Bara Musik Hans Lamen

berbagi di:
Hans Lamen

Nama Lengkap : Hans Lamen
TTL : 7 November
Pekerjaan : Musisi, Manager Studio Musik MPH Art
Grup Band : D Lamaholot Band

MUSIK adalah bahasa jiwa, yang selalu menarik sang musisi kenamaan Lamoholot, Hans Lamen, untuk terus berkarya. Di usianya yang sudah tidak terlalu muda, hentakan musik selalu memanggil jiwanya, meraung dalam bara nada senar-senar gitar. Nada yang memberinya ketenangan sekaligus kegelisahan.

Suasana di Studio Musik MPH Art, minggu, (25/7), tampak ramai. Musisi-musisi muda dengan tampilan sederhana, mengisi waktu mereka menempah skil bermusik. Lengkingan gitar dan tabuh suara drum dalam studio mengungkapkan ekpresi semangat yang menyalah-nyalah. Hans sesekali memberi instruksi, selebihnya membiarkan mereka bebas berkreasi.

Hans Lamen membuka studio musiknya di Jalan Tamrin, Kota Kupang. Tiga ruangan disiapkan. Dua ruangan untuk tempat latihan sekaligus rental, satu ruangan khusus untuk rekaman. Kehadiran studio musik itu merupakan wujud cintanya yang tak berkesudahan pada musik.

“Ini bukti kecintaan saya pada musik. Saya tidak akan meninggalkannya. Musik bagiku seperti bahasa jiwa yang selalu memanggilku, setiap waktu, setiap menit,” kata Hans Lamen.

Di studio ini, Hans mengandeng sesama musisi, Bobby Ratumakin, untuk menggarap sekaligus mengiringi lagu-lagu yang dinyanyikan bakat-bakat muda binaannya. Mereka kemudian membuka chanel YouTube bernama MPH_Project official, sebuah proyek besar mengorbitkan bakat-bakat muda. Di chanel YouTube ini masyarakat bisa menyaksikan karya-karya mereka.

Di umur yang sudah memasuki kepala empat, Hans memilih berdiri di belakang layar, mengotaki sekaligus memberi ruang kepada bakat-bakat muda untuk berkarya. Hans menilai anak muda sekarang hidup dengan berbagai kemudahan di tengah kepungan teknologi.

“Mereka (anak muda) itu sekarang hidup dengan banyak pilihan musik. Perkembangan teknologi membuat mereka bebas mengakses dan memilih musik mana saja, ini berbedah jauh dengan kami dulu yang harus merantau ke Jawa untuk bermain musik,” katanya.

Lahirnya banyak musisi muda yang mewarnai blantika musik Flobamora merupakan harapannya. Kepada anak muda, sosok yang tenar bersama D’ Lamoholot Band ini berpesan agar terus berkarya. Terus berlatih dan memperkaya referensi adalah landasan kuat menjadi musis hebat. Konsistensi dalam berkarya juga penting. Dan tentu saja, jangan cepat berpuas diri.

Perkenalannya dengan Musik

Pengalaman bermusiknya dipengaruhi tontonannya waktu kecil. Setiap Minggu pagi, Hans bercerita ia selalu duduk pada sebuah bangku kayu di ruangan tengah rumahnya. Matanya berkaca-kaca menyaksikan pertunjukan musik Dedy Dores dalam TV hitam putih. Suara gitar dari sang Maestro itu mempengaruhi mentalnya. Kepalanya mulai diisi melodi yang meminta agar suatu waktu bisa diwujudkannya. Raungan gitar itu pula yang membawanya merantau ke tanah Jawa, mengejar impiannya bertahun-tahun kemudian.

Perjumpaanya dengan Dedy Dores ini, dikenang Hans sebagai saat-saat paling mengembirakan. Hans yang lahir di dusun kecil di Wailingo, tentu tidak menyaksikan hiburan seperti ini setiap saat. Karena waktu itu pelayanan PLN belum sebaik seperti sekarang, maka menyalahnya listrik pada Minggu siang baginya seperti sebuah berkat.

“Sehabis menonton Dedy Dores itu, saya langsung mendekati Bapa saya dan mengatakan akan menjadi musisi. Atau setidak-tidaknya bisa bermain musik suatu saat kelak,” kata Hans.

Hans tumbuh dan besar dalam lingkungan keluarga yang sederhana. ayahnya adalah PNS dan ibunya hanyalah ibu rumah tangga. Sebagai anak yang tumbuh di akhir tahun 70-an, lingkungan tidak memberinya banyak pilihan dalam menyalurkan bakat.

Saat Hans duduk di bangku kelas dua sekolah dasar, Ayahnya menghadiahinya sebuah gitar tepat di hari ulang tahunnya. Pemberian ayahnya itu sebagai pelecut semangatnya dalam bermain musik.

Kata Hans, gitar pemberian Ayahnya itu merupakan barang mahal. Semua anak ingin memainkannya. Jadilah gitar itu berpindah dari satu tangan ke tangan lain, bahkan dari satu kampung ke kampung lainnya.

Setelah menamatkan sekolah menengah atas, Hans memberanikan diri merantau ke tanah Jawa. Selain untuk menempuh pendidikan, kota itu dianggapnya memberi ruang menempah diri dan skil bermusiknya.

Di Kota Jogjakarta, Hans belajar musik lebih jauh. Ia mendalami petikan gitar dari Jimi Hendrik dan Steve Vai. Dua gitaris ini kemudian mempengaruhi kiblat musiknya, dan tentu saja sang idola pertamanya, Dedy Dores.

Kuliah Sambil Ngamen

Di Jogjakarta, Hans menjalani dua rutinitas: kuliah dan ngamen. Sepulang kuliah, Hans mengamen di jalan-jalanan Yogyakarta. Hari-hari Hans terisap sepenuhnya dalam dua rutinitas ini. Rutinitas yang membawanya masuk jauh ke ceruk terdalam dunia musik.

Aktivitas Hans ini, sempat diingatkan para sahabatnya agar berhenti saja. Musik tidak akan memberinya kehidupan di masa depan. Hans yang sudah menyatuh dengan musik, memilih setia pada jalannya.

“Saya bahkan pernah bertemu Suster orang Lamaholot saat ngamen. Suster itu menganjurkan untuk berhenti mengamen. Suster itu bilang, kalau kekurangan makanan atau kebutuhan lain, datang saja ke biara, tidak usah ngamen lagi, buat malu,” kenang Hans.

Pandangan kaum awam terhadap aktivitas mengeman seperti, merupakan tantangan tersendiri bagi Hans. Namun ia tentu tak patah semangat. Banyak musisi besar yang menapaki anak tangga seperti ini. Ngamen bukan sepenuhnya soal uang, melainkan sedang menuntun seorang musisi berkarya.

Konsintensinya kepada musik ini, kemudian mengantaranya merebut ruang di kafe-kafe. Pada awalnya dari jalanan, kini sudah naik setingkat lebih tinggi. Selanjutnya, Hans menghabiskan malam-malam panjangnya di kafe-kafe. Sampai suatu ketika, ia benar-benar lelah, tubuhnya penat, tapi tidak dengan jiwanya. Hans kemudian memilih menepi sejenak dari hiruk pikuk musik. Namun semakin hari ia tak memainkan musik, semakin kuat pula panggilan jiwanya untuk masuk dunia itu.

“Saya merasa ada sesuatu yang hilang, kalau saya tidak bermain musik. Jadi saya harus terus melakukannya. Musik telah menjadi bagian dari hidup saya,” ujarnya.

Bentuk D’ Lamaholot Band

Pada masa jeda yang sebentar itu, Hans didatangi sahabatnya, Rafa RH, mengajakanya membentuk sebuah grup musik beraliran rock. Ajakanya itu diterima. Bersama Rafa, mereka kemudian membentuk band beraliran rock bernama D’Lamoholot Band. Band ini gawangi empat anak muda: Hans Lamen, (gitaris), Rafael RH (bas), Edi (drum) dan Stanis (vokal).

Lamaholot Band mengeluarkan album perdana berisi sepuluh lagu. Album perdana itu kemudian meledak di pasaran Lamoholot dan mendapatkan tempat tersendiri di hati anak-anak muda. Musiknya yang keras, bergayung sambut dengan darah anak muda, darah yang masih panas, darah menghentak-hentak mengikuti aliran keras musik rock.

The Lamoholot Band, kemudian menjadi idola baru di kancah musik bumi Lamaholot, sekaligus menjadi tonggak berdirinya band-band rock ikutan dari tanah Nusa Bunga. Lagu-lagu Lamahohot Band kebanyakan diciptakan Hans Lamen. Lagu Ina Benga dan Nusa Bunga barangkali yang paling familiar di kalangan orang Lamoholot.

Lagu Ina benga menceritakan seorang gadis Adonara yang jelita dan membuat laki-laki terpesona dan luluh hatinya, sedangkan lagu Nusa Bunga menceritakan raung kerinduan anak rantau untuk kembali pulang ke kampung halamannya yang damai.

Lagu itu menceritakan anak rantau yang pulang sebagai orang sukses yang ketika melihat tanjung gemuk, daratan pertama yang dilihat ketika di atas Kapal Pelni, air matanya jatuh, mengingat kehidupanya yang susah diwaktu kecil, juga dikenanganya sebagai masa yang ceria nan indah. Sebagai tanah ketuban, maka ia selalu mengenanganya, dan tak akan dilupakannya, selama hayat masih dikandung badan.

D’Lamoholot Band kemudian mengalami pergantian vokal dari Stanis ke Yance dan mengeluarkan album ke dua, sebelum akhirnya vakum setelah kelima anak muda ini menyelesaikan pendidikan di tanah Jogja. Satu per satu personil mulai sibuk dengan pekerjaan dan hidup berumah tangga. Namun demikan, Hans belum pernah sekalipun berpikir untuk berhenti dari musik, dunia yang telah memberinya ketenangan sekaligus kegelisahan yang tak sudah-sudah. (Rafael L Pura/ol)