BOS SMAN Kuanfatu “Diselimuti Kabut”

berbagi di:
kuanfatu

BAWA AIR: Para siswa SMAN Kuanfatu, Kabupaten TTS membawa air sendiri dari rumah ke sekolah. Tampak para siswa berdiri di samping air yang dibawa saat apel pagi. Gambar diabadikan kemarin. (Foto:Megi Fobia)

Megi Fobia

PENGGUNAAN dana BOS (biaya operasional sekolah) di SMAN Kuanfatu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) tampaknya diselimuti kabut tebal. Sejumlah item belanja mencurigakan dan diduga telah terjadi penggelembungan (mark up).
Untuk biaya listrik saja mencapai Rp153 juta lebih, padahal penggunaannya minim. Selain listrik, dalam laporan pertanggungjawaban tertera dana Rp200 juta untuk membeli air. Pada kenyataanya, siswa-siswi sekolah tersebut yang membawa air ke sekolah, dan bukan pengadaan dari Dana BOS.

Kejanggalan-kejanggalan tersebut akhirnya sampai ke telinga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi NTT. “Rencananya hari Sabtu (1 Agustus 2020) tim kami akan datangi sekolah tersebut. Kedatangan tim untuk mendegar secara langsung informasi itu, karena kita tidak sepihak dengar informasi,” kata Kadis Dikbud NTT Benyamin Lola, Senin (27/7).

Kedatangan tim dari Dinas Dikbud itu, kata Benyamin, bukan untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan dana BOS di sekolah tersebut, melainkan untuk merespon keluhan yang masuk. “Maka harus turun ke lapangan sehingga mendengar dari kedua belah pihak,” ucapnya.

Menurut Benyamin, ada berbagai metode yang akan ditempuh oleh dinas terkait dengan pengaduan dugaan penyalahgunaan dana BOS tersebut.

“Nanti hasil dari tim ke sekolah itu baru disampaikan. Yang jelas bukan semata untuk pemeriksaan tetapi ada berbagai cara yang ditempuh nanti,” jelasnya.

Informasi dari sejumlah guru honor yang tidak mau disebutkan namanya, menyebutkan, salah satu kejanggalan dalam penggunaan dana BOS adalah biaya listrik yang mana pada Triwulan I mencapai Rp 83.443.000, Triwulan II Rp 153.079.000, Triwulan III Rp 19.106.000 dan Triwulan IV Rp 96.442.000.

Menurut para guru honor, pemakaian komputer sekolah tidak berjalan normal sehingga memakan biaya listrik sebesar itu. Selain itu, sekolah tersebut tidak langganan air PDAM atau menggunakan pompa air yang membutuhka energi listrik. Karena itu, mereka mempertanyakan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk membayar listrik tersebut.
“Makanya kami mengadu ke Dinas Dikbud Provinsi,” ujar seorang guru honor, dibenarkan yang lainnya.

Selain kejanggalan soal listrik, dalam laporan pertanggungjawaban tertera dana Rp200 juta untuk membeli air. Pada kenyataanya, siswa-siswi sekolah tersebut yang membawa air ke sekolah, dan bukan pengadaan dari dana BOS.
Kepala SMAN Kuanfatu, Jonas Tana mengatakan, secara teknis pertanggungjawaban penggunaan dana BOS oleh bendahara dana BOS Vera Bahan. Ia membenarkan pula bahwa terkadang siswa-siswi sekolah membawa air untuk kebutuhan sekolah. Namun, pihak sekolah juga membeli air dengan harga Rp2.000/jerigen.

“Teknisnya ada di bendahara, tapi sangat mustahil kalau pengunaan dana untuk listrik mencapai Rp150-an juta. Sebab, setiap tiga bulan harus gunakan Rp 505.000 untuk listrik,” ujarnya.

Bendahara BOS SMAN Kuanfatu Vera Bahan yang dikonfirmasi melalui sambungan telepon, menolak berkomentar. (D-1/ol)