Bernyanyi untuk Menghibur bukan Cari Popularitas

berbagi di:
50612260_228470638093822_3496065136555196416_n

 

Stef Kosat

Mencari popularitas dan kemapanan di panggung The Voice Indonesia sepertinya bukan tujuan dari Dini Rambu Piras. Karena Dini, panggilan karibnya telah mapan secara financial.

Sebab ia telah lama berkarir di Bank Internasional yakni Standart Chartered Bank yang menjadi sponsor klub sepak bola dunia dan Inggris Liverpol, dengan jabatan Branch Service Manager sejak 2014 hingga sekarang.

Dini hanya terpanggil untuk memberi hiburan bagi masyarakat Indonesia khsusnya NTT, dan sekali lagi ini bukan tentang Dini, tetapi bagaimana orang merasa bahagia dan terhibur ketika saya tampil bernyanyi itulah yang mendorong saya mengikuti ajang The Voice Indonesia, bahkan sudah lolos hingga babak final.

Sejujurnya ketertarikan Dini Rambu Piras terhadap dunia tarik suara diawali dari gereja sebagai song leader di gereja GMIT Paulus Kupang. Ketika kuliah di Universitas Kristen Petra Surabaya, Rambu diwajibkan untuk mengikuti salah satu kegiatan kemahasiswaan untuk wadah bersosialisasi dan berorganisasi supaya tidak hanya fokus belajar. Di situlah Dini memilih paduan suara karena sebelumnya ia merupakan song leaders di gereja.

Ia mulai belajar bagaimana caranya membaca not balok, olah vokal, dan berfokus pada aliran lagu klasik. Lagu-lagu seriosa seperti Avemaria, karena pelayanan mereka kebanyakan di gereja Katolik. Selain itu ia juga didorong untuk belajar yang lebih karena kelompok paduan suaranya mau mengikuti kegiatan lomba paduan suara, seperti Pesperawi, Vestifal paduan suara ITB. Tidak hanya itu, Dini juga meminta sang ibu untuk diijinkan mengikuti kelas Vokal selama tiga semester waktu masi kuliah. Dini ijin mengikuti kelas vokal kerena harus bayar dan sang ibu mengijinkan sehingga ia ikut kelas vokal seminggu tiga kali selama 15 menit.

Kemampuan bernyanyi Dini makin diasah karena sering diundang memeriahkan  pesta pernikahan. Selain itu, pembina dan pemilik kelompok paduan suara Stradivari Orchestra tempat ia berlatih adalah milik teman bernyanyi Dini sehingga ia sering diminta bernyanyi di pernikahan maupun acara syukuran lainnya.

Walaupun sudah memiliki kemampuan bernyanyi yang mumpuni, tetapi Dini tidak pernah mau mengikuti audisi pada ajang pencarian bakat manapun. Sehingga ia harus dipaksa bertahun-tahun oleh teman-temannya di antaranya Elen Kolaraga, Ledy Radja, Kerie Lawahery, Raymon Johan, yang semuanya merupakan anggota Stradivari Orchestra Surabaya. Mereka bahkan menilai Dini itu orang yang kurang percaya diri padahal memiliki kemampuan bernyanyi.

Para anggota Stradivari Orchestra Surabaya, sempat menilai Dini munafik dan hipokrit karena belum pernah mengikuti audisi tetapi mental Dini sudah kendor dan mundur. Mereka memarahi Dini setiap tahun sejak tahun 2000, jika ada ajang pencarian bakat dengan mengatakan mau sampai kapan Dini akan menghindar? Selain itu, ia juga dipaksa oleh teman-temannya untuk mengikuti ajang Mis Indonesia dan ia merasa lucu sendiri karena ia tidak memiliki bakat tersebut. Pada akhirnya Dini menyadari bahwa ternyata untuk segala sesuatu itu, harus ada langkah pertama dan ia memulai itu pada awal tahun 2019.

Pada akhirnya Dini mengiakan bahwa ia akan mencoba mengikuti ajang The Voice Indonesia pada tahun 2019, namun teman-teman masih mempertanyakan keberadaanya di mana karena harus mengikuti audisi The Voice tingkat lokal di Surabaya. Sehingga pada akhirnya Dini lolos dan ia bersyukur karena memiliki teman yang cerewet untuk kebaikan Dini. Bahkan para anggota Stradivari Orchestra Surabaya ikut menghantar Dini untuk memastikan agar Dini ikut Audisi karena mereka takut Dini keluar dan tidak megikuti audisi.

Namun yang paling menegangkan adalah saat menanti nomor antrian untuk dipanggil audisi karena ia ada job dengan Stradivari Orchestra pada pukul 16.00 WIT. Sehingga ia berbicara dalam hati bahwa jika sampai pukul 15.30 waktu Surabaya dan namanya tidak dipanggil untuk audisi maka memang belum waktunya untuk ia ikut ajang pencvarian baakat.

Akhirnya pada pukul 15.00 namanya dipaggil dan ia mengikuti audisi dan setelah itu ia meminta ijin untuk mengambil job di luar pada pukul 16.00 dan panitia The Voice mengatakan bahwa mereka akan menghubunginya jika ia dinilai lolos kriteria.

Menanti panggilan telpon dari panitia The Voice untuk memastikan apakah ia lolos audisi atau tidak itu merupakan penantian panjang. Karena semua peserta lain sudah dipanggil ke Jakarta sementara Dini tidak ada kepastian sehingga ia sempat berpikir bahwa memang ia tidak layak. Tetapi Panitia mengumumkan lain dan ternyata ia lolos sebagai peserta paling akhir untuk mengikuti audisi lagi di Jakarta.

Namun tantangan lain bagi Dini adalah ia masih ketakutan untuk ke Jakarta, sehingga ia harus meminta sang ibu untuk menemaninya ke Jakarta untuk mengikuti audisi lanjutan. Dini melakukan demikian karena audisi di The Voice Indonesia merupakan sesuatu yang baru baginya. Sehingga ia butuh penguatan dari sang ibu, sebagai tenaga ekstra baginya untuk bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya saat audisi.

Tenaga ekstra yang diberikan lewat doa dan kehadiran sang ibu, akhirnya mengantar Dini masuk ruang audisi The Voice dan semua Coach/juri berbalik yang menandakan bahwa Dini lolos ke babak pertunjukan. Akhirnya Dini telah samai pada titik dimana, ia tidak hanya mengejar sekedar sebagai pemenang tetapi betul-betul ia menggunakan panggung The Voice sebagai panggung untuk ia belajar bernyanyi karena ia memang masih suka belajar nyanyi.

Secara alam bawa sadar, juga telah membentuk mental Dini bahwa menang/kalah dalam sebuah ajang itu merupakan nomor sekian. Tetapi apapun proses yang akan ia lewati, Dini selalu mendapat pengalaman baru dan pelajaran baru. Sehingga samapai memberikan penilaian bahwa The Voice Indonesia luar bisa dalam melakukan sebuah ajang pencarian bakat. Karena segala hal diperhatikan mulai dari kesehatan peserta, kedisiplinan, dan kejujuran dalam penilaian kualitas para peserta The Voice semuanya murni.

Semua atensi yang didapat Dini, akhirnya membuat ia sadar bahwa apa yang ia tampilkan di The Voice ternyata bukan tentang Dini. Tetapi apa yang harus ia perbuat sebagai konsekoensi dan tanggungjawab atas apa yang sudah diberikan masyarakat Indonesia teristimewa NTT. Apa yang akan ia lakukan untuk membuat orang bahagia melalui musik. Dini menyukai musik/seni karena bidang tersebut masuk ke segala sisi manusia dan diterima.

Untuk itu Dini berharap ia bisa berdampak bagi musik Indonesia khususnya bagi masyarakat NTT, tetapi ia sendiri akan memilih aliran musik Pop yang ada klasiknya karena besiknya musik klasik. Ia melanjutkan bahwa sedang menikmati proses yang sedang berlanjut, proses dimana ia bertumbuh dengan teman baru dan apa yang dilakoni juga membantu menginpirasi banyak orang untuk mengeksplorasi kemampuan mereka di bidang apa saja untuk dimanfaatkan dan membantu orang lain juga.

Bahkan ada pasien kanker yang begitu bahagianya ketika melihat Dini tampil di pertunjukan dan hal itu yang membuatnya merasa bahwa apa yang dilakukan Dini walaupun kecil tetapi bisa berdampak untuk orang lain. Sehingga ia berpesan kepada VN bahwa “Untuk Siapapun Yang Sedang Takut Untuk Mencoba sesuatu, Jangan Takut Tetapi Coba Saja Dulu”. Setelah mencoba baru mau mengundurkan diri, terserah yang penting sudah mencoba daripada tidak mencoba apa yang disukai sama sekali karena ketakutan. Karena ketakutan adalah bayangan sebenarnya, coba saja langkah pertama apa yang disukai.

Keberuntungan Dini di ajang The Voice karena tidak ada batasan umur karena ia sudah berusia 36 tahun dan masih diperbolehkan mengikuti ajang tersebut. Ia menjadi peserta The Voice paling tua sehingga peserta lain memanggilnya mami. Dini juga mengaku didukung sepenuhnya oleh manegemen Standart Chartered Bank sehingga ia tidak harus resign/mengundurkan diri dari bank tersebut.

Sedangkan sang ayah Umbu Saga Anakaka mengaku kaget dengan dan bangga melihat Dini tampil di TV. Karena bagi mereka sebagai orangtua Dini, sudah memiliki pekerjaan pokok. Jadi bagi Umbu tampilnya Dini di ajang The Voice Indonesia hanya sekedar penyaluran bakat terpendamnya. Terkait peluang Dini untuk juara di ajang The Voice Indonesia ia serahkan seluruhnya kepada Tuhan dan para voters untuk memilih termasuk masyarakat NTT.

Jika masyarakat menilai Dini pantas untuk dipilih maka masyarakat boleh memilih Dini, tetapi sebagai peserta dari NTT, kami mengharapkan dukungan masyarakat supaya Dini bisa menampilkan yang terbaik. Apalagi Dini sudah mencapai babak final bersama dua wakil NTT lainnya.

 

Nama: Rambu Piras, nama panggilan Dini (anak kedua dari empat bersaudara)

TTL:  Magelang, 01 Januari 1983, jam 24.01 oleh karena itu dipanggil *Dini* karena lahir saat dini hari, dini bulan dan dini tahun.
Ayah: Drs. Umbu Saga Anakaka

Ibu: Ir Retno Umbu Saga, MS.

Pendidikan: SD (1988-1994) Kelas 1-6 di SD Kanisius Sorowajan Daerah Istimewa Yogyakarta, dan memperoleh ijazah SD nya di SDN Naikoten 2 Kupang. SMP (1994-1997) SMP Negri 1 Kupang, SMA (1997-2000) SMA Negri 1 Kupang. Dari jenjang pendidikan SD, SMP dan SLTA sebagai Siswa Berprestasi dengan beberapa kali mendapat Peringkat 1 di kelasnya. Semasa SLTA, menjadi Guru Sekolah Minggu di GMIT Paulus Kupang. Pendidikan Tinggi (2000-2005), Universitas Kristen Petra Surabaya, Jurusan Teknik Industri. Saat kuliah, terpilih menjadi *Komisaris Tinggi untuk Jurusan Teknik Industri Angkatan 2000*. Sangat aktif di UKM Paduan Suara Univ. Kristen Petra, mengikuti lomba-lomba Festival Paduan Suara di ITB, Pesparawi Mahasiswa Nasional, Mission Trip di daerah-derah dan di luar negri (Malaysia, Singapura, Hongkong dan Australia. Sampai dengan sekarang masih aktif menjadi Anggota dan Pengurus Paduan Suara Petra Chorale. Ketika Wisuda mendapat penghargaan sebagai *Mahasiswa Aktif Berprestasi*

Riwayat Pekerjaan: Tahun 2005-sekarang, bekerja di Standard Chartered Bank yang terletak di Jl. Basuki Rachmat Surabaya. Jabatan: Branch Service Manager. Awal kariernya sebagai Service Assistant (hampir 2 tahun), kemudian diberi special task force untuk telemarketing selama kurang lebih 6 bulan. Dari sini pengalamannya diasah dan dibentuk sehingga ditawari menjadi Relationship Manager selama kurang lebih 5 tahun. Sebagai karyawan Standard Chartered Bank, selalu diberi kesempatan untuk belajar dan berkembang.  Selanjutnya kembali dichallenge sebagai *Regional Sales Manager Area Surabaya (untuk 3 cabang) dan kemudian diberi tanggungjawab untuk cabang-cabang lainnya termasuk Semarang, Makassar, Medan dan Bandung. Selama berkarier di Standard Chartered Bank pernah memperoleh penghargaan sebagai The Best Regional Manager pada Tahun 2013. (mg-01/R-2)