BKSDA Beri Penghargaan Bagi 10 Tokoh Peduli Konservasi

berbagi di:
img-20191115-wa0018

 

 

Stef Kosat

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT memberikam penghargaan sepuluh tokoh peduli konservasi alam NTT.

Penghargaan dari BBKSDA NTT kepada 10 orang diberikan dalam acara puncak festival Menipo tahun 2019, yang digelar di halaman Lippo Plaza Kupang, Kamis kemarin (14/11).

Sepuluh orang yang menerima penghargaan dari BBKSDA NTT dinilai mempunyai peran aktif dalam melakukan konservasi alam selama ini. Para penerima penghargaan tersebut berasal dari ragam latar belakang.

Para penerima penghargaan tersebut antara lain Fransiskus Sarong, Yovi Jehabut, Adriana Salomi Betty, Yesaya Talan, Suzana L. Rote, Peres Loe, David Mata, Tobias Teuf, Pendeta Mei Manimambi, dan Jefta Bilsol Boimau.

Penghargaan kepada Fransiskus Sarong diberikan atas kepeduliannya terhadap komunikasi publik konservasi melalui bidang jurnalistik di Provinsi NTT.

Untuk Yovi Jehabut diberikan atas dedikasinya dalam menyadarkan masyarakat terhadap wisata alam di Provinsi NTT. Sementara Adriana Salomi Betty sebagai Kepala Sekolah SD Negeri Fatufuah dinilai memberikan dedikasinya di bidang pendidikan konservasi anak usia dini di Amarasi Timur, Kabupaten Kupang.

Penghargaan untuk Yesaya Talan atas dedikasinya dalam upaya konservasi penyu dan lingkungan di Taman Wisata Alam Menipo. Sementara untuk Suzana L. Rote dan Peres Loe atas peran aktif mereka dalam Pramuka Saka Wanabakti di Provinsi NTT.

Penghargaan untuk David Mata diberikan atas kegigihannya dalam mengawasi peredaran TSL (Tumbuhan dan Satwa Liar) di Bandara El Tari Kupang, Provinsi NTT.

Sementara untuk Tobias Teuf selaku tokoh adat di desa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang dianugerahi penghargaan tersebut dalam melestarikan Taman Wisata Alam Menipo.

Penghargaan untuk Pendeta Mei Manimambi diberikan atas peran aktifnya dalam mengembangkan keluarga ekologis melalui peran agama di Taman Wisata Alam Menipo.

Sementara Jefta Bilsol Boimau menerima penghargaan tersebut atas dedikasinya menjaga kelestarian mangrove pada Cagar Alam Maubesi, Kabupaten Malaka, Provinsi NTT.

Mei Manimambi saat ditemui VN mengatakan menjaga lingkungan sudah menjadi bagian dari ajaran iman yang harus dilakukan. Hal itu sudah sejak lama dilakukan oleh Sinode GMIT dimana bulan November ditetapkan sebagai bulan lingkungan hidup.

“Itu (menjaga lingkungan) sudah menjadi bagian dari iman dan harus dilakukan”, ujar pendeta yang melayani di jemaat GMIT Ebenheser Bikoen ini.

Pihaknya sudah memprakarsai untuk melakukan pembersihan di Taman Wisata Alam Menipo beberapa waktu lalu. Ia mengatakan bahwa letak Menipo yang terpisah dari Pulau Timor harus di tempuh dengan perahu untuk sampai ke tempat tersebut.

Menurut Mei, saat ini rusa di Pulau Menipo kekurangan makanan dan pihaknya sudah merencanakan untuk menanam tanaman yang bisa jadi bahan makanan bagi rusa di Pulau Menipo.

“Sekarang ini rusa di sana (Menipo) kekurangan makanan. Kita rencana untuk menanam di awal musim hujan. Sekarang kan di sana belum hujan”, jelas Mei.

Mei mengtakan saat ini BBKSDA bekerja sama dengan Pemerintah membangun wisma desa untuk para wisatawan bisa menginap di sana. Wisma tersebut di bangun di desa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang.

“Di Menipo tidak bisa dilakukan pembangunan, sehingga semua dibangun di Desa Enoraen”, tandas Mei. (bev/ol)