Bangkai Paus Biru Jadi Tontonan Ribuan Warga Kupang

berbagi di:
SUDAH MENGEMBUNG: Warga Kota Kupang berjubel menyaksikan bangkai ikan paus yang terdampar di pantai Kelurahan Nunhila, Kota Kupang, kemarin. Tampak bangkai paus sudah mengembung karena sudah mati beberapa hari sebelum terdampar di pantai.

Yapy Manuleus

UNTUK kesekian kalinya ikan paus mati terdampar di perairan NTT. Kali ini seekor paus biru mati terdampar di Teluk Kupang, tepatnya di pantai Kelurahan Nunhila, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Selasa (21/7) sore. Bangkai paus berukuran sekitar 23 meter itu menjadi tontonan ribuan warga Kota Kupang dan sekitarnya.
Tontonan bangkai mamalia laut yang diduga mati beberapa hari sebelum diseret ombak ke tepi pantai itu pun sontak jadi viral di media sosial. Foto ribuan warga maupun video langsung menyebar di medsos.
Kondisi laut di pantai Nunhila yang sedang surut memudahkan warga menyaksikan dari dekat bangkai ikan paus. Beberapa warga bahkan nekat berenang hingga menaiki bangkai paus yang terdampar itu.
Bebatuan pantai yang licin tak menyurutkan niat warga untuk mendekati bangkai ikan paus naas itu. Ruas Jalan Yos Sudarso, jalan Kupang-Tenau, sampai macet karena banyaknya warga yang berdatangan ingin menyaksikan bangkai paus tersebut.
Kemacetan kencaraan tampak mulai dari depan pekuburan Cina hingga ke pantai Namosain, dekat Pos Polisi Namosain.
Hingga pukul 19:00 Wita semalam, warga masih bertahan, bahkan ada yang baru datang untuk menyaksikan bangkai ikan paus itu. Ada pula yang memakai perahu motor dengan menggunakan lampu senter untuk mendekat ke bangkai paus.
Daud, warga setempat yang diwawancarai VN mengaku ikan paus itu sudah terdampar di pantai sejak pukul 15.00 Wita. “Sudah dari jam 3 sore tadi. Saat air surut baru kelihatan. Pertama lihat kami kira itu batu, ternyata ikan paus,” katanya.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BBKSDA NTT Lidia Tesa Vitasari Seputro di lokasi kejadian, mengatakan, hasil identifikasi awal bangkai ikan paus biru itu berukuran kurang lebih 23 meter. Namun, pihaknya belum memastikan penyebab matinya paus biru tersebut.
“Panjangnya sekitar 23 meter dan jenisnya paus biru karena dilihat dari bentuknya. Kalau penyebab kematiannya kita belum tahu pasti karena itu harus dari proses nekropsi. Seperti anusia kan harus lewat autopsi begitu kan. Tapi sepertinya sudah lama dan dia mati bukan di sini karena sudah mengembung,” katanya.
Ia mengaku segera berkordinasi dengan instansi teknis terkait untuk menggunakan alat berat guna mengevakuasi bangkai paus tersebut.
“Ini tidak bisa manual. Butuh alat berat. Kemudian kondisinya juga di pantai karang, jadi tidak bisa langsung kuburkan di sini. Yang pasti, harus segera dievakuasi karena sudah mulai membusuk,” pungkasnya.
Untuk diketahui, perairan NTT merupakan jalur migrasi ikan paus. Kejadian paus terdampar bukan untuk pertama kali.
Data VN menyebutkan, pada Agustus 2010 lalu, seekor paus biru mati terdampar di Pantai Bita Beach Ende.
Selanjutnya pada Oktober 2019 lalu, 17 ekor paus pilot (globicephala macrorhynchus) terdampar di perairan Kabupaten Sabu Raijua. Tujuh ekor di antaranya mati. Sisanya berhasil “dikembalikan” ke laut oleh Dinas Perikanan setempat bersama Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) NTT.
Akhir Januari 2020 lalu, seekor paus mati terdampar di hutan mangrove Pantai Tasilo, Desa Tasilo, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao. Ukuran paus naas itu sekitar 15 meter. (mg-25/D-1)