Beratnya Perjuangan Memulihkan Tower-19

berbagi di:
img-20210408-wa0081

Kondisi Tower 19 dan jalan menuju tower. Foto: Putra/VN

 
Putra Bali Mula

Salah satu fasilitas publik yang terdampak parah oleh hantaman badai tropis Seroja adalah jaringan listrik di daratan Timor. Ada sekitar 800-an tower yang menunjang sistem kelistrikan di Timor. Satu saja terdampak, akibatnya fatal.

Satu yang terparah kondisinya adalah Tower 19 (T-19). Menjulang sekitar 20 meter di hutan di wilayah Desa Tunfeu, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, membuat tower ini jadi sasaran empuk badai. Tower kini ambruk mencium tanah, menyebabkan kabel transmisi menjuntai tak beraturan di tengah hutan.

Menurut Manager Unit Layanan Transmisi dan Gardu Induk (ULTG) Kupang Jeffry Immanuel, satu-satunya jalan adalah mengganti tower itu dengan yang baru. Tower pengganti dari Pulau Flores sudah disiapkan. Hanya saja,ia belum memberi kepastian kapan akan diganti.

Hal serius yang diperbincangkan Jefrry dan tim saat bersama VN meninjau kerusakan T-19, kemarin, adalah bagaimana teknis membawa tower pengganti melintasi hutan. Ada pilihan seperti membawa melewati hutan atau kemungkinan memasang gondola.

Ia mengisahkan, pada Senin pagi, usai dihantam badai, sekitar pukul 07.00 Wita, tim inspeksi harus melintasi longsor dan pepohonan yang tumbang untuk menemukan tower yang rusak itu.

“Awal, setelah badai itu, mereka jalan kaki enam kilometer sampai menemukan tower itu,” ujarnya.

Usai badai itu reda, Jeffry bersama timnya turun dengan kekuatan penuh membuka akses jalan menuju tower. Berjuang beberapa jam, termasuk menggunakan chain saw memotong pohon yang tumbang memalang jalan, barulah mobil berhasil masuk menyusuri jalan curam menuju hutan itu hingga mentok di titik yang longsor. Memang ada beberapa unit motor trailer disediakan namun tidak bisa masuk lebih jauh. Longsor dimana-mana. Tanah yang lunak memungkinkan tiap langkah terbenam apalagi mengangkut muatan berat.

img-20210408-wa0089

Bangkai T-19 nun jauh di bawah dan gemuruh derasnya arus sungai di sekitarnya tak lagi terdengar. Kami berhenti sejenak setelah 10 menit mendaki. Sepatu penuh lumpur. Dua petugas PLN, Jack dan Isman yang menuntun Jeffry dan VN tampak berpeluh menyusuri rute tak biasa di tengah hutan itu.

Di titik perhentian itu tampak dua tim sedang menggali tanah untuk membuat tiang penyangga Tower 20 (T-20) yang miring. T-20 tak separah T-19 yang rusak total. Beberapa pria lengkap dengan pakaian pengaman, bergantian menggali.

Ada sekitar 40 personel yang diturunkan sejak Senin lalu hingga Rabu (7/4). Usai badai, mereka nginap di kantor ULTG Kupang. Setiap saat mereka dilanda kekhawatiran lantaran kondisi tanah yang lembab yang potensial terjadi longsor.

Kondisi topografi di T-19 memaksa tim membuat flying fox sederhana untuk mendistribusikan logistik maupun kebutuhan kerja lainnya. Sebab, jalan menuju tower tidak dapat ditembus sepeda motor maupun mobil.

Di kantor ULTG Kupang pun tak kalah “hebohnya”. Di salah satu ruangan tampak banyak tas ransel. Ruangan itu dipakai istirahat oleh tim yang lelah dari lapangan. Sementara personil PLN lainnya tampak sibuk, beberapa di antaranya tampak serius di balik komputer.

Sibuk berjuang memulihkan kerusakan jaringan di lapangan, petugas di kantor pun, kata Jeffry, disiagakan untuk terus melakukan perawatan transmisi.

“Bahkan besok (8/4) kami dapat bantuan personel dari berbagai provinsi, kira-kira 90 orang,” kata dia.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTT Agustinus Jatmiko menyebut sejumlah wilayah layanan di NTT sudah menyala di antaranya Oepoi, Cak Doko, dan sebagian BTN Kolhua, Sumba Barat, Ende, Ngada, Sikka, Flores Timur, dan bertahap akan dipulihan di Kabupaten Lembata, Sumba Timur. Selain itu PLN juga masih berupaya untuk bisa menembus wilayah yang masih belum bisa diakses. (E-1)