97 Remaja Flotim Diduga Jadi Korban Trafficking

berbagi di:
foto-hal-01-dugaan-korban-human-trafficking

 

Para remaja asal Kabupaten Flotim saat melakukan check in di Bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali, Kamis (10/9) kemarin untuk trasit di Kota Kupang dan besoknya kembali ke kampung halamannya di Larantuka, Flotim.

 

 

 
Kekson Salukh

 
SEBANYAK 97 orang remaja asal Kabupaten Flores Timur, Provinsi NTT diduga telah menjadi korban human traficking (perdagangan orang) yang berkedok kuliah sambil magang di Jepang dan Taiwan. Mereka terkatung-katung di Bali selama dua tahun terakhir menunggu keberangkatan.

Ke-97 remaja tersebut terdiri dari angkatan 2018 sebanyak 52 orang dan angkatan 2019 sebanyak 45 orang. Mereka dijanjikan akan magang ke Jepang dan Taiwan sesuai dengan MoU antara LPK Darma Bali, STIKOM Bali, Pemkab Flores Timur, dan Bank BRI Cabang Flores Timur.

Inti penjelasan tersebut dikemukakan Kepala Divisi Hukum dan Advokasi Perhimpunan Jurnalis (PENA) NTT yang berdomisili di Bali, Nano Bethan serta Ruth Wungubelen, salah satu perwakilan orangtua, secara terpisah saat dihubungi VN melalui telepon selulernya, Kamis (10/9) malam.

Menurut Nano Bethan, anak-anak berusia remaja yang terkatung-katung selama dua tahun di Bali itu, karena janji mengikuti program kuliah sambil magang ke Jepang dan Taiwan tak pernah diwujudkan sesuai MoU antara LPK Darma Bali, STIKOM Bali, Pemkab Flores Timur, dan Bank BRI Cabang Flores Timur.

“Ada yang aneh, karena para pemuda memiliki KTP Larantuka namun bisa membuka rekening pada salah satu bank swasta yang ada di Bali untuk kepentingan keberangkatan ke Turki, Polandia, dan Australia tidak sesuai perjanjian awal,” bebernya.

Selain itu, lanjut Nano, mereka juga mengaku akan diberangkatkan melalui PJTKI dan bukan LPK Darma Bali, STIKOM Bali sesuai perjanjian MoU. “Setelah melihat dari Maret sampai Juli mereka tidak kunjung diberangkatkan dan kejanggalan lain, kami langsung berkoordinasi dengan beberapa teman pengacara asal NTT untuk mendampingi mereka lapor di Polresta Bali,” jelasnya.

Selanjutnya, PENA NTT menghubungi orangtua maupun pemerintah untuk datang menemui para korban di Bali. “Setelah ada perwakilan orangtua yang ke Bali, muda-mudi ini akhirnya dipulangkan dari Bandara Ngurah Rai tadi siang (kemarin) sekitar pukul 11.00 Wita menuju Bandara El Tari Kupang dan besoknya ke Larantuka,” pungkasnya.

Dipulangkan Kemarin

Sementara itu, Ruth Wungubelen menjelaskan bahwa total peserta magang angkatan 2019 sebanyak 45 orang. 42 orang sudah pulang, dan tiga masih di Bali. Sedangkan, angkatan 2018 ada 52 orang tapi yang lain sudah pulang secara mandiri dan tersisa 13 orang. Ada enam anak angkatan 2018 tetap bertahan di Bali berkaitan dengan kelanjutan proses hukum yang sudah mereka adukan di Polresta Denpasar,” ungkap Ruth dan membahkan bahwa pemulangan difasilitasi penuh oleh Pemkab Flotim.

Ruth menambahkan, tidak hanya yang masih berada di Denpasar yang memilih pulang. Tetapi ada dua peserta di Taiwan juga memilih pulang ke Larantuka. Alasannya, apa yang dialami di Taiwan tidak sesuai dengan yang dijanjikan pihak LPK Darma.

“Satu atas nama Paulus Aprianus Sole itu dari Taiwan juga sudah siap untuk pulang tanggal 22 September ini. Sementara baru pagi tadi, informasi masuk dari Taiwan, ada satu anak yang dalam proses pulang. Kami usahakan agar kepulangan anak dari Taiwan ini diketahui pemerintah agar difasilitasi,” pungkasnya.

Menurutnya, pemulangan dilakukan setelah protes orangtua kepada Bupati Flores Timur Antonius Gege Hadjon di Larantuka bulan Juli dan Agustus Lalu. Pascapertemuan itu perwakilan orangtua ke Bali mengecek kondisi penampungan di Denpasar.

Ia juga meminta perhatian serius Pemerintah Provinsi NTT melalui Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat untuk membantu mencegah berbagai dugaan tindak pidana penjualan orang di Flotim.
Sekadar tahu, peserta magang dipulangkan melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali tujuan Kupang menggunakan maskapai Lion Air. Selanjutnya rombongan akan melanjutkan penerbangan ke Larantuka dengan pesawat Wings Air pada hari ini, Jumat (11/09).

 

Tidak Berniat Buruk

 

Bupati Flotim Antonius Gege Hajon kepada wartawan menegaskan bahwa Pemkab Flores Timur tidak berniat buruk apalagi perdagangkan orang. “Sejak pertama kita bermaksud baik, kemudian peluang itu kan dibuka. Anak kan semua dijelaskan, dan orangtua juga dijelaskan hal yang sama. Kemudian terjadilah proses pemberangkatan itu,” kata Anton Hajon seperti dikutip Lintasnusa,com (7/9) lalu.

Bupati mengakui ada kelemahan dalam MoU dengan STIKOM Bali dan LPK Dharma, namun ia meminta para pihak untuk bisa bermusyawarah mencari solusi. “Kelemahan daripada MoU itu atau kekurangan para pihak dalam MoU itu kan kita bisa saling diskusikan. Dimusyawarahkan untuk cari jalan keluar. Jadi soal pernyataan kuasa hukum ya, tetapi kita kan tidak berbuat demikian. Tidak bermaksud seperti. Soal laporan ke Polisi itu kan hak semua orang. Tetapi saya berharap tidak ada proses hukum itu,” katanya.

Bupati Anton menambahkan, Pemkab Flotim mengirimkan tim ke Bali untuk menjemput 42 peserta magang yang memilih untuk pulang. Semua biaya pemulangan difasilitasi Pemda Flores Timur melalui Asisten I Abdul Razak Jakra dan Kadis Nakertrans Emanuel Lamury. (*/R-4/yan/ol)