Bank Indonesia ‘Titip” Rp 100 Miliar di Bank NTT Kalabahi

berbagi di:
Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesi NTT Naek Tigor Sinaga, Dirut Bank NTT Eduardus Bria Seran, Asisten 1 Setda NTT Ahmad Maro, Anggota DPRD NTT Ans Takalapeta, Kepala Kantor Bank NTT Cabang Kalabahi Sony Pelokila, berfoto bersama di depan Kantor Kas Titipan Bank Indonesia yang baru, Kamis (7/9).

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesi NTT Naek Tigor Sinaga, Dirut Bank NTT Eduardus Bria Seran, Asisten 1 Setda NTT Ahmad Maro, Anggota DPRD NTT Ans Takalapeta, Kepala Kantor Bank NTT Cabang Kalabahi Sony Pelokila, berfoto bersama di depan Kantor Kas Titipan Bank Indonesia yang baru, Kamis (7/9). Foto: Beverly Rambu

Beverly Rambu

Bank Indonesia resmi membuka Kantor Kas Titipan bekerjasama dengan Bank NTT Cabang Kalabahi Alor, Kamis (7/9).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTT, Naek Tigor Sinaga dalam sambutannya mengatakan, Bank Indonesia menitipkan Rp 100 miliar uang layak edar agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat melalui Bank NTT.

“Untuk tahap pertama secara simbolis ada Rp 27 miliar. Sisanya akan menyusul hingga mencapai Rp 100 miliar,” ujarnya saat memberikan sejumlah uang layak edar secara simbolis kepada Kepala Bank NTT Cabang Alor Sony Pelokila.

Tigor menjelaskan Kantor Kas Titipan di Alor merupakan kas titipan ke-87 di Indonesia dan yang ke-8 di Nusa Tenggara Timur. Beberapa kas titipan lain telah ada di Kabupaten Belu, Sumba Timur, Sumba Barat, Ende, Sikka, Manggarai, dan Lembata. Ke depan, BI akan berupaya membangun kas titipan di Kabupaten Rote.

Menurutnya, sesuai amanat UU Nomor Tahun 2017 dan semangat Program Nawacita Presiden Jokowi, Bank Indonesia diharapkan untuk bisa menghgadirkan negara bagi seluruh masyarakat Indonesiadengan memastikan beredarnya uang rupiah yang layak di seluruh pelosok NKRI.

“Alor merupakan salah satu kabupaten terluar dan merupakan wilayah yang dekat dengan Timor Leste. Kami harus pastikan nominal uang cukup, jenis pecahannya sesuai, tepat waktu ketika dibutuhkan dan kondisinya baik atau layak edar,” jelas Tigor.

Ia  menambahkan sejak kas titipan mulai resmi beroperasi di beberapa daerah, banyak hal signifikan yang bisa dilihat. Uang tidak layak edar yang berhasil dihimpun di semester pertama tahun 2016 mencapai Rp 341 miliar, di semester pertama tahun 2017 naik 176 persen atau sekitar Rp 943 miliar. Sementara uang layak edar yang berhasil didistribusikan di semester pertama tahun 2016 hanya mencapai Rp 494 miliar, di semester pertama tahun 2017 naik 71 persen mencapai Rp 884 miliar.

Selain itu, posisi simpanan di Kabupaten Alor pada triwulan kedua tahun 2017 mengalami pertumbuhan 4,11 persen hampir sebanding dengan pertumbuhan di tingkat provinsi 4,44 persen. Penyaluran kredit pun mencapai 9,46 persen year to year dengan persentase kredit macet 2,1 persen dimana di tingkat provinsi berada di 2,29 persen.

Ia berharap kehadiran kas titipan Bank Indonesia di Bank NTT bisa mempermudah masyarakat mendapatkan uang layak edar sesuai kebutuhan.

Direktur Utama Bank NTT, Eduardus Bria Seran menyatakan kesiapan Bank NTT untuk mendukung program kebijakan pemerintah dan kepercayaan Bank Indonesia untuk bisa mendistribusikan uang layak edar bagi masyarakat setempat.

Dari 8 kas titipan Bank Indonesia di NTT, ia mengatakan 7 diantaranya dititipkan melalui berbagai kantor cabang Bank NTT, karena itu ia mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Bank Indonesia dan dukungan Pemerintah Provinsi NTT.

Ia menghimbau seluruh karyawan Bank NTT untuk lebih semangat dan aktif melayani berbagai kebutuhan masyarakat.

Sementara Gubernur NTT, Frans Lebu Raya yang langsung meresmikan kas titipan Bank Indonesia pada Bank NTT Cabang Kalabahi mengatakan mata uang rupiah merupakan wujud kedaulatan NKRI. Gerakan cinta rupiah perlu dilakukan agar masyarakat Indonesia memandang rupiah dan yakin bahwa mata uang rupiah pun punya nilai yang tinggi serta tidak selalu dianggap rendah atau dibanding-bandingkan dengan mata uang lain.

Lebu Raya juga mengingatkan agar berbagai transaksi sebagai imbas perkembangan pariwisata di Alor dan NTT pada umumnya tetap menggunakan rupiah sebagai mata uang resmi. Ia menilai perlunya Alor atau daerah wisata lain di NTT perlu memikirkan untuk memiliki tempat penukaran uang asing sehingga memudahkan wisatawan asing untuk mendapatkan rupiah dan berstransaksi dengan rupiah misalnya untuk pembayaran hotel.

Ia berharap Bank Indonesia bisa memperhatikan NTT agar ke depan kas titipan Bank Indonesia bisa ada di seluruh pulau di NTT.

Asisten I Kabupaten Alor pun mengapresiasi kebijakan Bank Indonesia dan Bank NTT untuk melayani masyarakat Alor.

“Dulu kami memang ada di belakang Jakarta, tetapi sekarang ada negara Demokratik Timor Leste kami ada di depan, Jakarta ada di belakang. Ada kas titipan masyarakat tidak susah lagi mendapatkan uang layak edar,” ujarnya

Menurutnya, pemerintah dan DPRD Kabupaten Alor juga telah bersepakat terkait tata ruang kabupaten Alor sehingga pendirian kantor Bank NTT yang baru di Alor yang sempat tertunda bisa segera dilanjutkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan bagi masyarakat.

Pada kesempatan tersebut Bank NTT juga memberikan beasiswa secara simbolis kepada empat putri pariwisata Alor, pelajar SD, SMP, dan SMA serta bantuan dan pendidikan bagi Universitas Tribuana Kalabahi. Selain itu Bank Indonesia juga melakukan sosialisai Cinta Rupiah. Kegiatan ini dimeriahkan dengan pencatatan rekor MURI penari lego-lego terbanyak dan penampilan artis asal NTT, Mario Klau.