BOP Labuan Bajo-Flores Akan Kuasi 400 Ha Lahan

berbagi di:
Direktur BOP Labuan Bajo-Flores, Shana Fatina

Direktur BOP Labuan Bajo-Flores, Shana Fatina

 

 

Gerasimos Satria
Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo – Flores mengklaim menguasai kurang lebih 400 hektar lahan di Labuan Bajo, Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) yang akan digunakan untuk mengembangkan pariwisata di wilayah itu.

Direktur BOP Labuan Bajo-Flores, Shana Fatina kepada wartawan Sabtu (7/5) menjelaskan lahan seluas 400 hektar itu akan dibagi menjadi dua bagian, yakni daerah otoritatif dan koordinatif. Konsep BOP Labuan Bajo-Flores itu akan menjadi BLU. Syarat untuk menjadi BLU adalah memiliki aset.

“Aset itu, kalau pengelolaan kawasan, berupa area yang akan dikelola. Nah, dari awal untuk masalah lokasi ini akan dijadikan kawasan pariwisata yang akan dikelola secara otoritatif. Konsepnya seperti Nusa Dua,” tutur Shana.

Menurutnya, BOP Labuan Bajo-Flores bukan bermaksud meNusaDuakan Labuan Bajo. Akan tetapi ada area yang diatur dan ditata. Semua itu dikelola sehingga semua uang yang berputar di seluruh dunia, masuknya ke Flores. Area yang dikuasai BOP Labuan Bajo akan dijadikan daerah destinasi wisata pula.

Shana mengaku area 400 hektar itu sebelumnya diusulkan Gubernur NTT sebelumnya Frans Lebu Raya saat awal rapat inisiasi lokasi yang dijadikan lahan otoritas. Sebenarnya lahan 400 hektar adalah milik negara.

“Kita dapatnya itu, ya kita kerjakan itu. Kalau ditanya apa yang dibangun, kita ngga mau bilang sekarang ditelainnya seperti apa, karena ada tahapannya. Kita akan melakukan visioning master plan. Untuk itu, kondisi ekologinya seperti apa,” ujar Shana.

Dia menambahkan BOP Labuan Bajo-Flores sangat beruntung mendapat 400 hektar lahan dari pemerintah pusat. BOP Labuan Bajo-Flores hanya boleh membangun pada 136 hektar lahan.

Sebelumnya, Kepala Desa Gorontalo,Kecamatan Komodo, Vinsen Obin, mengaku belum mengetahui 83 hektar lahan yang diklaim akan dikembangkan oleh BOP Labuan Bajo. Pihak BOP juga belum melakukan sosialisasi terkait hal tersebut.

Ia menegaskan, pihaknya sangat mendukung pembangunan pariwisata. Namun, pengembangan tersebut harus tetap melibatkan masyarakat.

“Kami belum tahu apa itu BOP, apa saja kerjanya, kami juga belum tahu. Jika lahan di Gorontalo didorong untuk kembangkan pariwisata, maka sangat penting harus dilakukan sosialisasi kepada masyarakat terlebih dahulu agar tidak jadi masalah kemudian hari,” kata Obin.

Obin mengatakan persoalan utama di Desa Gorontalo adalah sampah dan air bersih. Jika desa Gorontalo didorong untuk kembangkan pariwisata, dua masalah ini harus diselesaikan terlebih dahulu.

“Sangat disayangkan jika pengembangan pariwisata dilakukan di tengah sampah berserakan dan masyarakat mengalami kesulitan air,” ujarnya. (bev/ol)