berbagi di:
Inilah kondisi Embung Guriola yang selama ini menjadi sumber air bagi para petani di Desa Raenyale dan sekitarnya. Saat ini debit air menurun drastis sehingga aktivitas pertanian pun mulai berkurang. Gambar diabadikan kemarin. Foto: Yulius/VN

Inilah kondisi Embung Guriola yang selama ini menjadi sumber air bagi para petani di Desa Raenyale dan sekitarnya. Saat ini debit air menurun drastis sehingga aktivitas pertanian pun mulai berkurang. Gambar diabadikan kemarin. Foto: Yulius/VN

 

Yulius Boni Geti

Dilanda Kekeringan, Petani Sabu Raijua Rugi Jutaan Rupiah

Kekeringan di Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur berdampak langsung bagi petani yang menanam di musim kemarau.

Para petani terpaksa tidak mengolah. Kalaupun menanam makan tidak sebanyak tahun kemarin.

Robby Muskita, Ketua Kelompok Tani Prima Tani di Desa Raeloro kepada VN mengaku hasil pertanian mereka menurun.

Ia mengatakan, hanya 3 dari 23 hektare (ha) lahan yang bisa diolah akrena keterbatasan air.

Bila ada sumur dangkal tentu hasilnya akan lebih baik.

“Semangat kami tetap ada, tetapi ini masalah debit air yang berkurang dan bahkan tidak ada air lagi. Makanya banyak lahan yang tidak diolah. Kalau kita dari sisi untung dan rugi, maka kami sangat dirugikan dan bisa kehilangan jutaan rupiah tahun ini,” ujarnya.

Ia mengaku Desa Raeloro tidak mempunyai jaringan irigasi yang cukup sehingga para petani tidak bisa berbuat banyak.

“Bila punya jaringan irigasi tersier atau dengan selang HDPE yang ukuran 3 dim, bisa melayani petani,” ujarnya.

Mapiga Lao, petani lain mengeluhkan hal yang sama.

Menurutnya, para petani bawang yang setiap tahun bisa panen dua kali, tahun ini gagal panen. Kalaupun ada yang menanam, hanya dalam skala kecil tidak lagi seperti pada tahun-tahun sebelumnya yang bisa menghasilkan berton-ton bawang merah.

“Ya kita maklumi saja, mau bagaimana lagi karena memang alam sudah seperti ini dan kita jadikan ini sebagai ujian sehingga tidak boleh mneyerah pada alam. Kalau masih bisa berbuat, mari berbuat dan bertanam disesuaikan dengan air yang ada,” katanya bijak.

Marame, salah seorang petani di Embung Girola mengatakan air dari embung Guriola saat ini sudah sangat berkurang sehingga para petani yang dulunya bisa panen berkali-kali, tahun ini bahkan ada yang tidak mengolah lahan karena sulit air.

“Pak lihat sendiri saja, kami di sini sudah banyak yang tidak tanam. Bukan karena malas, tapi memang kondisi air seperti itu dan kalau dipaksa juga tidak ada guna karena mau pakai air dari mana. Sedangkan kita selama hanya menggunakan air dari Guriola,” katanya.

Pantaun VN, Senin (2/9) hanya beberapa petani saja yang mengolah lahan di sentral pertanin Sabu Raijua Seperti di Guriola, Raekore, dan Raaeloro.

Petani di sekitar Bendungan Guriola, salah satu bendungan besar di Kecamatan Sabu Barat hampir tidak lagi bertani padahal sangat terkenal dengan sawah dan hasil bawangnya.