Berkas Tersangka Ilegal Logging Dilimpahkan Ke kejaksaan

berbagi di:
ilustrasi dacing hukum

 

 

Gusty Amsikan

Penyidik Polres TTU melakukan pelimpahan tahap satu berkas perkara tindak pidana illegal logging atau penebangan liar di kawasan hutan lindung Bifemnasi Sonmahole oleh oknum Kepala Desa Oenaem, Kecamatan Biboki Selatan, Bernadus Nesi, ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten TTU. Hingga kini penyidik Polres TTU masih menanti petunjuk lanjut dari jaksa penyidik Kejari TTU. Penyidik Polres TTU pun telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi termasuk saksi ahli dari BPK Provinsi NTT. Tindak pidana ilegal logging tersebut akan menjadi pintu masuk bagi dugaan penyalahgunaan Dana Desa di Desa Oenaem.

Hal tersebut disampaikan Kasat Reskrim Polres TTU AKP Tantang Prajitno Panjaitan kepada VN, Senin (27/1) di Kefamenanu.

Jika berkas tersebut masih dinyatakan kurang lengkap, maka pihaknya siap melengkapinya sesuai petunjuk jaksa. Sementara dugaan penyalahgunaan Dana Desa baru akan diselidiki setelah proses hukum ilegal logging tuntas. Pasalnya, kedua kasus tersebur berada di ranah yang berbeda yakni ranah pidana umum dan pidana khusus.

Sebelummnya, Penyidik Polres TTU menetapkan Kepala Desa Oenaem, Kecamatan Biboki Selatan, Bernadus Nesi, sebagai tersangka dalam kasus illegal logging di kawasan hutan lindung Bifemnasi Sonmahole. Sementara tiga orang lainnya, yakni Fidelis Neonnub, Agunsae Nailape dan Aleksander Sauto, yang turut diamankan bersama sang kepala desa, masih berstatus sebagai saksi. Pasalnya, dalam pemeriksaan terhadap ketiganya, penyidik tidak menemukan adanya niat untuk melakukan perbuatan melawan hukum. Ketiganya hanya menjalankan perintah dari sang kepala desa tanpa mengetahui, jika lokasi tersebut masuk dalam kawasan hutan lindung.

Kapolres TTU, AKBP Nelson Filipe Diaz Quintas mengatakan pihaknya telah menahan Kepala Desa Oenaem, Kecamatan Biboki Selatan, Bernadus Nesi, sebagai tersangka dalam kasus illegal logging di kawasan hutan lindung Bifemnasi Sonmahole. Bernadus akan ditahan selama empat puluh hari ke depan untuk kepentingan proses penyidikan. Yang bersangkutan mengaku kayu yang ditebang di kawasan hutan itu akan digunakan untuk pembangunan Kantor Desa Oenaem.

Sementara tiga orang lainnya, yakni Fidelis Neonnub, Agunsae Nailape dan Aleksander Sauto, yang turut diamankan bersama sang kepala desa, masih berstatus sebagai saksi. Pasalnya, dalam pemeriksaan terhadap ketiganya, penyidik tidak menemukan adanya niat untuk melakukan perbuatan melawan hukum. Ketiganya hanya menjalankan perintah dari sang kepala desa tanpa mengetahui, jika lokasi tersebut masuk dalam kawasan hutan lindung.

“Dalam penanganan perkara ilegal loging ini, kepala desa sudah kami amankan untuk empat puluh hari ke depan. Kalau tiga anak itu hanya sebatas saksi karena dalam pemeriksaan kita temukan bahwa niat untuk melakukan perbuatan melawan hukum tidak ada. Semua atas suruhan dari kepala desa. Mereka tidak tahu apa-apa dan hanya menjalankan perintah kepala desa. Tiga anak itu diminta kepala desa untuk memotong kayu untuk pembangunan balai desa. Untuk sementara, kepala desa menjadi tersangka tunggal dalam kasus ini,”jelasnya.

Ia menambahkan, kasus illegal logging tersebut akan menjadi pintu masuk untuk mengungkap dugaan penyalahgunaan dana desa oleh tersangka. Pihaknya akan mendalami dugaan penyalahgunaan dana desa tersebut, lantaran anggaran pembangunan Kantor Desa Oenaem bersumber dari Dana Desa. Kuat dugaan anggaran tersebut tekah disalahgunakan oleh sang kepala desa. (bev/ol)