Persekusi ala Bekas Tim Sukses

berbagi di:
persekusi

 

Apa pun alasannya, aksi barbar sejumlah bekas tim sukses paket Firmanmu terhadap Wakil Wali Kota Kupang Herman Man tidak bisa ditolerir. Tidak ada sedikit pun legitimasi bagi orang-orang yang merasa pernah menjadi tim sukses untuk seenaknya mengintimidasi dan melecehkan seorang Wakil Wali Kota di ruang kerjanya sendiri.

Sejak pilkada kota berakhir, yang namanya tim sukses otomatis sudah tidak ada lagi. Karena itu, sulit bagi akal sehat untuk menerima seorang pemimpin publik diperlakukan dengan cara-cara menjurus persekusi oleh sekelompok orang yang merasa punya jasa politik.

Dalam politik dikenal istilah “no free lunch”. Tim sukses umumnya bekerja dengan “doping” dan “amunisi” yang dipasok oleh sang kandidat, sehingga tak perlu lagi ada utang budi dan balas jasa dalam bentuk apa pun.

Sejak resmi dilantik, Wali Kota Jefri Riwu Kore dan Wakil Wali Kota Herman Man adalah milik semua orang di kota ini. Karena itu, warga Kota Kupang pantas marah kalau pemimpinnya diperlakukan tidak sepantasnya oleh orang-orang yang pernah menjadi tim sukses hanya karena urusan pribadi yang tidak terkait dengan persoalan kemasyarakatan. Kalau keduanya korup lain ceritanya.

Dalam rekaman video berdurasi enam menit 15 detik yang beredar telanjang di ruang publik, begitu vulgar dipertontonkan bagaimana seorang Wakil Wali Kota “dibola” habis-habisan oleh para “jagoan” yang jumawa paling berjasa mengantar Herman Man duduk di kursi empuknya. Hebatnya lagi, ada yang sampai mengeluarkan kata-kata beraroma membunuh.

Sungguh sangat disayangkan ke mana saja para petugas Satpol PP yang biasanya beringas menghadapi si kecil di pasar-pasar dan trotoar jalanan. Tak terlihat ada perlawanan berarti dari staf internal Pemkot, sehingga para “jagoan” tampak merajalela. Harus ada penyelesaian tuntas secara hukum agar ke depan tidak ada lagi aksi barbarian seperti itu. ASN yang terlibat sebagai tim sukses juga harus dikenai sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Diakui atau tidak, rumor tentang perilaku miring bekas tim sukses bukan lagi isu baru dalam masyarakat. Hanya saja hal tersebut hingga kini masih sebatas kentut, baunya tercium tapi belum terkuak wujudnya. Para korban kebanyakan belum berani memberi testimoni secara terbuka karena khawatir dengan efek negatif yang mungkin saja terjadi.

Dalam kondisi seperti ini, konsistensi dan ketegasan Wali Kota Jefri Riwu Kore menjadi kunci utama menghentikan semua aksi tak terpuji bekas tim sukses. Jefri wajib tampil sebagai panglima untuk membuktikan retorika indahnya bahwa tidak ada pengistimewaan terhadap bekas tim sukses. Sikap cuci tangan dan buang badan ke Wakil Wali Kota jelas bukan solusi.

Pemimpin harus berani tidak populer demi kepentingan orang banyak. Seorang pemimpin memang tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang. Tapi pemimpin punya otoritas mengambil keputusan yang idealnya bisa diterima akal sehat mayoritas rakyatnya, bukan sekadar hanya untuk menyenangkan atau memenuhi tuntutan segelintir bekas tim sukses.

Mengedepankan kinerja dan profesionalisme aparatur sipil negara untuk mewujudkan “zaken kabinet” di lingkungan Pemkot Kupang merupakan langkah awal memanjakan akal sehat publik sekaligus mengamputasi perilaku tidak terpuji bekas tim sukses. Selamat memimpin!