Berbagi Pengalaman Empiris, Dinkes Kumpulkan 70 Dukun

berbagi di:
img-20200807-wa0039

Pengobat tradisional/dukun mengikuti rapat koordinasi pelayanan kesehatan dan penyehat tradisional se-Kabupaten Sikka di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Jumat (7/8) siang. Foto:yunus atabara/vn.

Yunus Atabara

MENINDAKLANJUTI wacana Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dalam mendorong Provinsi NTT untuk memeiliki laboratirium obat-obatan, Dinas Kesehatan (Dinkes) ) Kabupaten Sikka menggelar rapat koordinasi (Rakor) bersama 70 dukun penyehat tradisional yang ada di daerah tersebut.

Rakor itu, selain menjelaskan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pengobat tradisional atau yang sering disebut dukun, juga untuk berbagi resep dan jenis tanaman yang diyakini secara empiris dan turun temurun dapat menyembuhkan suatu penyakit.

img-20200807-wa0036

Demkian kata Kadinkes Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, kepada VN Jumat (7/8) usai membuka Rakor Pelayanan Kesehatan Tradisional dengan penyehat tradisional se-Kabupaten Sikka bertempat di Aula Dinkes Kabupaten Sikka.

“Ini langkah mendukung program pak Gubernur. Hari ini kita undang para dukun, untuk berbagi pengalaman empiris terkait tanaman berkhasiat yang sering digunakan sebagai obat tradisional mengobati suatu penyakit,” ungkapnya.

Selama ini, kata Herlemus, secara empiris banyak tumbuh-tumbuhan dan rempah-rempah yang digunakan sebagai obat tradisional. Namun belum pernah ada pakar atau ahli yang meneliti, khasiat yang terkandung dari ramuan yang sering digunakan untuk pengobatan tradisional.

Menurut Herlemus, tumbuhan obat yang sering digunakan untuk pengobatan tradisional selama ini belum diidentifikasi senyawa yang bermanfaat untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta mencegah serangan penyakit tertentu.

Oleh karena itu perlu diidentifikasi dan diteliti lebih lanjut, oleh para pakar yang digali dari masyarakat setempat berdasarkan pengalaman empiris yang diturunkan dari para leluhur hingga saat ini.

“Kita akan mendata dan meneliti jenis tanaman dan rempah yang selama ini digunakan untuk pengobatan. Hasil penelitian itu, kita akan minta kajian akademik dari pihak yang berkompeten untuk mendapatkan rekomendasi sebagai bahan obat,” kata Herlemus.

Hasil kajian ini, lanjut Herlemus akan dipresentasikan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur NTT dalam pertemuan bersama para Bupati dan Kepala Dinas img-20200807-wa0033Kesehatan se-NTT dalam waktu dekat di Kupang.

Pasifora Dua (50), dukun asal Nele Urung, mengaku sudah turun temurun menekuni pengobatan tradisional di kampungnya. Seperti halnya, sakit perut, gatal-gatal, kaseleo, lever dan patah tulang, dengan menggunakan tumbuh-tumbuhan.

“Sudah dari nenek moyang kami menggunakan daun dan akar tumbuhan untuk perut sakit, gatal-gatal, lever, sakit lambung dan patah tulang. Caranya pake urut dan molang (lulur) di bagian yang sakit,” ujarnya. (Yan/ol)