Bayi di TTS Meninggal Lagi, RSUD Soe Dinilai Tidak Profesional

berbagi di:
ilustrasi bayi

Megi Fobia

 

 

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah bayi yang dilahirkan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soe meninggal dunia. Ada yang meninggal di RSUD Soe, ada juga yang meninggal di RSUD WZ Johannes Kupang, setelah dirujuk dari RSUD Soe ke Kupang.

 

Kematian bayi saat dilahirkan tersebut dinilai akibat klinik di Kabupaten TTS dan RSUD Soe belum memadai termasuk peralatannya.
Lebih miris lagi, RSUD Soe sendiri tanpa dilengkapi dua alat penting yaitu oksigen dan inkubator.

 
Penilaian tersebut disampaikan Adma Nggadas, warga RT 014/RW 006 Kelurahan Nonohonis, Kabupaten TTS kepada VN, Minggu (13/8). Adma adalah orangtua dari bayi meninggal akibat pelayanan di RSUD Soe kurang baik.

 

“Banyak bayi yang korban karena kondisi bayi yang dilahirkan beda dengan hasil diagnosa. Hal ini karena di RSUD Soe tidak memiliki oksigen dan inkubator. Oleh karena itu, kami minta pelayanan RSUD Soe diubah, sehingga tidak lagi menelan korban,” ujar Adma.

 

 

Adma menjelaskan, anaknya meninggal pada Rabu (2/8) lalu. Sebelumnya, dokter yang menangani di Kupang setelah melakukan pemeriksaan terhadap anaknya mengatakan bahwa nyawa anaknya tidak akan tertolong .

 

“Waktu kami periksa di Kupang, dokter bilang sudah sangat kritis dan hanya bisa berdoa, sehingga pada Rabu (2/8) anak saya menghembuskan napas terakhir. Ini menjadi persoalan karena keterbatasan alat di RSUD Soe,” katanya.

 

Menurutnya, kematian itu diatur oleh Tuhan. Namun, jika fasilitas kesehatan mendukung dengan berbagai alat kesehatan yang lengkap baik di klinik maupun di RSUD Soe, maka nyawa bayi yang dilahirkan bisa tertolong. “Saya tidak persoalkan kematian anak saya, karena sebagai seorang beriman harus paham bahwa mati itu di dalam tangan Tuhan, namun yang dipersoalkan adalah oksigen dan inkubator di RSUD Soe tidak ada,” ujar Adma.

 

“Sebagai masyarakat, saya minta agar ada perhatian serius pemerintah, agar peralatan di RSUD Soe segera dibenahi, yang rusak diperbaiki. Contoh, oksigen tidak ada dan inkubator rusak, pemerintah harus segera benahi,” pungkasnya.

 

 

Direktur RSUD Soe dr Ria Tahun dan Kepala Dinas Kesehatan TTS dr Hosiana Inrantau yang dikonfirmasi melalui telepon selularnya masing-masing tidak merespons.

 

 

Kejadian Berulang
Anggota DPRD TTS, Marthen Tualaka menegaskan sistem pelayanan RSUD Soe belum profesional, kejadian yang dikeluhkan pasien itu sudah berulang kali.

 

 

DPRD TTS, tidak pernah memangkas sepersen anggaran pun yang dialokasikan atau yang diusulkan oleh manajemen RSUD Soe karena DPRD secara politis mendukung untuk pemberian pelayanan kesehatan masyarakat. Sehingga kalau tidak profesional tetap jadi persoalan masyarakat bagi masyarakat.

 

“Kita jangan bicara mau memberikan jadi saran karena setiap kali ada saran, tetapi diabaikan maka yang korban adalah pasien,” jelasnya.
Marthen mengatakan, semestinya oksigen dan inkubator harus stand by di RSUD Soe karena menjadi kebutuhan utama pasien. Buktinya sampai sekarang akibat ketiadaan oksigen dan inkubator, maka banyak yang menjadi korban,” katanya.