Ada Kelompok Penyusup dalam Aksi Protes Omnibus Law di Kupang

berbagi di:
img-20201014-wa0018

 

Yohanes Oktavianus
Kepala Badan Kesbangpol NTT

 

 

 
Putra B Mula

 
BADAN Kesatuan Bangsa dan Politik NTT mengungkapkan adanya aktivitas kelompok luar dari kalangan mahasiswa yang menyusup saat melakukan aksi demonstrasi tolak Omnibus Law Cipta Kerja.

Kepala Badan Kesbangpol NTT, Yohanes Oktavianus, menerangkan hal tersebut kepada VN di ruang kerjanya pada Rabu (14/10).

Meskipun demikian, lanjut dia, aktivitas dua kelompok ini tidak memberikan pengaruh besar pada berlangsungnya demonstrasi mahasiswa Cipayung Plus, 9 Oktober lalu. Informasi ini ya telah dibahas di dalam rapat yang digelar oleh Kominda NTT Senin lalu (12/10).

Menurutnya, jumlah mereka sangat sedikit sehingga kehadiran mereka tidak berpengaruh banyak pada jalannya demonstrasi di Kupang.

“Ada yang kita waspadai dan ini kami bicarakan. Ada dua (anggota kelompok lain) yang menyusup salah satu kelompok itu berkaitan dengan Papua. Mereka ini yang mencoba membuat kacau tapi untung saja tidak terlalu banyak mereka. Ada indikasi itu,” ungkap dia.

Ia menyebut tujuan dari kelompok ini adalah tindakan ekstrim seperti membuat kekacauan pada massa aksi saat itu namun tidak berhasil dilakukan.

“Mereka selalu masuk kalau ada aksi seperti itu. Kalau melihat dari cara-cara mereka ada ketidakpuasan mereka dengan negara ini sehingga ingin kekacauan,” kata dia.

Untuk itu ia menghimbau agar setiap aksi yang dilakukan nantinya oleh mahasiswa perlu tetap tertib, anggota aksi dipantau baik-baik dan tidak terhasut provokasi dari luar.

Sementara pergerakan kelompok paham radikalisme seperti Khilafah saat demontrasi tolak omnibus law di Kupang, kata dia, sama sekali tidak tercium. Ia menyebut pergerakan aliran paham radikal lebih banyak di pusat. Namun begitu dari Kominda maupun Kesbangpol tetap melakukan pengawasan bersama dengan MUI untuk mewaspadai hal ini.

“Tapi demo kemarin tidak ada mereka,” katanya.

Pada rapat tersebut itu melibatkan juga universitas-universitas yang ada di Kota Kupang. Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK), kata dia, tidak membatasi mahasiswa yang terlibat aksi karena hal tersebut diluar dari kegiatan perkuliahan. Namun pihak UMK mendukung apabila dilakukan penegakan hukum bilamana mahasiswa mereka melakukan hal yang tidak diinginkan atau anarkisme.

Berbeda dengan UMK, universitas atau perguruan tinggi lainnya memberikan peringatan dan sanksi bagi mahasiswa mereka yang kedapatan melakukan aksi.

Secara garis besar, kata dia, demonstrasi di NTT kemarin masih dapat dikendalikan, normal, dan tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“NTT kategori normal demonstrasinya dan tidak ada sinyal rencana-rencana buruk,” lanjutnya. (Yan/ol)