Belajar Dari Lereng Bukit Blopo

berbagi di:
img-20200809-wa0009

Bagian I

Rafael L Pura

BERJARAK lima kilometer di sisi timur Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), perkebunan hortikultura milik Ray Fernandes membentang di atas lahan seluas 1,8 hektar. Perkebunan yang dikembangkan dengan teknologi irigasi tetes ini, menjadi ladang pembelajaran bagi masyarakat umum, bahkan mahasiswa. Perkebunan itu, hanyalah awal dari gerakan besarnya dalam memberdayakan masyarakat petani TTU.

Pagi masih terlalu dingin di lereng Bukit Blopo, kelurahan Tubuhue, minggu, (19/7), ketika kami dan Raymundus Sau Fernandes (Ray) berkendara menuju perkebunannya, jaraknya tak lebih dari satu kilometer dari rumahnya. Pucuk-pucuk hijau pepaya california serta kacang lurik yang tumbuh subur seperti menyambut kami.

Hawa dingin yang menciptakan butiran embun-embun bening bergeming seperti sedang membelai pucuk-pucuk hijau pepaya california. Di hadapan kami, bukit blopo beridiri tegak dirimbuni pepohonan dan rerumputan pendek yang menghijau. Langit biru membentang cerah, berhias awan putih membayanginya.

Ray, yang mengenakan topi koboy dengan balutan baju lengan panjang, berjalan memasuki perkebunan. Tubuhnya kemudian tenggelam di antara deretan rimbunnya pepaya california. Kami mengikuti dari belakang.

“Ini sudah matang,” Ray memetik dua buah pepaya california dan memberikannya kepada salah satu penggarap kebunnya.

Luas perkebunan yang dipersiapkan seluas delapan hektare, Ray baru menggarapnya seluas 1,8 hektar. Di atas lahan itu, ditanami ribuan pepaya california dan kacang lurik. Ray berencana menggarap keseluruhan lahan itu dan menanami tanaman yang sama.

Ray mengembangkan perkebunan itu dengan pola irigasi tetes, pola ini nantinya juga diterapkan pada keseluruhan luas lahan yang digarap. Sebagai persiapan, Ray telah membangun sebuah bak besar di sudut kebunnya untuk menyuplai air.

Sebagai tanaman yang dikembangkan di musim kemarau, tentu membutuhkan asupan hara yang cukup. Ray menolak menggunakan pupuk kimia dan memilih mengembangkan pupuk kompos yang diproduksi sendiri, dengan memanfaatkan kotoran ternak-ternak peliharaannya. Ray sendiri memiliki ribuan ekor babi dan Sapi.

Ray memulai aktivitas beternaknya itu sejak lulus kuliah, ia memulainya dengan memelihara lima ekor saja, kemudian terus berkembang sampai saat ini. Kotoran-kotoran dari ternaknya ini, dengan piawai dimanfaatkan untuk memproduksi pupuk kompos, yang kemudian menopang sepenuhnya perkebunan hortikultura miliknya.

Kabar baikanya, pupuk kompos dan tanaman pepaya kalifornia ini, telah melalui uji laboratorium Universitas Nusa Cendana (Undana) dan direkomendasikan sebagai bibit unggul. Itu artinya, selain dijual, benih itu bisa dimanfaatkan petani lokal dan tidak membelinya lagi dari luar NTT.

Kecuali pepaya california, kacang lurik yang dikembangkan ini telah melalui satu masa panen, dengan produksi sebanyak 200 karung. Selain dikembangkan sebagai kebun percontohan, juga sebagai wujud kecintaan Ray kepada dunia tani. Dunia yang telah membentuk dan menghidupi basis kekuatan politiknya dalam mengarungi lanskap pertarungan politik di tanah TTU.

Masuknya Ray ke gelanggang politik itu, kemudian membawanya merebut jabatan yang paling prestisius ; menjadi Bupati. Setelah sebelumnya pernah memenangi suara rakyat dan mengantarnya menduduki sejumlah jabatan starategis di DPRD TTU dan Wakil Bupati.

Meski sekarang sudah menjadi Bupati selama dua periode, Ray rela meluangkan celah waktu luang di tengah-tengah kesibukannya, untuk kembali ke kebun dan mengembangkan tanaman hortikultura ini. Perkebunannya ini, kini menjadi tempat pembelajaran, bukan saja dari masyarakat TTU, namun juga dari luar, bahkan mahasiswa.

img-20200809-wa0008

Berdayakan Petani

Ray ingin memulai gerakan besar dari perkebunannya. Lahan yang digarapnya ini, hanya sebagai lahan contoh bagi masyarakat, sebelum ia memulai misi besarnya dalam memberdayakan para petani di Kabupaten TTU. Pertanian yang dikembangkan inilah, menjadi modal awal, juga sebagai jalan pembuktian terakhir kepada masyarakat.

“Masyarakat itu mulai bergerak ketika sudah melihat ada bukti, dibandingkan dengan kata-kata motivasi apa pun. Untuk itu, saya harus memberi bukti terlebih dahulu, sebelum saya mengajak mereka,” katanya.

Dengan modal perkebunannya ini, Ray tengah merintis jalan pemberdayaan bagi kelompok perempuan tani. Kelompok ini bakal mengembangkan 20 hektar lahan untuk tanaman holtikultura. Ray juga meniti pengembangan di daerah lain, seperti di Napan, Hauteas dan tepi kali Tubuhue.

Di Napan, kelompok tani akan mengembangkan lahan seluas 24 hektar untuk penanaman kacang lurik, sementara di Hauteas bakal dikembangkan tanaman hortiultura di atas lahan ratusan hektar. Sementara di tepi kali Tubuhue, juga bakal dikembangkan tanaman hortikultura. Ray memproyeksikan akan ada ratusan kepala keluarga, serta yang terhimpun dalam kelompok tani diberdayakan.

Ray melihat ada semangat yang mulai perlahan hilang untuk bertani, terutama di kaum milenial yang tumbuh bersama fajar baru. Orientasi kebanyakan orang, kini bekerja di perkantoran. Untuk itu, dengan gerakannya ini, ia ingin mengajak masyarakat kembali ke kebun dan membangkitkan kecintaan kepada dunia pertanian, sebagai penyedia kebutuhan dasar hidup umat manusia.

“Mungkin saja, sektor pertanian sebentar lagi akan benar-benar ditinggalkan masyarakat, apalagi kaum milenial yang tumbuh di tengah revolusi industri 4.0. Gerakan ini, semoga bisa mengilhami mereka, mengubah orientasi hidup mereka dan mengembangkan pertanian, dengan cara modern dengan memanfaatkan berbagai teknologi pertanian yang telah diciptakan,” ujar Ray.

Peluang Pasar

 

Ray melihat masa depan cerah pertanian di NTT, ada peluang pasar yang begitu besar, apalagi pemerintah NTT tengah mengembangkan pariwisata sebagai prime mover, yang berarti ketika pariwisata bergerak, sektor lain tumbuh menopangnya. Hasil pertanian, barangkali menjadi sektor yang paling mendapatkan dampak dari gerak gerbong Pariwisata ini.

Ray juga melihat Kebutuhan pangan masyarakat NTT selama ini, sebagian besarnya masih didatangkan dari luar, termasuk buah-buahan. Dari sini, sebenarnya terbentang peluang yang sangat besar. Masyarakat harus segera memulai memanfaatkan segala kekayaan daerah ini. Dengan demikian, Ray yakin, suplai pangan untuk kebutuhan masyarakat NTT tidak lagi didatangkan dari luar.

“Pasarnya sangat terbuka lebar, saya melihat kebutuhan buah-buahan pun sebagian besarnya disuplai daerah dari luar NTT, sedangkan kita juga memilikinya dan mempunyai kualitas yang bagus pula. Kalau kita mau dan konsisten mengembangkan ini, maka kita memiliki peluang yang sangat besar, apalagi NTT sedang giat-giatnya mengembangkan sektor pariwisata,” katanya.

Ray memproyeksikan hasil tanamam yang dikembangkan itu, mampu memenuhi permintaan dari Kupang, Ibu Kota Provinsi NTT. Ray bahkan memperkirakan merambah sampai ke Labuan Bajo, dan memenuhi kebutuhan konsumsi hotel dan restoran seiring geliatnya pariwisata NTT.

Dengan segala potensi ini, Ray ingin masyarakat TTU bangkit dan bergerak memanfaatkan potensi pertanian menuju kesejahteraan hidup. Ray ingin suatu saat kelak, semakin banyak masyarakat bisa menirunya dan berjalan di jalan yang sama.

Ray yang sedari tadi berjalan mengelilingi kebunnya, berhenti sejenak di bawah di rimbunnya pepaya California. Ketika melihat kacang lurik yang baru mencuat dengan segala tenaganya dari dalam tanah, senyumnya merekah, seperti sedang merayakan betul kecintaannya kepada dunia tani, dunia yang pernah meneguhkan sikapnya menolak menjadi pegawai negeri sipil. (Yan/ol