25 SMK di NTT Terancam Ditutup

berbagi di:
foto-hal-01-wagub-ntt-josef-nae-soi-melantik-dan-mengambil-sumpah-para-kepala-sekolah-sma-smk-dan-sdlb-di-aula-fernandes-kantor-gubernur07-5-nahor-1

Wagub NTT Josef A Nae Soi (kiri) melantik dan mengambil sumpah para kepala SMK di aula Fernandes kantor Gubernur NTT, Selasa (7/5). Foto; Nahor Fatbanu/VN

 

 

Stef Kosat
Sesuai hasil evaluasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), 25 sekolah menengah kejuruan (SMK) di Provinsi NTT terancam ditutup. 25 SMK itu sudah menerima “lampu kuning” akibat jumlah rombongan belajar (rombel) tak mencukupi standar minimal 50-100 orang per sekolah.

Hal ini diungkap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Benyamin Lola, Selasa (7/5).

Ia mengatakan, saat ini pihaknya berupaya menertibkan sekolah-sekolah yang sudah terlanjur beroperasi meski tidak memenuhi standar jumlah siswa dalam rombongan belajar.

“Yang paling utama adalah selamatkan para siswa. Mereka akan dipindahkan ke sekolah yang jurusannya sama dengan sekolah asal,” katanya.

SMK yang bakal ditutup itu, kata dia, tak bisa dipaksakan untuk tetap eksis.

“Dinas tidak bisa paksa sekolah tetap eksis karena ketika kita bicara mutu, maka sekolah dengan kondisi seperti itu tidak akan memberikan topangan peningkatan mutu pendidikan,” tegasnya.

Mengenai guru-guru pada sekolah yang terancam ditutup itu, kata dia, masih harus dilihat karena konsekwensinya pada pembiayaan.

“Kalau misalnya guru honor provinsi maka kami tarik untuk ditempatkan di sekolah lain. Kalau guru komite maka akan dikembalikan ke komite,” pungkas Benyamin.

Terpisah, Sekretaris Dinas Dikbud NTT Alo Min mengatakan, ke-25 SMK itu diharapkan pada tahun ajaran 2019/2020 mampu menambah jumlah siswa dalam rombongan belajar. Jika tidak, akan ditutup.

Ia berharap pihak sekolah lebih proaktif mensosialisasikan keunggulan SMK ke SMP-SMP untuk menarik siswa masuk di SMK itu.

“Apakah berkurangnya karena jumlah siswa SMP di sekitar lokasi SMK tidak mendukung atau karena usia sekolah menurun. Jika dari hasil evalusi SMK tersebut tidak mengalami peningkatan jumlah siswa sesuai standar, maka akan dimerjer atau memindahkan siswa ke SMK yang memenuhi standar jumlah siswa sesuai studi kelayakan jarak sekolah dan kompetensi guru pada SMK tersebut,” pungkasnya.