Bimoku jadi Terminal Bayangan Baru

berbagi di:
img-20200121-wa0076

Beberapa bus tampak sedang parkir menanti penumpang di wilayah Bimoku. Foto: Stef/VN

 

 

Stef Kosat

Setelah dilarang beroperasi di sekitar Oesapa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, sopir bus dan mobil travel yang melayani wilayah kabupaten di Pulau Timor kini parkir dan mencari penumpang di wilayah Bimoku.

Pantauan VN, Selasa (21/1) cabang Bimoku di Kelurahan Lasiana jadi terminal bayangan baru.

Menyoroti hal ini, Pius Sadju selaku Kepala Seksk Perizinan dan Pengawasan LJA NTT menegaskan para sopir diberi waktu dua hari untuk tidak lagi beroperasi di sepanjang jalur Bimoku jika tidak izin trayek akan segera dicabut.

“Khusus Bus AKDP kami peringatkan, jika masih mangkal di Bimoku sampai dua hari ke depan, maka Dinas Perhubungan akan menggiring mereka semua ke Terminal Oebobo dan mencabut semua izin mereka. Kewenangan izin bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) itu di provinsi khususnya di UPTD wilayah II. Namun, komunikasi gampang antara UPTD. Jadi kalau ada yang melawan akan kami tunggu saat bayar retribusi dan sekalian cabut izinnya. Kami hafal semua bus AKDP dan mereka mudah diatur nanti,” tegansya.

Menurutnya, Dinas Perhubungan NTT belum bisa merealisasikan apa yang dijanjikan oleh Kepala UPTD Wilayah I Perhubungan Gusti Sigasare, terkait penderekan mobil travel liar yang diparkir sembunyi di kampung Nelayan Oesapa karena keterbatasan personal dan mobil derek.

“Benar Pak Gusti sudah menjanjikan untuk membasmi mobil travel liar yang diparkir sembunyi-sembunyi di rumah warga dan kos-kosan namun kami kekurangan data juga,” jelas Pius.

Menurutnya, salah satu kesulitan yang dihadapi adalah para travel liar itu sudah parkir di rumah warga dan kos-kosan namun pihaknya belum mengantongi data dari para RT terkait warga yang memiliki kendaraan sehingga hak untuk menderek travel liar masih lemah.

“Apalagi dinas tidak mendapati para driver sedang memuat penumpang dan itu melemahkan kami perhubungan. Jika kami tidak kantongi data dan salah derek akan bermasalah lagi bagi kami,” jelasnya.

Pihaknya tidak ingin berlawanan secara hukum dalam menertibkan para travel liar ini.

“Tetapi jika kami mendapati travel liar yang diparkir sembunyi-sembunyi dan memuat penumpang maka kami akan mendereknya karena dasar aturan kita jelas yakni travel harus berplat kuning dan terparkir di terminal bukan jalan raya,” ungkapnya.

Tugas utama Dinas Perhubungan Provinsi dan Kota Kupang saat ini yakni berupaya agar jalan Timor Raya Oesapa aman dari kemacetan.

“Setelah wilayah Oesapa aman dari kemacetan maka strategi untuk membasmi mobil travel liar akan diatur minggu berikut,” kata Pius.

Ia mengatakan bus AKDP biasanya masuk ke Terminal Oebobo dan setelah membayar retribusi mereka keluar lalu mangkal di Bimoku karena kalah saing dengan travel liar yang bergentayangan di rumah warga dan belum bisa tertangani oleh perhubungan. Bus AKDP tidak betah di Terminal Oebobo karena ketiadaan penumpang.

Sementara Kepala Dinas Perhubungan Kota Kupang Bernadimus Mere secara terpisah menegaskan agar pemilik atau sopor bus AKDP dan travel liar tidak parkir lagi di Oesapa karena itu bukan terminal.

“Jangan hanya karena urusan perut merugikan masyarakat dan kalau terjadi kecelakaan lalu lintas di terminal bayangan itu maka siapa yang tanggungjawab,” kata Bernadinus.

Terkait travel liar, Bernadinus katakan tanggungjawab kesehatan kendaraan yang mengangkut penumpang ada pada Dinas Perhubungan. Setiap bulan travel harus lakukan KIR dan tidak boleh parkir sembarangan.

“Bila perlu travel liar meniru parkiran di Bandara El Tari yang mobile dan menjamin kebersihan lokasi mangkal. Caranya buat pul resmi dan jauhkan kemacetan dari wajah Kota Kupang dengan perilaku driver yang kampungan dan membuat macet di mana-mana. Ini Kota Kupang bukan perkampungan yang disesaki dengan calo dan driver yang membuat macet di jalanan yang bukan terminal,” tegasnya. (bev/ol)