Biaya Perawatan Pasien Covid-19 dari Kemenkes Langsung ke RS

berbagi di:
foto-hal-01-cover-headshoot-kepala-bpjs

dr Fauzi Lukman, Kepala BPJS Cabang Kupang

 

 

Penanganan awal hingga kematian dan pemakaman, akan dibayarkan langsung oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kepada manajemen RS seluruh Indonesia yang menangani si pasien.  Sedangkan BPJS Kesehatan hanya diberikan tugas oleh Kemenkes untuk melakukan verifikasi data pasien penderita Covid-19.

Demikian disampaikan Kepala BPJS Cabang Kupang, dr Fauzi Lukman Nurdiansyah saat menjawab pertanyaan VN, Rabu (18/11).

“Kami diamanahi tambahan untuk melakukan verifikasi penderita Covid-19 tidak hanya peserta BPJS, tetapi yang  menjadi peserta BPJS KIS juga. Proses pembayaran  dilakukan Kementerian Kesehatan RI langsung dilakukan kepada rumah sakit bersangkutan.” jelas Fauzi.

Terkait besaran biaya penanganan seorant pasien Covid-19 yang selama ini ditangani BPJS Kesehatan Kupang, dr Fauzi mengaku tidak tahu.

“Kami cuma verifikasi data saja, terkait jumlah pasien Covid-19 di Kota Kupang saat ini juga angka masih terus bergerak naik yah jadi belum bisa saya sampaikan. Biaya penanganan pasien Covid-19 juga kami tidak tahu, karena langsung bayar kepada rumah sakit yang merawat pasien Covid-19.” jawabnya.
Hanya Terima Laporan

Hal senada juga disampaikan pejabat Dinas Kesehatan Kota Kupang yang juga tergabung dalam Satgas Penanganan Pencegahan Covid-19 Kota Kupang.

“Selama ini Dinas Kesehatan Kota Kupang hanya menerima laporan sesuai perawatan dan hasilnya dari pihak rumah sakit,” ungkap Kepala Bidang Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kupang Sri Wahyuningsih kepada VN, Rabu (18/11) siang.

Terkait biaya perawatan pasien Covid 19 baik yang dirawat maupun dinyatakan meninggal dunia, kata Sri, merupakan tanggung jawab rumah sakit yang merawat pasien.

“Yang merawat pasien dan mengetahui kondisi pasien adalah dokter yang merawat (di RS). Kami di Dinkes hanya melakukan Surveylans datanya,” pungkas Sri.

 

Biaya Besar
Seperti dikutip dari Kompas.Com, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban, mengakui bahwa biaya untuk pasien Covid-19 sangat besar dan mencapai ratusan juta rupiah.

Ada sejumlah alasan mengapa biaya perawatan pasien Covid-19 sangat mahal. Pasien harus menjalani sejumlah tahapan pemeriksaan. Untuk itu, biaya ketersediaan alat medis tidak murah. Misalnya, untuk keperluan rapid test.

“Itu tidak gratis. Kalau orang dengan Covid-19 itu dites dulu positif, menunggu polymerase chain reaction (PCR)-nya, biasanya dalam sekali tes habis Rp 1 juta,” ujar Zubairi.

Setelah menjalani tes PCR, pasien positif Covid-19 akan menjalani masa karantina dan rawat inap di rumah sakit. Apalagi, dengan obat perawatan pasien yang juga tidak murah.

“Kalau sekarang yang rutin diberikan yang rawat inap diberi obat anti-pembekuan darah, tapi ada juga yang molekuler itu yang lumayan mahal. Sekali suntik Rp 300.000 sampai Rp 400.000 dalam satu obat, belum obat-obatan yang lainnya,” kata Zubairi.

Biaya pelayanan ruangan juga akan menambah besaran biaya. Bagi pasien yang membutuhkan perawatan intensif di ruang ICU dengan sejumlah alat penunjang kesehatan pasien, biayanya akan semakin besar lagi. Apalagi, jika pasien mengalami dampak serius pada organ lainnya seperti gagal organ jantung, paru, ginjal, otak, atau pembekuan darah di mana-mana.

Komponen biaya perawatan pasien Covid-19 juga mahal karena tenaga medis yang melakukan penanganan membutuhkan alat pelindung diri (APD).  Jika beban biaya pengadaan APD nakes tidak dibiayai oleh pemerintah, maka dibebankan kepada pasien dan keluarga. (mg-10/mg-25/C-1)