Asut Tuntas Insiden Laga Final ETMC

berbagi di:
Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya.

 

 

 

 

Menyikapi insiden kericuhan pada laga final El Tari Memorial Cup (ETMC) 2017 di Ende, Rabu (9/8) malam, yang menyebabkan Tim PSN Ngada meninggalkan lapangan dan tidak melanjutkan pertandingan melawan Perse Ende, Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengatakan sudah meminta Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI NTT untuk segera membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) untuk menyelidiki dan menuntaskan masalah tersebut.

 

Gubernur Lebu Raya mengatakan itu menjawab VN usai RUPS-LB Bank NTT di Maumere Jumat (11/9) sore. Dia dikonfirmasi terkait pernyataan Bupati Ngada Marianus Sae yang akan melayangkan protes keras kepada Asprov PSSI NTT atas insiden di Stadion Marilonga, Ende itu.

 
“Saya sudah minta Asprov PSSI NTT untuk membentuk Tim Pencari Fakta untuk mempelajari secara teliti dan cermat,” kata Lebu Raya.

 
Bupati Marianus Sae, secara terpisah mengatakan, pihaknya akan melayaangkan surat protes keras kepada Asprov PSSI NTT dengan tembusan PSSI di Jakarta, terkait kondisi yang dialami oleh tim PSN di Stadion Marilonga.

 
Dia menilai, panitia ETMC 2017 dan Asprov PSSI NTT tidak mempertimbangkan kondisi keamanan dan kondisi pemain dan langsung menetapkan Perse Ende selaku tuan rumah sebagai juara ETMC 2017. Oleh karena itu, kata dia, insiden pada laga final ETMC itu menodai persepakbolaan di NTT.

 
“Jangankan dalam stadion, di jalan saja kami dihadang dan dilempar dengan batu dan kayu. Ini benar benar keterlaluan. Saya akan protes di Asprov PSSI NTT, bahkan sampai di PSSI di Jakarta,” tegasnya.

 
Marianus mengatakan, elain melayangkan surat protes ke Asprov PSSI NTT, pihaknya juga akan menggalang petisi untuk menggugat hasil keputusan Asprov PSSI NTT yang menetapkan juara ETMC dalam kondisi permaianan belum selesai akibat kericuhan yang terjadi.

 

 

Siap Tanggung Jawab
Panitia penyelenggara turnamen El Tari Memorial Cup (ETMC) 2017 melalui Inspektur Iertandingan yang bertanggung jawab terhadap hasil akhir laga final yang mempertemukan tim tuan rumah Perse Ende melawan PSN Ngada, Rabu (9/8) malam. Jelang akhir babak kedua laga final, terjadi kericuhan yang menyebabkan wasit menghentikan pertandingan. PSN Ngada meninggalkan lapangan dan pengawas pertandingan mengumumkan Perse Ende menang.

 
Ketua Askab PSSI Kabupaten Ende Sabri Indra Dewa mengatakan itu menjawab VN di Ende, Jumat (11/8). Dia ditanya mengenai informasi ada pihak-pihak tertentu yang berencana mempersoalkan hasil laga final ETMC tersebut.

 
Dia menjelaskan, keputusan Perse Ende menang diumumkan oleh Pengawas Pertandingan Bona Jehadut. Saat diumumkan itu dijelaskan pula bahwa keputusan yang diambil berdasarkan regulasi yang berlaku di PSSI dan statuta FIFA.

 
Sebelum diumumkan, terlebih dahulu dilakukan pertemuan perangkat pertandingan di antaranya komisi pertandingan, komisi wasit, Sekum Asprop PSSI NTT Lambert Tukan. Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Kapolres dan Dandim 1602/Ende.

 
Sesuai ketentuan, katanya, sepanjang waktu pertandingan Perse Ende sudah unggul 1-0 atas PSN Ngada. Jumlah gol keunggulan ditambah tiga (3) gol sehingga secara resmi Perse Ende unggul 4-0 atas PSN Ngada. Pengumuman tersebut disaksikan pula Ketua Harian Asprop PSSI NTT, yang juga Bupati Malaka Stef Bria Seran.

 
Bupati Ende Marselinus YW Petu sebelum membacakan sambutan penutup Gubernur NTT, dari mimbar kehormatan secara resmi menanyakan kembali kepada Inspektur Pertandingan Bona Jehadut berkaitan dwngan keputusan yang diumumkan tersebut. Saat itu, Bona Jehadut menegaskan kembali bahwa keputusan sudah sesuai dengan aturan PSSI dan FIFA. Dan gol difference ditambah 3 gol, apabila tim yang bertanding melakulan boikot, atau tidak mau melanjutkan pertandingan.

 
Terpisah Ketua Askap Kabupaten Ende Sabri Indra Dewa menjelaskan, keputusan yang diambil Inspektur Pertandingan tentu memiliki dasar, yakni aturan.

 
“Bagi kami Askab PSSI Ende dalam menyikapi rumor ada pihak yang mau menggugat hasil akhir laga final yang sudah diumumkan secara resmi, silakan tanyakan saja langsung pada PSSI NTT. Ruang kami terbatas, dan tidak mungkin kami mengintervensi keputusan yang sudah diambil. Apa yang diputuskan Inspektur Pertandingan (IP) mutlak kewenangan mereka. Bagi kami semuanya sudah diputuskan. Kalau ada pihak yang merasa tidak puas, silakan tanyakan langsung ke Asprop PSSI NTT,” katanya.

 
Terpisah Ketua Panitia Pelaksana Turnamen ETMC Laurentius Gadi Djou menjelaskan, panitia tidak bisa mengintervensi keputusan Inspektur Pertandingan. Keputusan yang diambil itu ada perangkat pertandingan serta Komisi Wasit.

 
Insiden pada babak kedua laga final, lanjutnya, di luar kendali panitia. Sebelum partai puncak digelar, panitia sudah berkoordinasi dengan aparat keamanan dan juga perangkat pertandingan dimana hasilnya ada jaminan keamanan sebelum laga puncak digelar. “Karena itu partai puncak bisa digelar pada malam itu,” katanya.

 
Pantauan VN pada laga puncak, setelah insiden kericuhan, Tim PSN meninggalkan lapangan dan tidak mau lagi melanjutkan pertandingan. Pihak panitia menunggu lama sehingga Inspektur Pertandingan menggelar pertemuan. Hadir dalam pertemuan tersebut Sekretaris Asprop PSSI NTT Lambert Tukan, Pengawas Pertandingan Elias Ola dan Bona Jehadu, Komisi Wasit Piter Goa, Komisi Disiplin Stevanus Bria, Dandim 1702/Ende, Kapolres Ende AKBP Ardian Mustakim. Hasil pertemuan tersebut secara resmi diumumkan Bona Djeadut langsung di depan meja inspektur pertandingan dengan menggunakan pengeras suara, yakni Perse Ende berhak sebagai juara ETMC 2017.

 

 

Malaka Siap Tuan Rumah
Bupati Malaka Stefanus Bria Seran menegaskan, Malaka siap menjadi tuan rumah ETMC 2019. Pihaknya akan membangun GOR Malaka berkapasitas 30 ribu pentonon di Kobalima.

 
“Kita akan mengadopsi hal-hal baik yang dilihat di Ende untuk diterapkan di Malaka nantinya,” ucap Bupati Stef usai menerima bendera penyelenggaraan ETMC di Stadion Marilonga-Ende, Rabu (9/8) malam.

 
“Tadi kita sudah menerima bendera untuk jadi tuan rumah Piala El Tari tahun 2019. Pemerintah dan rakyat Malaka siap jadi tuan rumah,” tegasnya.
Dijelaskannya bahwa penyelenggaraan ETCM di Ende menjadi pelajaran berharga bagi Malaka untuk menjadi tuan rumah 2019. “Yang kurang kita lengkapi dan yang baik kita tiru,” katanya.

 
Dia mengapresiasi Pemkab Ende yang sukses menjadi tuan rumah. “Saya memberikan pujian kepada Pemda Ende karena bisa menyelenggarakan ETMC 2017 dengan fasilitas stadion yang baik dan bisa menggelar pertandingan di malam hari menggunakan penerangan listrik serta menyiarkan pertandingan melalui live streaming di YouTube. Ini sebuah terobosan bagus yang saya lihat,” katanya.

 
Terkait persiapan stadion di Malaka, Bupati Stef mengaku sudah mengutus delegasi ke Kementrian PU di Jakarta untuk mendiskusikan rencana pembangunan stadion olahraga di silayah Kecamatan Kobalima, daerah perbatasan dengan Timor Leste.

 
“Saya sudah mendapatkan laporan dari delegasi yang diutus dimana mereka sudah melakukan diskusi pendahuluan terkait rencana pembangunan stadion dimaksud. Stadion itu sekarang mau dibangun, namun kita usulkan agar ditambah kapasitasnya agar bisa menampung 30 ribu penonton guna penyelenggaraan hajatan yang berskala regional, nasional atau internasional,” katanya.