Berakhir Agustus, Program Rastra Diganti Dengan BPNT

berbagi di:
img-20190711-wa0013

Ket Foto: Kadivre Perum Bulog NTT, Eko Pranoto (Kanan) menerima penghargaan dari Polda NTT atas partisipasinya dalam membantu Satgas Pangan mengendalikan ketahanan pangan di wilayah NTT di Kupang, (10/7). Foto: Sinta Tapobali/VN

 

 

Sinta Tapobali
Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Nusa Tenggara Timur memastikan Agustus 2019 penyaluran Bansos Beras Sejahtera (Rastra) akan dihentikan dan digantikan dengan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Pemerintah melalui Kementerian Sosial mengubah penyaluran beras menjadi Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) pada 2019. Hal ini di sampaikan Kadivre Perum Bulog Divre Kupang, Eko Pranoto ketika di temui VN di ruang kerjanya, kemarin.

“Untuk penyaluran sampai dengan bulan Juli ini kita baru menyalurkan 90% artinya masih ada 10% lagi yang masih harus kami salurkan, karena program bantuan Bansos sastra ini akan berakhir di Agustus nanti dan September akan berubah program menjadi Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT),” ungkapnya.

Ia menuturkan, untuk mekanisme penyerahan BPNT ini akan diserahkan ke pasar bebas artinya siapa saja boleh menjual beras karena Bulog bukan satu-satunya penyedia beras ataupun telur yang nantinya akan diprogramkan oleh Kemensos. Namun hingga
Agustus nanti, Bulog masih menyalurkan beras program Rastra.

“Sampai dengan bulan Agustus nanti kami masih menyalurkan beras Rastra, dan untuk menjaga kualitas beras sendiri kita ada yang namanya maintenance harian atau atau mingguan dan itu harus dilaporkan kualitasnya dan apabila ingin disalurkan kita akan mengajak tim koordinasi pangan dalam hal ini Dinsos untuk mengecek di gudang kami apakah layak salur atau tidak jadi kita adakan peninjauan kembali kualitas barang yang ingin disalurkan dengan tim Bansos, lalu kita akan bikin berita acaranya lalu kita akan disalurkan,” jelasnya.

Untuk penyaluran BPNT belum dipastikan berapa banyak yang akan disalurkan karena itu merupakan perluasan dari Bansos Rastra dan yang akan menangani itu langsung adalah Dinas Sosial bukan lagi Bulog  jadi pedomannya yaitu diserahkan ke pasar bebas dan siapa saja boleh ikut menjadi penyedia komuniti seperti beras dan telur.

Berdasarkan data yang di berikan, beras yang akan di salurkan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dari Januari hingga Agustus 2019 sebanyak 34.249.570 kg, yang akan disalurkan kepada 3.424.957 Keluarga Penerima Manfaat dengan masing-masing KPM mendapatkan 10 kilo beras. Hingga Juli 2019 baru sebanyak 24.240.460 kg yang tersalurkan kepada 2.424.026 KPM di NTT. Dari realisasi ini maka baru sebesar 70.78 persen bantuan beras rastra ini di salurkan kepada masyarakat NTT.

Menurutnya, dari 22 kabupaten/kota di NTT, tiga di antaranya sudah menerima BPNT sedangkan 19 labupaten lainnya masih menggunakan program Rastra.

“Kota Kupang sejak Juli 2018 sudah menggunakan BPNT sedangkan Belu dan Malaka baru Juni 2019 kemarin. 19 kabupaten lain masih menggunakan Rastra tetapi akan berakhir di bulan Agustus, dan mulai September 2019 semua Kabupaten akan menggunakan skema BNPT. Dari 19 Kabupaten penerima rastra, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, Manggarai Timur dan Manggarai  adalah empat Kabupaten yang paling sedikit menyerap bantuan rastra ini,” paparnya.

Ia mengatakan usai menerima penghargaan dari Kapolda NTT atas partisipasinya dalam membantu satgas pangan Polda NTT dalam pengendalian ketahanan pangan di Wilayah Nusa Tenggars Timur, Eko berkomitmen akan terus berkoordinasi dengan Satgas Pangan Tim Bulog untuk mempromosikan produk-produk Bulog kepada Masyarakat, dinas, sekolah maupun kampus agar pihak-pihak ini selalu mengenal produk-produk yang di siapkan Bulog.

Sementara Kasie Sekretariat Umum dan Humas Bulog Divre NTT, Zulkarnaen mengatakan hingga saat ini harga beras masih stabil karena beras dari Sulawesi Selatan banyak yang masuk ke Kota Kupang dengan harga di bawah harga beras bulog.

“Kalau Bulog jual medium Rp 8.600 dia jual Rp 8.300 nanti ketika harganya sudah 10% diatas Rp 8.600 baru kita operasi pasar,” tegasnya.

Ia menjamin untuk harga beberapa komoditi di pasaran hingga kemarin masih dalam keadaan stabil.

“Kalau untuk komoditi seperti bawang masih stabil, kalau Bulog untuk sekarang ini jual bawang harga Rp 45.000 untuk bawang putih, bawang merahnya Rp 30.000, untuk bawang kita menyerap dari Semau sama Kupang Barat,” paparnya. (bev/ol)