Atlet PON NTT terus Berlatih

berbagi di:
jimmy

Jimmy Sianto
Manager Tim Sepak Bola NTT

 

 

 

Sinta Tapobali

 
PELATIH Cabang Olahraga (Cabor) Tinju NTT untuk PON XX, Oni Selan saat dikonfirmasi VN, Selasa (27/10) siang mengatakan bahwa saat ini para atlet tinju yang lolos PON XX di Papua sedang menjalani proses latihan di daerah masing-masing.

“Kita saat ini masih terus melakukan persiapan namun karena pandemi Covid-19 jadi latihan dilaksanakan di daerah masing-masing. Nanti Januari baru para atlet ini dikumpulkan untuk melakukan latihan bersama,” ujarnya.

Menurut Oni, cabang olaraga tinju sendiri memiliki 10 orang atlet yang lolos ke PON XX di antaranya dari Kabupaten Sumba Barat Daya 2 orang, Sumba Timur 1 orang, Belu 5 orang dan Kota Kupang 2 orang.

“Totalnya ada 10 petinju yang nanti akan dibawa ke PON XX di Papua,” bebernya.

Terkait anggaran pelatihan, Oni mengungkapkan, bahwa sudah melakukan pertemuan dengan Wagub NTT dan saat pertemuan tersebut telah dilaporkan dari Ketua KONI NTT bahwa sumber dana dari APBD.

“Dana dari APBD dan akan masuk ke KONI NTT kemudian akan didistribusikan kepada seluruh pengurus cabang yang mengikuti PON termaksud olahraga tinju. Nah, dari anggaran tersebut kita akan melaksanakan kegiatan pelatihan terpusat dalam menghadapi PON nanti,” tandasnya.

Sedangkan Manager Tim Sepak Bola NTT, Jimmi Sianto, kepada VN mengatakan bahwa hingga saat ini tim sepaka bola NTT yang lolos menuju PON XX di Papua belum melakukan tahapan persiapan karena tidak ada anggaran.

Menurutnya hingga saat ini, anggaran dari KONI maupun Pemerintah Provinsi belum direalisasikan ke masing-masing cabor salah satunya sepak bola.

Menurutnya lagi, Tim Sepak Bola NTT memiliki 47 pemain dan semuanya sudah didaftarkan ke PB PON, pada waktu PB PON membuka pendaftaran tahap pertama. Namun kata Jimmy, tim masih harus melakukan seleksi dan TC kepada 47 pemain ini agar nantinya bisa mendapatkan 20 pemain terbaik yang akan mewakili NTT di PON XX 2021 di Papua tahun depan.

Para pemain ini harus diseleksi agar benar-benar memiliki kualitas dan dapat berkompetisi di P0N XX untuk mengharumkan nama Nusa Tenggara Timur.

Sebagai manajer dia sudah bertemu dengan pemerintah provinsi dan pada prinsipnya semua mereka mendukung keikutsertaan tim sepak bola dalam PON XX di Papua, karena penantian untuk sampai ke PON ini, melalui perjuangan panjang selama 30 tahun lamanya.

“Saya sudah bertemu Bapak Gubernur, Bapak Wakil Gubernur, Bapak Sekda, Bapak Ketua Umum KONI, Bapak Kepala Biro Keuangan Daerah, Ibu Asisten III sebagai Plt Kaban Keuangan Daerah dan juga Ibu Kadispora dan pada prinsipnya semua mendukung karena semua kita berharap penantian panjang melalui perjuangan selama 30 tahun akhirnya NTT bisa loloskan Cabor Sepakbola ke PON XX tidak hanya sebatas lolos PON tapi bisa mengharumkan nama NTT di PON,” jelasnya.

Jimmy erharap agar support anggaran yang diberikan Pemerintah ke KONI dapat segera direalisasikan, agar KONI juga sesegera mungkin dapat menyalurkan ke masing-masing Cabor salah satunya Sepak Bola agar proses seleksi dapat segera mungkin dilakukan untuk mencari 20 pemain terbaik yang siap mewakili NTT di PON XX di Papua.

Sekretaris IPSI NTT, Dominggus D. Haga ketika di hubungi VN mengatakan bahwa, proses latihan 6 atlet silat yang lolos PON XX di Papua sementara berjalan dan rutin dilakukan oleh para atlet setiap harinya.

Namun menurutnya, dalam proses latihan ini para atlet membiayai diri mereka masing-masing, seperti pembiayaan untuk makan dan minum mereka guna memgembalikan stamina mereka usai mengikuti latihan.

“Tidak ada anggaran sama sekali bahkan sampai anak-anak pun harus membiayai diri mereka. Misalnya harus minum untuk mengembalikan kondisi fisik usai latihan. Kalau untuk anak-anak, mereka sangat termotivasi sekali untuk tampil di PON karena kami sudah sampaikan bahwa ini momentum dan tahun emas bagi silat NTT karena belum terjadi kita mengirim atlet 6 orang ke PON,” jelasnya Dominggus.

Namun menurut Dominggus, para atlet silat yang lolos ke PON sangat siap untuk bertanding di PON XX. Bahkan menurutnya para atlet ini siap mati di gelanggang demi merebut medali, namun satu yang mereka minta yakni pemerintah harus memiliki perhatian dan memperhatikan nasib mereka ke depannya.

Leonard Boymau, salah satu pelatih atlet silat PON XX kepada VN mengatakan bahwa latihan yang berkaitan dengan persiapan PON untuk atlet silat tetap berjalan tapi disesuaikan dengan protokol kesehatan. Latihan yang dilakukan juga hanya sebatas menjaga kondisi atlit saja agar tetap fit, tidak disesuaikan dengan program latihan.

Latihan menurutnya dilakukan setiap pagi dan sore, namun meski demikian para atlet ini juga mengalami kendala baik secara fisik, teknik maupun mental karena kurangnya perhatian pemerintah untuk para atlet.

“Kendala yang di alami dalam persiapan atlit agak terganggu baik fisik, teknik maupun mental karena kurangnya perhatian pemerintah untuk atlet,” jelasnya. (Yan/ol)