Belalang Kembara Habiskan Tanaman Petani

berbagi di:

Daun jagung milik sejumlah anggota kelompok tani di Desa Kiritana habis dimakan belalang, sehingga tersisa batang dan bulirnya saja.

JUMAL HAUTEAS

BELALANG Kembara atau Locusta Migratoria kian mengganas dan memasuki lahan pertanian petani yang sedang diolah, terutama lahan pertanian yang berada di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS). Karena itu, dalam sekejab lahan pertanian petani di Desa Kiritana, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, yang ditanami jagung seluas dua ha lebih dan padi lebih dari satu ha habis dimakan kawanan belalang kembara.

Sejumlah petani yang ditemui VN, di lokasi kejadian, Rabu (22/7) mengatakan, belalang kembara berusia dewasa menyerang lahan pertanian mereka sejak Sabtu (19/7) lalu dan langsung melahap habis daun jagung dan padi yang mayangnya hampir keluar.

Yunita Yewa Yani (42), warga RT 02/RW 01, Dusun 1, Desa Kiritana yang memiliki tanaman padi ciherang seluas satu ha mengaku tanaman pertaniannya nyaris rata dengan tanah dimakan belalang kembara. Selain itu, jagung milik sejumlah anggota kelompok tani di tempat itu juga daunnya habis dimakan belalang sehingga tersisa batang dan bulir jagung.

Petani setempat sempat berusaha untuk mengusir kawanan belalang yang datang dari balik bukit dekat pemukiman warga dengan membakar rerumputan kering yang ada di sekitar kebun, hingga mencoba membuat kebisingan di dalam kebun, namun kawanan belalang ini hanya bergeser sebentar kemudian kembali lagi ke kebun.
“Kami akhirnya pasrah saja karena tidak sanggup lagi menghalau belalang dan hanya bisa menonton belalang memakan padi dan juga jagung kami,” jelasnya.
Mengenai nasib padi di sawahnya, Yunita mengaku jika dialiri air padi dapat tumbuh lagi. Namun hasilnya akan jauh lebih sedikit jika tidak dimakan belalang seperti saat ini. Hal itu juga hanya bisa dilakukan jika kawanan belalang yang hingga saat ini masih berada di sekitar kebun mereka benar-benar pergi menjauh.
“Ini hasilnya bisa dua ton gabah. Tetapi sudah dimakan belalang jadi kalaupun bisa diairi lagi, paling banyak bisa seperempat ton,” jelasnya.
Bencana belalang kembara tersebut sudah dilaporkan kepada brigade pengendali belalang Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Sumba Timur. Namun petugasnya hanya pergi mengambil foto belalang lalu kembali dan belum membawa obat untuk menyemprot kawanan belalang tersebut.
“Petugasnya datang foto hari Senin (20/7) dan katanya mau datang semprot hari ini (Rabu, 22/7) tetapi belum datang juga ini,” keluhnya.

Petani lainnya, Joni Meta Hiwa (53) secara terpisah mengaku tanaman jagung miliknya dan sejumlah anggota kelompok tani lainnya totalnya mencapai dua ha dan semuanya tersisa batang karena daunnya habis dimakan belalang. Kondisi ini jelas mengakibatkan kerugian bagi mereka sebagai petani. Karena jagung yang habis dimakan belalang ini sesungguhnya tinggal menunggu waktu untuk panen.

Joni yang juga Wakil Ketua BPD Desa Kiritana ini mengaku jagung miliknya dan anggota kelompok tani lainnya sudah ditanam sejak Bulan April 2020 lalu, sehingga jagung sudah mulai ada bulir dan biji jagungpun sudah mulai mengeras. Namun karena dimakan belalang, kini isi jagung kembali menyusut dan dipastikan tanaman jagung seluas kurang-lebih dua ha tersebut akan gagal panen.
“Ini isi jagung sudah mulai kempes (mengeriput) dan besok-besok pasti akan makin kempes. Jadi kami jelas tidak bisa mengharapkan panen lagi jagung ini. Karena ini jagung lokal jenis lamuru, jadi harus sampai kering dan ini jelas tidak mungkin lagi,” tegasnya.

Diharapkannya ke depan pemerintah melalui dinas teknis terkait bisa memberikan perhatian lebih, sehingga masyarakat tidak harus berhadapan lagi dengan masalah belalang tanpa solusi seperti sekarang ini.

“Kalau ada program tanam jagung panen sapi itu baik, tetapi kalau belalang sudah makan kasih habis jagung begini, kami tidak tahu lagi mau buat apa,” tandasnya. (R-4/yan/ol)