Beras Bulog NTT Aman Untuk Sembilan Bulan

berbagi di:
beras-gudang-bulog

 
Bulog Devisi Regional (Divre) Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini memiliki cadangan beras sebanyak 33.000 ton, cukup untuk kebutuhan masyarakat selama sembilan bulan ke depan.

Kepala Bulog Divre NTT, Eko Pranoto, mengatakan produksi beras di berbagai sentra produksi beras melimpah seperti di Borong, Kabupaten Manggarai Barat.

Selain itu, Bulog tidak lagi mendapat penugasan menyalurkan bantuan sosial (Bansos) beras untuk keluarga sejahtera (Rastra), yang membuat beras di gudang tidak dapat disalurkan.

Puluhan ribu cadangan beras tersebut disimpan berbagai gudang bulog yang tersebar di sejumlah kabupaten. Untuk mengurangi stok beras di gudang, bulog menggelar stabilitasi harga beras di pasar dalam rangka program Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH). Selain pengadaan beras dari petani NTT, kebutuhan beras di daerah itu juga didatangkan dari daerah lain seperti Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Menurutnya, stok seluruh gudang di NTT mencapai 50 ribu ton, akan tetapi beras yang ada tidak disalurkan menjadi beban bagi bulog lantaran biaya perawatan beras membengkak.

“Kami harus melakukan perawatan beras setiap tiga bulan dan biayanya tinggi. Sehingga kami harus terus melakukan operasi pasar beras,” kata Eko Pranoto, Minggu (1/12).

Dia menjamin harga beras di pasar jelang natal dan tahun baru tidak akan melonjak karena kegiatan operasi pasar masih terus berlangsung. Bulog menjual beras dengan harga Rp8.600 per kilogram kepada pedagang, sedangkan harga jual kepada konsumen sebesar Rp9.500 per kg.

Sementara itu, pedagang di pasar juga menjual beras lebih murah dari harga beras bulog yakni antara Rp8.300 hingga Rp8.400 per kilogram. Menurutnya, Bulog Divre NTT juga segera meluncurkan beras dalam kemasan bernama
‘Molas Lembor’ kemasan 10 kilogram pada 11 Desember 2019 yang akan dijual seharga Rp11.000 per kg.

Sementara Kepala Biro Humas Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri menyampaikan bahwa kebutuhan beras nasional saat ini dalam kondisi aman.

Menurut Kuntoro, musim panen yang bakal berlangsung pada awal tahun ini akan menambah jumlah stok yang ada, sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dengan baik.

“Data yang dimiliki Bulog saat ini cadangan beras di gudangnya mencapai 2,3 juta ton. Artinya kebutuhan beras aman. Apalagi awal tahun ini kita akan memasuki panen raya,” ujar Kuntoro.

Kuntoro menjelaskan, perhitungan rata-rata konsumsi nasional saat ini mencapai 111,58 kilogram per kapita per tahun, dengan angka produksi beras diperkirakan mencapai titik surplus sebanyak 4,64 juta ton pada periode ini.

“Ketersediaan ini didukung dengan produksi di luar Pulau Jawa dan adanya penanaman varietas padi gogo yang diketahui tahan pada musim kering,” katanya.

Walau begitu, Kabiro Humas dan Informasi Publik ini mengakui bahwa musim kering yang berlangsung cukup lama beberapa bulan terakhir telah membuat stok padi di masyarakat berkurang. Namun, hal itu disebut tak memengaruhi daya tahan pangan karena stok beras masih cukup hingga panen 2020 nanti.

“Sekali lagi tidak ada pengaruhnya karena kita akan menghadapi musim panen di awal tahun 2020 mendatang,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan prediksi Badan Pusat Statistik (BPS) yang menggunakan kerangka sampel area (KSA) luas panen besar yang ada mencapai 8,99 juta hektare (ha). Angka tersebut meliputi produksi Januari-September yang diperkirakan mencapai 46,9 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 26,91 juta ton beras.

“Untuk konsumsi selama periode ini diperkirakan jumlahnya mencapai 22,28 juta ton,” katanya.

Mengenai hal ini, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi menyatakan akan membuang 20 ribu ton cadangan beras pemerintah yang memiliki nilai Rp160 miliar. Pembuangan dilakukan karena usia penyimpanan beras sudah melebihi 1 tahun.

“Semua stok Bulog yang disimpan lebih dari lima bulan itu dapat dibuang, bisa diolah kembali, diubah menjadi tepung dan yang lain, atau turunan beras atau dihibahkan,” tukasnya. (mi/E-1)