Tetesan Embun yang Menyejukkan dari PLTS Oelpuah

berbagi di:
foto-hal-11-foto-untuk-tulisan-features-oktaviana-salukh-1

Warga Dusun II (kampung Bijaenaka, Desa Oelpuah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang Oktaviana Salukh sedang menganyam nyiru saat ditemui VN, beberapa waktu lalu. Foto; Pascal Seran/VN
“Hai Kam Kurang Fa Listrik Nok Oe Me,o. Hai Bisa Mifen Hai Usaha Mek Listrik Le i. (Kami tidak kurang listrik dan air bersih Lagi. Kami bisa kembangkan usaha kami dengan daya listrik yang ada).”

Demikian ungkapan hati sejumlah ibu, warga Dusun II (Kampung Bijaenaka), Desa Oelpuah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang,
Provinsi NTT yang ditemui secara terpisah, beberapa hari lalu.

Kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Oelpuah ibarat setetes air yang menghapus dahaga masyarakat setempat akan kebutuhan
listrik. Bukan hanya itu, kehadiran PLTS berdaya 5 Megawatt (Mw) yang dibangun pada tahun 2015 silam itu dapat juga mengobati kerinduan masyarakat setempat akan air bersih yang dapat dioperoleh dengan mudah. Meski demikian, perlu diakui bahwa untuk saat ini dampak pembangunan PLTS dengan anggaran miliaran rupiah itu belum berdampak besar bagi warga. Akan tetapi, perkembangan ekonomi masyarakat Desa Oelpuah sudah semakin tampak. Desa Oelpuah, dulu sama seperti kebanyakan desa lainnya yang ada di seluruh Kabupaten Kupang. Sering dianggap terbelakang, gersang, dan tak diperhitungkan. Kondisi alam yang kering memaksa warga setempat hanya bisa menggantungkan harapan mereka pada hujan untuk bertani. Kondisi alam itu juga membuat warga setempat banyak yang sudah angkat kaki dari kampungnya untuk mengadu nasib ke luar daerah, bahkan menjadi tenaga kerja di luar negeri.

Tak disangka, kondisi alam yang tandus itu justru menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat setempat. Kondisi alam yang gersang itu
justru menjadi peluang bagi pembangunan energi baru terbarukan (EBT) dengan tenaga matahari. Di akhir tahun 2015 lalu, nama Desa oelpuah mulai didengungkan. Salah satu dengungan yang terdengar adalah pembangunan PLTS di Dusun II, Kampung Bijaenaka, Desa Oelpuah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Nama Desa itu semakin gencar diperbincangkan dengan kehadiran Presiden Joko Widodo di Desa itu untuk meresmikan PLTS yang tergolong berdaya besar di Indonesia itu, tahun 2015 silam. Kehadiran orang nomor satu di Indonesia itu juga seperti membawa kesejukan tersendiri bagi warga setempat. Selepas kunjungan presiden itu, seiring pemanfaatan PLTS Oelpuah, warga setempat semakin hari-semakin berubah. Terhitng sejak tiga tahun lalu warga setempat mulai berubah. Kampungnya mulai tertata dengan pembangunan rumah dan juga usaha-usaha kecil yang mendukung ekonomi keluarga mereka. Faktor pendukung yang sangat dirasakan adalah suplai listrik dan air bersih dari PLTS Oelpuah.

Saya yang mengunjungi Desa Oelpuah, bebarap waktu lalu berdecak kagum. Jalan yang dulu hanya bebatuan dan tanah, kini sudah mulai ditata dengan aspal. Meski jalan menuju lokasi PLTS masih memprihatinkan. Pembangunan rumah-rumah baru pun tidak ketinggalan ketika memasuki lorong menuju lokasi PLTS Oepuah. Kiri dan kanan jalan tampak pembangunan begitu luar biasa bila dibandingkan dengan lima atau enam tahun lalu. Dari balik pagar karena saya tidak diizinkan masuk (menurut salah satu petugas, izin masuk harus dari kantor pusat di Bandung) tampak ribuan betangan panel PLTS di sebuah lokasi berpagar tembok itu. Pengalaman ini juga dialami Camat Kupang Tengah Rudolf Sabaat yang beberapa waktu lalu mengunjung PLTS itu.

Tampak warga yang selama ini tak kelihatan di siang hari untuk mencari air bersih mulai bersantai dan bercengekarama dengan keluarga, seperti yang disaksikan siang itu. Saya yang merasa kepanasan mencoba menemui salah satu keluarga yang sedang bersantai. Teras rumah itu tampak sudah mulai rapuh karena usai. Sapaan akrab dari pasangan suami istri itu begitu menyejukkan siang terik itu. Kami pun bercengkerama. Tak lama berselang air the pun disuguhkan. Sebuah pengalaman yang tidak biasa terjadi selama ini. Pasangan suami istri itu adalah Abraham Lakbanu dan Safira Tonjaas.

Kepada saya keduanya mengungkapkan situasi yang berubah selama lima tahun terakhir. “Kami di sini susah air pak. Dulu kami harus menimba air di kali. Kira-kira satu kilometer dari rumah kami. Tetapi kehadiran PLTS Oelpuah ini sangat membantu kami. Mereka tidak hanya menyediakan listrik bagi kami, tetapi juga air bersih. Ini sangat membantu kami. Terlebih kami tidak susah-susah cari air untuk menyajikan kopi atau teh bagi tamu,” kata Abraham menanggapi pertanyaan saya terkait air bersih.

Hal ini pun diakui istrinya Safira Tonjaas yang saat itu sudah menyediakan sejumlah jerigen untuk menimba air. Menurut safira, kehadiran PLTS itu sudah memangkas waktu mereka untuk mencari air bersih. “Hai Kam Kurang Fa Listrik Nok Oe Me,o. Hai Bisa Mifen Hai
Usaha Mek Listrik Le i. Sudah ada PLTS ini kami bisa buat yang lain, seperti menenun di siang hari atau malam hari. Selain karena arus listrik yang sering padam tidak terjadi lagi, PLTS Oelpuah juga sudah
membantu menyediakan air bersih,” ujarnya.

Kehadiran PLTS itu juga, menurut Safira, bisa membantunya untuk tidak
membuang waktu untuk mencari kayu bakar. “Karena arus listrik yang selama ini kami rasa kurang sudah bisa teratasi, kami bisa pakai magic (rice coocker) untuk memasak nasi. Kami tidak harus buang waktu untuk cari kayu bakar,” ujarnya.

Kisah sederhana itu bukan saja dialami oleh pasangan suami istri yang mengaku penduduk asli Desa oelpuah itu. Ada sejumlah warga lainnya seperti Yohana Bait, Warga Dusun 2, Desa Oelpuah yang rumahnya berada di berada di samping PLTS Oelpuah. Dia mengaku, baru seminggu yang lalu sebelum perjumpaan kami itu PLN sudah membantu memasang
listrik di rumahnya.

Menurutnya, kehadiran PLTS Oelpuah sangat terbantu keluarganya akan kebutuhan listrik. Selama ini, mereka tidak bisa menyambung meteran listrik ke rumah mereka dengan alasan alasannya arus yang kurang. Dengan hadirnya PLTS ini mereka sudah dimudahkan untuk memasang meteran baru. Selama ini arus listrik terkadang mati tidak jelas. Tiba tiba saja mati. Mungkin karena arus kurang. “Selama ini, kami sering mengalami spaning turun, tetapi dengan kehadiran PLTS ini kami sudah tidak alami itu lagi. Semoga, situasi ini tetap bertahan,” ujarnya.

Dia berharap agar PLTS ini tetap ada untuk kepentingan penerangan maupun kebutuhan lainnya, seperti untuk masak dan juga kebutuhan yang lainnya.

 

Bisa Anyam di Malam Hari
Oktaviana Salukh, warga yang berbatasan langsung dengan Dusun III, Desa Oelpuah menegaskan, kehadiran PLTS itu juga membantunya dalam mengembangkan usaha anyamannya. “Selama ini kami hanya menganyam nyiru danlainnya pada siang hari, sehingga hasilnya kurang. Tetapi sekarang daya kami yang sudah dinaikkan dari 450 ke 900, kami bisa menganyam
pada malam hari. Siang kami bisa bekerja di kebun,” ujarnya.

Dia mengakui, setiap nyiru yang dianyamnya dihargai Rp20.000. “Ini sangat membantu kami. Biasanya dalam seminggu kami bisa anyam tiga sampai empat nyiru, sekarang bisa lebih karena kami ada waktu untuk menyanyam pada malam hari, sebelum tidur,” ungkapnya.

Kepala Dusun II (Kampung Bijaenaka) Welem Nombala mengungkapkan,dengan adanya PLTS itu, kekurangan listrik bisa teratasi. “Dulu warga kami tidak bisa jualan minuman dingin menggunakan listrik karena takut alat-alat itu rusak, tetapi saat ini warganya sudah bisa berjualan dengan memanfaatkan arus listrik itu,” ungkapnya.

Selain arus listrik, kata dia, warganya tidak lagi membuang waktu untuk mencari air bersih. “Selama ini, warga harus menempuh perjalanan sampai satu kilometer untuk mendapatkan air bersih. Akan tetapi sejak adanya PLTS Oelpuah warga dengan mudah mendapatkan air bersih,” tandasnya.

Dia mengakui, selain menyediakan arus listrik untuk memenuhi kebutuhan penerangan di malam hari, PLTS Oelpuah, menyediakan air bersih bagi warga.

“Mereka juga membangun sumur bor untuk air bersih. Dinamo yang digunakan juga, sepengetahuan saya menggunakan arus dari PLTS
Oelpuah,” kata dia.

Lain lagi diungkapkan oleh Tabita Neni. Menurutnya, kehadiran PLTS itu sangat membantunya untuk mencari nafkah. “Selain penerangan, selama ini kami kekurangan daya untuk mixer kue. Kehadiran ini membantu kami untuk bisa buat kue dan jual. Selain itu, selama ini kami harus timba air dari sumur secara manual, kami bisa pakai listrik untuk dinamo,”
ujarnya.

Dengan adanya listrik itu, menurutnya, sangat membantu mereka mencari nafkah di luar rutinitas mereka, sebagai petani.
PLT Kepala Desa Oelpuah, Abdi Rohi, yang dihubungi terpisah mengungkapkan warga sangat terbantu dengan kehadiran PLTS itu. “Selama
ini, warga juga takut keluar malam karena gelap. Tetapi PLTS juga menyediakan lampu jalan, sehingga warga bisa mudah ke mana-mana pada malam hari,” ujarnya.

Ditanya, berapa warga yang terlayani oleh PLTS itu, dia mengaku, tidak mengetahui secara pasti karena arus dari PLTS itu sudah tersambung ke jaringan listrik PLN. “Sepengetahuan saya, arus dari PLTS itu sudah terkoneksi ke jaringan PLN, sehingga kami tidak tahu pasti berapa pelanggan PLTS itu,” tandasnya.

Akan tetapi ia mengakui, kehadiran PLTS itu sudah sangat membantu masyarakat. Menurutnya, dengan kehadiran PLTS itu, warga sudah bisa memasang meteran yang baru.

“Sejauh ini, sudah 80 persen warga yang memasang meteran. Kendalanya, kondisi ekonomi masyarakat yang kurang mampu untuk memasang meteran. Saya berharap kehadiran PLTS itu dapat memudahkan masyarakat untuk memasang meteran yang baru,” pungkasnya. Camat Kupang Tengah Rudolf Talaan juga mengakui, kehadiran PLTS itu sangat membantu masyarakat. “Sejauh ini kami sangat mendukung
kehadiran PLTS itu, sehingga kita berkoordinasi dengan warga untuk menyediakan lahan bagi pembangunan PLTS Oelpuah. Sekali lagi, sejauh membantu masyarakat, kita mendukung,” tegasnya.

Menurutnya, ia akan membantu memfasilitasi jika ada pembangunan PLTS atau pengembangan energi baru terbarukan serupa untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat. Bupati Kupang Korinus Masneno yang dikonfirmasi terpisah mengungkapkan kehadiran PLTS Oelpuah memang terasa dampaknya. Apalagi Desa Oelpuah sepengetahuannya berada di ujung jaringan PLN yang menggunakan tenaga
diesel selama ini.

“Dulu masyarakat sering mengeluh karena listrik sering padam di malam hari. Akan tetapi, kehadiran itu sangat membantu masyarakat untuk mengatasi deficit arus lisrik,” ujarnya.

Melihat pengalaman itu, dia membuka peluang bagi investor yang ingin mengembangkan energi listrik energi baru terbarukan (EBT) di wilayahnya. “Sejauh ini, sudah banyak PLTS yang dibangun, seperti di Amfoang. Akan tetapi, kami tetap buka peluang bagi investor yang akan mengambangkan energi baru terbarukan yang ada di wilayah kami,” ujarnya.

Sejauh ini, kata dia, EBT yang bisa dikembangkan di wilayahnya adalah PLTS. Curah hujan yang kurang, menurutnya, dapat membantu investor untuk mengembangkan potensi EBT di wilayahnya.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTT Ignatius Rendroyoko yang ditemui terpisah mengungkapkan PLTS Oelpuah sudah terkoneksi dengan jaringan PLN Timor untuk memenuhi defisit arus listrik di Pulau Timor.

Saat ini, kata dia, dengan daya 5 Megawatt, pemadaman listrik sudah bisa diatasi, sehingga pelanggan bisa menikmati listrik 24 jam karena PLTS Oelpuah saat ini menyuplai listrik pada pikul 07.00 Wita hingga pukul 17.00 Wita. “Dengan beroperasinya PLTS Oelpuah ini, pemadaman listrik secara bergilir di wilayah Timor sudah bisa teratasi. Dia berharap agar PLTS itu tetap beroperasi dengan baik, sehingga pemadaman itu tidak terjadi lagi,” kata dia.

Dia juga mengungkapkan komitmen PLN untuk terus mengembangkan energi baru terbarukan di NTT, seperti PLTS Oelpuah. “Saat ini saya berada di Alor untuk meresmikan PLTS Ternate di Pulau Ternate, Desa Ternate Selatan, Kabupaten Alor. Semoga di daerah lainnya di NTT bisa dikembangkan energi listrik baru terbarukan seperti Oelpuah dan Ternate ini. Kami akan terus melakukan penjajakan dan bekerja sama dengan pihak lain untuk mengembangkan energi baru terbarukan ini di
NTT,” ungkapnya melalui sambungan telepon.

Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nusa Tenggara Timur, Paul L Kedang, mengapresiasi
pembangunan PLTS Oelpuah di tahun 2015 yang sampai saat ini sudah bermanfaat bagi masyarakat. Dia mengakui, pembangunan PLTS itu akan menjadi salah satu contoh untuk pengembangan EBT di NTT.

Dia mengungkapkan PLTS seperti Oelpuah dengan system terpusat akan dijadikan contoh dalam pengembangan energi baru-terbarukan di NTT
karena PLTS dengan sistem menyebar banyak menngalami kerusakan dan tidak bisa diperbaiki.

Ia berharap tentang energi, target Pemerintah Provinsi NTT dalam Perda Nomor 10 Tahun 2019 tentang Rencana Umum Energi Daerah di tahun 2025 untuk menggunakan energi baru terbarukan sebesar 24 persen, bisa tercapai. (paskal seran/C-1)