Banyuwangi Terapkan Smart Kampung

berbagi di:
d85ans8vuaec6fs

Abdullah Azwar Anas

 

 

Stef Kosat

Pemerintah daerah boleh bermitra dengan investor untuk memajukan daerah, namun tidak boleh tunduk pada kontraktor. Jika pemda tunduk pada investor, maka akan dikendalikan oleh investor atas nama investasi.

Hal ini ditegaskan Ketua Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi), Abdullah Azwar Anas yang juga adalah Bupati Banyuwangi dalam materinya pada seminar dan sharing Best Practice Citynet Indonesia di Hotel Aston-Kupang, Kamis (17/10).

Di hadapan para bupati, wali kota, dan para kepala Bappeda yang menjadi anggota Citynet Indonesia, Anas menjelaskan bahwa dalam membangun Kabupaten Banyuwangi yang mana program unggulannya adalah pariwisata maka konsep yang dipakainya adalah smart kampung, bukan smart city.

Melalui Program Smart Kampung, Anas mendorong desa untuk mengadaptasi kemajuan teknologi informasi dalam memberikan pelayanan. Desa yang selama ini dianggap kampungan dan tertinggal diubah dengan sentuhan digital.

Ia menambahkan promosi pariwisata daerah tidak menggunakan APBD untuk biaya promosi di koran dan televisi, tetapi menggunakan media sosial (facebook, dan instagram).

Seluruh masyarakat Banyuwangi, baik ASN maupun masyarakat, adalah humas untuk pariwisata. Hasilnya pertumbuhan pariwisata Banyuwangi menjadi luar biasa.

Sejakdilantik menjadi bupati, kunjungan wisatawan daerah itu hanya 400 ribu orang. Tetapi kini sudah tumbuh menjadi 5 juta kunjungan per tahun dengan dampak ekonomi yang luar biasa. Per tahun pendapatan per kapita daerah itu menjadi Rp 48 juta.

Inovasi teknologi yang diterapkan di Banyuwangi, seperti membuat aplikasi sendiri, mampu membebaskan masyarakat daerah tersebut dari kemiskinan sehingga membuat kabupaten itu dihadiahi uang dari Kemenkeu Rp12 miliar. Selain itu, dana desa, DAK, digunakan untuk membiayai pendidikan warga dan sebagian diberikan ke kampus untuk kepentingan riset berbagai hal seperti kemiskinan, dan anak putus sekolah agar pemerintah ridak salah mengambil keputusan untuk mengatasinya.

Dengan inovasi dan kemajuan ini, Pemkot Kupang, maupun kabupaten lain di NTT serta kepala daerah anggota Citynet Indonesia bisa menjadikan Banyuwangi sebagai referensi untuk melakukan studi tiru. Kelurahan dan desa di NTT dapat menerapkan konsep smart kampung dalam memberi pelayanan bagi masyarakat.

Di bidang investasi, Anas mengaku tak pernah tunduk kepada investor baik itu pertambangan, kereta api dan bandara. Ia bermitra baik dengan para investor dari industri-industri tersebut sehingga semua investor itu membangun museum sebelum membangun industrinya.

“Jika tidak ada museum maka IMB tidak diterbitkannya dan akhirnya investor itu mengikutinya dan PAD tumbuh pesat,” ungkapnya.

Saatnya, kata dia, belanja desa atau kelurahan tidak hanya membeli batu dan semen, namun melalui smart kampung harus belanja bandwidth untuk memberikan pelayanan masyarakat berbasis online.

Sementara Wali Kota Kupang, Jerfiston Riwu Kore mengatakan Citynet Indonesia merupakan organisasi bagi jejaring Apeksi untuk membagi pengetahun, ilmu dan pengalaman akan kemajuan dari tiap kota/kabupaten.

Setiap keunggulan dari berbagai daerah di Indonesia, khususnya bidang pelayanan publik dan investasi, dapat dipelajari dan dicontoh oleh daerah lain. “Intinya saling belajar dan berbagi untuk mengejar ketertinggalan dan mempercepat apa yang menjadi kebutuhan masyarakat,” ucapnya.

Sebagai tuan rumah, kata dia, Kota Kupang sangat tertarik masuk menjadi anggota Citynet karena Pemkot Kupang mengupdate berbagai keunggulan dari anggota citynet.

Para anggota Citynet Indonesia bisa juga meniru pelayanan publik seperti di Amerika, Korea Selatan, Jepang dan tentunya harus pergi ke negara-negara tersebut untuk melihat langsung pelayanan publik di sana dan tentu difasilitasi oleh negara-negara tersebut maupun Citynet Indonesia,” jelas Jefri.

Menurutnya, apa yang disampaikan oleh Bupati Anas, cocok dengan kondisi Kota Kupang dan juga kabupaten-kabupaten lain di NTT. “jadi kita perlu tiru beberapa hal dari Banyuwangi itu. Berbagai kelebihan yang ada dapat kita ambil untuk terapkan di daerah masing-masing. Khususnya Kota Kupang saat ini sudah memasang wifi di berbagai sudut Kota dan menanam 200 lebih kilometer kabel optik untuk memenuhi kebutuhan internet kota ini,” pungkas Jefri. (mg-01/S-1)