cara membakar ini masih ada. Sementara kami rutin memberikan sosialisasi kepada masyarakat dan anak-anak sekolah soal bahaya kebakaran dan penyebabnya, termasuk bersurat kepada para lurah dan camat untuk mengimbau masyarakatnya. Mencegah sebelum kejadian tentu langkah yang lebih baik,” tukasnya.

Halen memperkirakan luas keseluruhan kasus kebakaran lahan di Kota Kupang kurang lebih mencapai 18 hektare (ha).

“Lahan yang terbakar ini termasuk lahan-lahan milik warga atau sekitar rumah, tidak hanya yang masuk kawasan hutan seperti di Naioni itu,” ungkapnya.

Kebakaran lahan kering dapat memberi dampak langsung dengan tingkat bahaya yang berbeda. Asap misalnya, dapat mengurangi jarak pandang pengendara sehingga berpengaruh pada kelancaran lalu lintas dan berpotensi terjadi kecelakaan. Selain itu sebaran bunga api juga dapat membahayakan masyarakat atau material di lokasi sekitar yang mudah terbakar seperti SPBU. Sedangkan yang paling krusial menurutnya adalah dapat mempengaruhi ketersediaan air tanah.

“Air bawah tanah juga bisa hilang seperempat atau sebagian sebab panas saat kebakaran ini. Itu kerugian yang sulit dihitung dan menurut saya ini kerugian paling besar. Makanya masyarakat kita sosialisasi terus hal ini, jaga alam ini dengan baik,” tukasnya.

Halen mengingatkan kepada masyarakat untuk lebih bertanggung-jawab terhadap lahan-lahan kering yang dimiliki agar tidak dibersihkan dengan cara membakar.

“Kita lihat bahwa belum sampai akhir tahun kejadiannya sudah lebih tinggi dari tahun lalu, sudah 142 kasus. Jadi kami selalu mengimbau masyarakat supaya jangan lagi membakar lahan kering,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTT, Thomas Bangke, kepada VN beberapa waktu lalu menyebut bahwa luas wilayah kawasan hutan yang terbakar mencapai 31 ha hingga pertengahan 2019 ini.

Thomas saat itu menunjukkan data yang diterimanya dari Dinas Kehutanan Provinsi NTT. Ia menyebut kebakaran kawasan hutan di wilayah Kota Kupang mencapai 3 ha.

“Ini turun dari tahun lalu yang 295 hektare sekarang 37 hektare. Itu hampir 15 kabupaten tapi sekarang hanya tiga kabupaten. Kota Kupang 3 hektare, Timor Tengah Utara 4 hektare, Alor 30 hektare,” jelasnya.

Lengkapnya, pada 2015 luas kebakaran kawasan hutan di wilayah NTT yang mencapai 3.887 hektare kemudian turun pada 2016 menjadi 2.194 hektare. Sedangkan pada 2017 kasus yang terjadi kebakaran seluas 521 hektare. Jumlah ini kembali turun pada tahun 2018 yakni 295 hektare, sedangkan hingga Juli 2019 ini terdapat 31 hektare kawasan hutan yang terbakar. (mic/mg-06/D-1)