BPJamsostek NTT Lindungi 6.000 lebih Guru di Kabupaten TTS

berbagi di:
img-20201126-wa0001

 

 

 

 

BPJamsostek NTT memberikan sosialisasi kepada Guru Sekolah se Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Rabu (25/11).

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Blessing Hotel TTS yang dihadiri oleh staff ahli Dr. Hosiani In Rantau, Kepala Bidang HI dan Pengawasan Tenagakerja Haba Selan dan Beny Boru, Kasie Hubungan Industrial Dinas Tenaga Kerja TTS serta perwakilan guru.

Dalam acara bertajuk Sosialisasi Manfaat Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Kepada Guru Sekolah Kabupaten TTS itu, Dr Hosiani In Rantau menyampaikan rasa terima kasih kepada BP Jamsostek yang telah menjelasan manfaat program BP Jamsostek, terutama perlindungan bagi para pekerja, baik guru, pedagang dan pekerjaan lainnya.

“Dalam dunia kerja sekecil apapun risiko pasti ada, hanya kita harus mempersiapkan diri untuk meminimalisir risiko tersebut, ” ungkapnya.

Kepala Bidang Kepesertaan BPJamsostek NTT, Anita Riza Chaerani memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten TTS yang telah peduli melindungi pekerjanya khususnya perlindungan kepada 6.000 lebih guru di TTS.

Manfaat yang akan diterima setiap peserta BP Jamsostek sesuai amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 yang dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian.

Program Jaminan Kecelakaan Kerja yang biasa disebut JKK memberikan perlindungan atas risiko-risiko kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja. Risiko kecelakaan kerja yang dimaksud termasuk kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan pergi, pulang dan di tempat kerja serta perjalanan dinas, serta penyakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja.

Biaya perawatan dan pengobatan karena kecelakaan kerja ditanggung tanpa batas, sesuai kebutuhan medis. Perawatan dan pengobatan yang dimaksud adalah berupa penanganan, termasuk komorbiditas dan komplikasi yang berhubungan dengan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja antara lain: pemeriksaan dasar dan penunjang; perawatan tingkat pertama dan lanjutan; rawat inap dengan kelas ruang perawatan yang setara dengan kelas I rumah sakit pemerintah; perawatan intensif (HCU, ICCU, ICU); penunjang diagnostik; pengobatan dengan obat generik (diutamakan) dan/atau obat bermerk (paten); alat kesehatan dan implant; jasa dokter/medis; operasi; transfusi darah (pelayanan darah); dan rehabilitasi medik.

Selain itu, tenaga kerja akan mendapatkan santunan uang berupa seperti penggantian biaya pengangkutan peserta yang mengalami kecelakaan kerja/penyakit akibat kerja, ke rumah sakit dan/atau ke rumahnya, termasuk biaya pertolongan pertama pada kecelakaan; Untuk angkutan darat/sungai/danau diganti maksimal Rp5.000.000,- (lima juta rupiah), angkutan laut diganti maksimal Rp2.000.000 (dua juta rupiah) dan angkutan udara diganti maksimal Rp10.000.000 (sepuluh juta rupiah).

Selama tenaga kerja tidak mampu bekerja diberikan santunan STMB (Sementara Tidak Mampu Bekerja). Santunan ini akan diberikan kepada tenaga kerja sebagai pengganti upah yang diberikan selama tidak mampu bekerja sampai tenaga kerja sembuh atau cacat sebagian anatomis atau cacat sebagian fungsi atau cacat total tetap atau meninggal dunia berdasarkan surat keterangan dokter yang merawat dan/atau dokter penasehat. Santunan STMB diberikan 100% untuk 12 bulan pertama, dan kemudian bulan ketiga seterusnya sebesar 50% dari upah.

Masih banyak lagi santunan dalam program JKK. Dalam hal kecelakaan kerja bisa menyebabkan cacat fungsi atapun cacat anatomis, santunan cacat akan dibayarkan sesuai jenis dan besar persentase kecacatan yang dinyatakan oleh dokter yang merawat atau dokter penasehat yang ditunjuk oleh Kementerian Ketenagakerjaan RI setelah peserta selesai menjalani perawatan dan pengobatan. Tabel kecacatan diatur dalam Lampiran III Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian.

Santunan Kematian bukan karena Kecelakaan Kerja berupa manfaat uang tunai yang diberikan kepada ahli waris ketika peserta meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja. Total manfaat diterima sebesar Rp 42 juta dengan rincian: santunan kematian sebesar Rp 20 juta ditambah santunan berkala 24 bulan sebesar Rp12 juta yang dibayar sekaligus dan biaya pemakaman sebesar Rp10 juta.

Disamping itu, BP Jamsostek memberikan beasiswa kepada anak bagi peserta yang meninggal dunia bukan akibat Kecelakaan Kerja dan yang telah memiliki masa iur paling singkat 3 tahun. Besaran beasiswa bisa mencapai Rp 174 juta.

Kepala BP Jamsostek NTT Armada Kaban menyampaikan kesiapan jajarannya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Ia berharap kepedulian semua Pemerintah Daerah melindungi aparaturnya dalam Program BPJS Ketenagakerjaan.

“Semua pekerjaan memiliki risiko, risiko hanyalah faktor waktu, kapan dan dimana kita berada, kita tidak tahu,” tambahnya. (bev/ol)